Ustad Ahmad Hariyono Ong Takmir Masjid Cheng Hoo Surabaya Mendirikan TPQ Dengan 50 Santri Belajar Al Qur’an

0 1,124

Tidaklah sulit mencari Ustad Ahmad Hariyono Ong yang keseharian menjadi ketua Takmir Masjid Cheng Hoo Surabaya. Maklum, lelaki kelahiran Malang 45 tahun lalu menjadi jujugan konsultasi para jamaah. Ahmad Hariyono Ong yang mengabdi di Masjid Cheng Hoo sejak 2005, dua tahun kemudian diangkat menjadi ketua takmir.

Haryono Ong dipercaya mengurusi Masjid Cheng Hoo menggelar sholat wajib lima waktu dan mengatur jadwal kegiatan ceramah secara bergilir para ulama mengisi pengajian di masjid bergaya bangunan di Tiongkok tersebut. Selain itu Hariyono Ong mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya.

Namun di sela kesibukannya, Hariyono Ong masih menyempatkan membuka Taman Pendidikan Al Quran Roudlotul Bayan di kediamannya dengan 50 santri yang belajar setiap hari mulai pukul 03.30 hingga 17.00 WIB untuk usia 5 hingga 15 tahun. Sedangkan para ibu jadwal mengaji malam hari. “TPQ Roudlotul Bayan sudah 8 tahun berjalan, kini saya hanya memantau ada beberapa ustad yang mengajar di sana,” tutur ayah tiga anak yang pernah mondok di Pondok Pesantren di Batu tiga tahun, lalu di Ponpes Gontor Ponorogo juga tiga tahun.

Menurut Hariyono Ong mengajar Al Qur’an untuk anak-anak sangatlah mudah dan cepat, dibanding para lansia. “Kalau mengajar orang dewasa harus terus diingatkan dan dibiasakan, karena membaca Al Qur an tidak mudah. Selain itu mereka harus mengingat huruf-huruf dan cara membacanya,” jelas jebolan Madrasah Aliyah Negri setingkat SMA di Batu. Hariyono semasa kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya juga mengabdi di Ponpes Jabal Nur Sidoarjo.

Pada 2008, Hariyono Ong berkesempatan mengunjungi Tiongkok melakukan silaturrahmi ke beberapa pengurus Masjid dan Islamic Center selama sembilan hari. “Muslim di Tiongkok sangat ramah dan terbuka. Mereka juga menjalankan ibadah dan menjalani kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan muslim di negara kita. Kita saling berdiskusi dan sangat menyenangkan,” imbuh Hariyono yang menginjakkan kaki di kampung halaman Cheng Hoo, makam Saad Bin Abi Waqas salah satu sahabat nabi, Islamic Center dan ke Masjid Niu Jie.

Masjid Niu Jie lah yang mengilhami bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya. Masjid Niu Jie mulai dibangun pada tahun 999 berdaya tampung 1000 jamaah. Niu Jie adalah masjid tertua di Kota Beijing dan sebagai daerah yang dihuni warga muslim terbanyak yakni hampir hampir 10.000 orang. Masjid Niu Jie bangunannya dari kayu, perpaduan Islam dan Tiongkok dengan ruang utama untuk sholat seluas 600 meter persegi.

“Masjid Niu Jie itu sangat artistik dan terjaga hingga kini,” puji Hariyono Ong yang menginformasikan kegiatan di Masjid Cheng Hoo pada bulan Ramadhan adalah pengajian pada Sabtu sore menjelang berbuka puasa, kuliah subuh pada hari Minggu diakhiri sahur bersama. Sholat tengah malam diadakan malam ganjil Ramadhan pada pukul 2 pagi dilanjutkan sahur bersama jamaah. Kegiatan selain di bulan Ramadhan adalah pengajian Minggu pagi pukul 7. Hariyono Ong pun berpesan agar masyarakat Surabaya yang berbeda suku dan agama tetap menjaga tali silaturrahmi,  saling menjaga, tolong menolong dalam hal kebaikan. (Avr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.