Pendiri Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (APPI) Jonatan Handojo mengatakan, saat ini bahan baku dan teknologi baterai, termasuk untuk mobil listrik yang dikendalikan oleh China. Salah satunya adalah nikel yang merupakan bahan baku baterai untuk kendaraan.“Materi ini dikontrol oleh China, inilah masalahnya. JIka kita ingin membuat baterai kita sendiri, mencari bahan baku nikel harus 100 persen murni, harus membeli dari China,” katanya di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) , Jakarta, Rabu (30/5).Dia mengungkapkan, sebenarnya sumber daya nikel Indonesia cukup berlimpah. Namun sayangnya, Indonesia belum menguasai perkembangan teknologi baterai berbasis nikel.“Meski kita punyanya Vale. Itu barang dari Sulawesi Tengah dikirim ke Jepang, kadar nikelnya 78 persen. Di Jepang diolah, nikelnya tidak diambil, tapi komponen lain yang lebih mahal, namanya mineral tanah jarang. Nikelnya dikirim ke China, dimurnikan untuk menjadi 100 persen. Karena dia punya limbah bukan B3, tapi B12, lebih pekat racunnya. Jadi nikel 100 persennya bisa beli dari China,” jelasnya.Selain nikel, bahan baku baterai lainnya seperti kobalt dan lithium juga dikendalikan oleh China. Dengan posisi ini, semakin sulit bagi Indonesia untuk memproduksi baterai sendiri untuk mobil listrik di dalam negeri.“Cobalt, bukan di Indonesia, di Afrika Barat Semua kobalt di Afrika Barat telah dipesan oleh China, sekarang lithium sekarang semuanya dipesan di China, Semua China, sehingga Cina telah menjadi produsen produk baterai yang luar biasa baik lithium maupun nikel,” dia kata.Jonatan mengatakan bahwa pihaknya telah melaporkan hal ini kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Agar program pengembangan mobil listrik masih bisa berjalan efisien, maka Indonesia harus mengundang produsen baterai Cina untuk membangun pabrik di dalam negeri.“Instruksi menteri, mengambil pabrik Cina untuk membangun di Indonesia, kerjasama dengan sektor swasta di sini untuk membuat baterai di Indonesia, karena bahan baku dan teknologi telah dikendalikan oleh China. Kami ingin bersahabat dengan China. Di sini, kami membeli untuk membantu perakitan mobil listrik di sini. Kami tidak bisa menjadi produsen baterai keseluruhan, “katanya.