Bakti Budaya Djarum Foundation Pentaskan Monolog Cut Nyak Dhien Di Sepuluh Kota
Nama besar Cut Nyak Dhien tidak asing bagi para pelajar karena sejak duduk di bangku sekolah dasar telah diperkenalkan sebagai perempuan pejuang perkasa asal Nangroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah. Kisah hidup Cut Nyak Dhien pun diangkat dalam layar lebar agar masyarakat semakin mengetahui perjuangan dan sosoknya.
Bakti Budaya Djarum Foundation mementaskan monolog Cut Nyak Dhien ditulis dan diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Kegiatan tersebut diselenggarakan dari 27 April 2018 di Gianyar Bali kemudian Mei di Makassar, Solo dan Surabaya. Pada Juni mendatang di Kudus, berlanjut pada Juli di Tasikmalaya dan Bandung. Pada akhir Agustus di Medan dan September di Padang Panjang.
Pertunjukkan seni merupakan media paling efektif untuk menyuarakan, mempresentasikan dan menyampaikan sebuah opini. Semakin baik apresiasi masyarakat terhadap seni maka semakin maju peradaban sebuah bangsa. Sha Ine Febriyanti seorang pekerja seni, aktris, teater, film dan sutradara Indonesia menggarap kisah Cut Nyak Dhien ke dalam teater monolog pada 2014 hingga 2015.
Cut Nyak Dhien seorang pejuang, istri dan ibu. Perjuangan Cut Nyak Dhien melalui sejarah memberi inspirasi bagi Ine Febriyanti. “Saya tergerak memperkenalkan cerita beliau kepada khalayak ramai. Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan tiada henti,” jelas Ine.
Sebagai seorang istri, Cut Nyak Dhien sempat goyah tatkala suaminya Ibrahim Lamnga gugur di medan laga. Cut Nyak Dhien menikah lagi dengan Teuku Umar dan kembali ditinggal selamanya oleh sang suami yang tertembak di pinggiran Kota Meulaboh. Cut Nyak Dhien harus tetap tegar di depan anaknya yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinanya.
Perjuangan Cut Nyak Dhien dengan pasukan kecilnya harus berakhir karena ditangkap atas laporan Pang Laot salah satu pasukannya. Cut Nyak Dhien yang tua dan rabun dibawa ke Banda Aceh namun semakin membuat rakyat membara melawan penjajah. Akhirnya Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga meninggal 1908.
Selain menggelar pementasan monolog Cut Nyak Dhien juga diadakan workshop untuk generasi muda yang memiliki bakat dan minat terhadap seni teater khususnya monolog namun terkendala akses dan informasi seputar pementasan. Para peserta diberikan edukasi mengenai seni peran dan kreasi khususnya teater monolog. Berbagi semangat, inspirasi, peluang dan persiapan yang harus dimiliki oleh seorang pelakon seni khususnya dalam berteater sehingga menumbuhkan bibit-bibit baru.
Sukatno Kepala UPT Taman Budaya Jatim memberi apresiasi pementasan monolog Cut Nyak Dhien yang disaksikan ratusan mahasiswa, dosen Untag Surabaya, seniman ludruk dan pecinta seni (29/5). “Surabaya baru saja terjadi tragedi bom, semoga dengan pementasi monolog Cut Nyak Dhien yang dibawakan secara apik oleh Ine Febriyanti semakin meneguhkan patriotrisme dan nasionalisme menjaga persatuan dan kesatuan,” harapnya.
CSR PT. Djarum memiliki 5 bakti yakni Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan dan Bakti Budaya sebagai bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik. Bakti Budaya Djarum Foundation sejak 1992 konsisten melestarikan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan dan mendukung insan budaya lebih dari 3 ribu kegiatan budaya. (Avr)







