Ekspor Indonesia meningkat 9,01 persen menjadi US$14,47 miliar pada bulan April dibandingkan tahun lalu didukung oleh pengiriman non-minyak dan gas ke luar negeri, biro statistik nasional mengumumkan pada Selasa (15/5).
Ekspor Indonesia meningkat 9,01 persen menjadi US$14,47 miliar pada bulan April dibandingkan tahun lalu didukung oleh pengiriman non-minyak dan gas ke luar negeri, biro statistik nasional mengumumkan pada Selasa (15/5).
Ekspor non-migas di bulan April menyentuh pertumbuhan tahunan 8,55 persen, kata kepala biro itu, Kecuk Suhariyanto.
Kumulatif ekspor Indonesia dalam empat bulan pertama membukukan pertumbuhan 8,77 persen menjadi 58,74 miliar dolar AS dari tahun lalu, katanya.
Pertumbuhan tahunan ekspor non-migas dari Januari hingga April menyentuh 9,27 persen menjadi 53,50 miliar dolar AS, Suhariyanto mengatakan.
China, diikuti oleh Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa adalah konsumen terbesar produk Indonesia pada bulan April.
Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, adalah eksportir dan produsen minyak mentah dan batu bara mentah terbesar di dunia, dan eksportir karet dan kakao terbesar di dunia, serta rumah bagi tambang tembaga terbesar kedua di dunia.
Sementara itu, impor negara itu tumbuh 34,68 persen menjadi 16,09 miliar dolar AS pada bulan April dari tahun sebelumnya, yang menyebabkan perdagangan defisit 1,62 miliar dolar AS pada bulan April, dibandingkan dengan surplus yang direvisi sebesar 1,12 miliar dolar AS pada bulan Maret.
Impor non-minyak dan gas juga meningkat 33,69 persen menjadi 13,77 miliar dolar AS pada bulan April secara tahunan.
Impor mesin dan perangkat listrik membukukan porsi terbesar pada bulan April dengan total nilai 315,3 juta dolar AS.
Impor bahan baku dan barang modal naik 21,86 persen dan 31,04 persen dari Januari hingga April dengan pengiriman barang konsumsi naik 26,09 persen.
China, diikuti oleh Jepang, Thailand dan Uni Eropa adalah pemasok terbesar produk non-minyak dan gas impor ke Indonesia dalam empat bulan pertama 2018, menurut Suhariyanto.