Tjoe Tik Kiong Kelenteng Tertua Di Pasuruan Gelar Ritual Kirab Safari Dengan Bus Pertama Kalinya Di Jatim

0 663

Pasuruan berada 60 km sebelah tenggara dari Surabaya, merupakan kota pelabuhan kuno yang ramai sebagai penghubung antara pulau dan negara. Pada jaman Kerajaan Airlangga, Pasuruan terkenal dengan sebutan Paravan. Tak mengherankan pula kala itu banyak saudagar kaya tinggal di Pasuruan dari berbagai etnis temasuk masyarakat Tionghoa, terbukti dengan keberadaan tempat ibadah Tjoe Tik Kiong.

Kelenteng Tjoe Tik Kiong letaknya dekat dengan pelabuhan dibangun pada abad 17 M, memiliki kimsin yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Salah satu pengelana dari Perancis pernah datang ke Pasuruan dan menginformasikan dalam catatannya bahwa masyarakat Tionghoa yang tinggal saat itu hampir sepertiga jumlah penduduk.

Warga Tionghoa hidup berkelompok-kelompok dalam kampung Pecinan, karena aturan UU Hindia Belanda. Sejak UU Hinda Belanda melonggar, masyarakat Tionghoa mulai keluar dari Pecinan dan membangun rumah dengan membaur bersama warga Pasuruan lainnya.

Keberadaan Kelenteng Tjoe Tik Kiong yang terjaga hingga saat ini menjadi salah satu tujuan wisata dan kebanggaan masyarakat Pasuruan. Banyak kegiatan menarik yang digelar pengurus TITD Tjoe Tik Kiong yang diketuai Agus Sugiarto. Seperti pagelaran wayang potehi dengan lakon yang mendidik, pertunjukkan barongsai dan liang liong saat perayaan Imlek tiba. Pengurus juga menggelar bakti sosial pengobatan gratis dan membagi sembako.

Pada  8 – 10 Mei kemarin, Kelenteng Tjoe Tik Kiong menggelar ritual kirab safari tiga kota. Start dari Kelenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan menuju Kelenteng Hong San Kiong Mojokerto diteruskan ke Tjoe Tik Kiong Tulungagung dan kembali lagi ke Kelenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan. Ritual kirab safari diikuti 18 kelenteng termasuk 3 dari Jobodetabek dalam rangka menyambut HUT Kelenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan sekaligus HUT Makco Thian Sang Shen Mu ke 1085.

Go Sek Kian Ketua PTITD Komda Jatim mengatakan kirab safari sebagai solusi bagi kelenteng daerah yang lokasinya sempit tapi tetap dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan seni budaya ritual. “Kirab keliling kelenteng dengan mengendarai bus baru pertama kalinya diselenggarakan di Jatim, semoga menjadi pioner bagi kelenteng lainnya,” harapnya.

Malam kesenian budaya juga digelar pihak panitia HUT dan dihadiri Walikota Pasuruan Setiyono yang mengharapkan kegiatan seni budaya semakin mempererat tali persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu mampu menghadirkan investor untuk memajukan Kota Pasuruan.

Pada keesokan hari acara pelepasan kimsin pulang ke daerah masing-masing dilakukan oleh Wawali Pasurua Raharto Teno Prasetyo.  “Acara ini sangat menarik selain dapat mempersatukan antar warga juga menyedot wisatawan untuk datang menyaksikan dan Pasuruan semakin maju berkembang,” ujarnya. (Av)

Leave A Reply

Your email address will not be published.