The news is by your side.

Kontroversi terhadap Two-Child Policy di China

0 20

Di dalam artikel yang baru-baru ini terbit di China, telah menjadi perdebatan di media sosial. Artikel ini ditulis oleh 2 orang akademisi yang mengajukan kebijakan pemungutan pajak bagi warga China berumur di bawah 40 tahun yang tidak memiliki anak kedua.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Xinhua Daily (sebuah koran yang dipimpin oleh PKC cabang Jiangsu pada 14 Agustus lalu. Liu Zhibiao dan Zhang Ye adalah dua akademisi yang mengajukan kebijakan kontroversial ini.

Mereka berdua mengajukan ‘Maternity Fund System’ (生育基金制度) untuk mengatasi permasalahan demografi di China saat ini.

Di dalam artikel tersebut, Liu dan Zhang menulis:

“Jika keluarga memiliki anak lebih dari satu, mereka bisa menarik ‘maternity fund’ dan menerima subsidi yang akan mengkompensasi ketika ibu kehilangan penghasilan (jangka pendek) maupun kesulitan lainnya dalam keluarga. Jika warga tidak memiliki anak lebih dari satu, deposit uang akan tetap berada di akun bank dan bisa diambil jika sudah pensiun. Maternity Fund ini mengadopsi dari sistem Pay-as-you-go, di mana deposit dan uang yang belum diambil oleh pemilik dapat digunakan oleh pemerintah untuk menyediakan subsidi bagi keluarga yang lain. Jika masih belum cukup, pemerintah yang akan memberikan subsidi tersebut.”

Kontroversi ini disebut sebagai kontroversi kedua. Sebelumnya, pada tanggal 6 Agustus, People’s Daily, media resmi PKC telah mempublikasikan artikel dengan judul ‘Having a Baby is a Family Matter and also a State Affair’ (生娃是家事也是国事).

Artikel ini mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, terutama wanita. Bahkan mereka seseorang mengatakan: “Mereka tidak memperlakukan kami seperti manusia dan wanita, mereka memperlakukan kami seperti sumber kesuburan.”

Dengan melihat keadaan sekarang, pemerintah China sedang mengalami permasalahan demografi, dimana total kelahiran pada tahun 2017 sekitar 17,23 juta (turun 630.000 dari tahun sebelumnya).

Sebelumnya, sistem yang diajukan yakni menurunkan usia minimal pernikahan di China. Hal ini juga menjadi kontroversial karena bukannya membuat anak muda memiliki kemauan untuk menikah, mereka justru tidak mau menikah dan memiliki anak.

Pemerintah sekarang telah menggunakan Two-Child Policy (全面二孩) di China sebagai standart nasional. Kebijakan ini pada faktanya tidak memberikan efek yang baik.

Warganet memberikan respon yang beragam. Salah satu komentar yang paling banyak menarik pembahasan, yakni: “Beberapa waktu yang lalu, orang-orang harus menggugurkan anak keduanya. Sekarang orang-orang itu harus membayar pajak untuk anak kedua yang mereka tidak punya. Apa lagi setelah ini?”

Foto di atas memperlihatkan foto aborsi Feng Jianmei yang membuat gempar dunia media sosial pada tahun 2012. Saat itu, Feng sedang hamil 7 bulan anak keduanya. Sesuai dengan kebijakan One-Child Policy, Feng dan suaminya harus membayar 40.000 Yuan (Rp 84.000.000) untuk kelahiran anak keduanya. Namun, karena kondisi ekonomi, mereka tidak mampu membayar dan harus menjalani aborsi agar tidak membayar biaya tersebut.

Sebuah artikel yang dipublikasikan di CCTV, penulis mengatakan bahwa artikel tentang paja bagi anak kedua ini tidak masuk akal. Kebijakan ini hanya akan memberikan efek merugikan bagi kemauan anak muda untuk memiliki anak kedua.

Di sisi yang lain, permasalahan demografi di China saat ini dikarenakan biaya untuk membesarkan seorang anak, didukung juga dengan faktor perubahan masyakarat China dan partisipasi wanita dalam dunia kerja.

Sina News juga memberikan tanggapan terhadap rancangan kebijakan ini. Jika benar-benar diimplementasikan, kebijakan ini akan memberi beban finansial bagi anak muda di China.

Rata-rata biaya untuk membesarkan anak dari kelahiran hingga usia 18 tahun sekitar 2,76 juta yuan (6,3 milyar) di kota seperti Beijing, hal ini tentu terlalu berat bagi beberapa orang. Penghargaan dan subsidi dari pemerintah tidak banyak membantu jika dibandingkan dengan biaya aktualnya.

Dengan keharusan membayar pajak tambahan dengan kehidupan yang sudah mahal mungkin hanya akan mendorong pasangan justru melangkah ke arah yang berbanding terbalik dengan tujuan kebijakan tersebut.

Banyak orang juga telah menuduh bahwa setelah ini akan muncul kebijakan baru, yaitu Three-Child Policy.

Sumber: What’s on Weibo

Leave A Reply

Your email address will not be published.