The news is by your side.

Two-Child Policy: Antara Ekonomi dan Kebahagiaan

0 27

Pemerintah China telah mengaplikasikan sebuah kebijakan untuk membatasi ledakan pertumbuhan penduduk sejak tahun 1980-an, disebut One-Child Policy. Selama lebih dari 3 dekade, masyarakat China hidup di dalam kehidupan masyarakat tanpa saudara kandung.

Kurang lebih 2 tahun lalu, kebijakan itu dicabut dan keluarga diperbolehkan memiliki lebih lebih dari satu anak. Namun, kebijakan ini pun menuai berbagai kontroversi.

Baca juga: Kontroversi terhadap Two-Child Policy di China

Dalam beberapa waktu terakhir ini, pembahasan tentang kebijakan ini menjadi perhatian publik, khususnya di media sosial.

Poster propaganda pada tahun 1950 untuk mempromosikan keluarga dengan banyak anak.

Banyak artikel menyebutkan alasan dibuatnya kebijakan baru ini karena alasan perekonomian negara. Namun, yang dirasakan hilang adalah adanya pengalaman masa kecil pemuda dan pemudi di China saat ini yang hidup di dalam keluarga yang hanya memiliki satu anak.

Sejak Republik Rakyat Tiongkok berdiri, perencanaan populasi penduduk diatur sedemikian rupa untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Pada masa Mao, kebijakan dan propaganda mendorong masyarakat untuk memiliki lebih banyak anak. Namun, ketika over-populasi membayang-bayangi negara, One Child Policy yang ketat dijalankan.

Bisa dikatakan, selama 30an tahun implementasi, One Child Policy menjadi eksperimen terbesar dalam rekayasa sosial di dunia. Pemerintah mengklaim kebijakan ini telah mencegah hingga 400 kelahiran. Namun ketika dihadapkan dengan populasi penduduk yang menua dengan cepat serta angkatan kerja yang menyusut untuk mendukungnya, pemerintah melakukan gerakan cepat untuk mendorong keluarga mempunya lebih banyak anak.

Seperti yang telah dibahas di artikel sebelumnya, keinginan generasi muda China untuk memiliki lebih banyak anak terhambat karena faktor tingginya biaya hidup, tekanan kerja yang membuat stres, biaya merawat anak, dan biaya merawat orang tua. Bahkan, dalam diri sebagian besar generasi muda, mereka menganggap anak tunggal di dalam sebuah keluarga adalah hal yang baik dan menyenangkan. Jadi, untuk apa harus memiliki anak lagi?

Untuk melihat dan memahami bagaimana generasi One Child ini memandang keluarga dan orang tua, kita harus mendengar secara langsung bagaimana kehidupan masa kecil seorang anak yang sejak kelahirannya sudah berada di dalam kebijakan ini.

Saya lahir di Beijing pada tahun 1980an. Saya adalah anak tunggal dari orang tua yang juga anak tunggal. Saya memiliki kehidupan yang menyenangkan dan masa kecil saya dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah. Saya (bahkan) tidak pernah berpikir bahwa setiap keluarga hanya memilki seorang anak itu adalah hal yang aneh.

Foto penulis (melalui izin penulis)

Saya mengenal konsep saudara kandung melalui cerita dan kartun, namun itu hanya ada dalam fantasi yang secara otomatis terhapus dari realita kehidupan saya. Bagi anak yang sudah dewasa sebelum waktunya mungkin akan bertanya-tanya kenapa begitu banyak cerita anak-anak tentang kakak-adik sedangkan saya tidak memilikinya. Namun, saya bukanlah anak yang secerdas itu. Lagipula, semua teman-teman saya tidak pernah merengek-rengek orang tuanya agar memberikannya saudara. Jadi, saya tidak merasa adalah hal yang hilang dari kehidupan saya.

Ketika berumur 10 tahun, keluarga saya pindah ke Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya saya melihat anak kecil seusia saya yang memilki kakak atau adik. Selama beberapa tahun, akhirnya saya belajar banyak tentang kebahagiaan memiliki saudara. 

Saya tidak mampu membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama saudara kandung. Hal yang saya tahu, itu akan mengubahkan seluruh kehidupan saya. Suami saya punya adik perempuan dan mereka sangat dekat.

Saya tidak pernah merasa bahwa hidup saya kurang lebih tanpa adanya saudara kandung. 

Ini adalah kondisi mental yang dimiliki oleh banyak rekan saya di China, dan itu membuat mereka tidak memiliki keterlibatan emosional yang kuat dengan gagasan memilki lebih dari satu anak. Sekalipun terasa wajar bagi kebanyakan orang-orang di sebagian besar negara untuk memiliki lebih dari satu anak, namun rasanya wajar juga untuk generasi One Child untuk memiliki satu anak saja. 

Hal yang menakutkan dari One Child Policy adalah bahwa sebuah generasi selama 30 tahun kehilangan kontak dengan sesuatu yang normal (memiliki saudara) yang seharusnya ada di dalam keluarga.

Kebijakan, insentif dan hukuman dapat dilakukan sampai di titik tertentu, namun membutuhkan bertahun-tahun untuk bisa menormalisasi Kebijakan Satu Anak di dalam hati dan pikiran masyarakat China.

Cerita kuno tentang penggembala kakak beradik (cerita yang dibaca oleh penulis masa kecil)

What is normal and common for people in other countries is a great and terrifying unknown for couples in China.

Apa yang dbutuhkan saat ini adalah untuk diyakinkan bahwa bertambahnya jumlah anak-anak mereka bukan hanya memperbesar beban ekonomi saja, tetapi ada kebahagiaan tak terhitung yang mereka bisa dapatkan juga.

Artikel diambil dari Whatsonweibo.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.