The news is by your side.

Tonton Televisi Tingkatkan Risiko Kanker Usus

20

Laki-laki yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari perlu lebih hati-hati. Sebab, mereka lebih berisiko menderita kanker usus.

Masalahnya, saat ada waktu luang, sebagian orang mungkin memilih untuk bersantai di rumah sambil menonton berbagai tayangan favorit di televisi, mulai dari berita, acara gosip, reality show, sampai film. Biasanya, kudapan dan minuman kesukaan pun disiapkan untuk menemani waktu menonton.

Meski menyenangkan bisa melihat aneka tayangan menghibur, berhati-hatilah. Karena berlama-lama menonton televisi meningkatkan risiko terkena kanker usus, terutama pada kaum Adam.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di British Journal of Cancer menemukan bahwa pria yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus, dibandingkan dengan mereka yang menonton kurang dari satu jam.

Penelitian ini telah dilakukan pada lebih dari 430.000 laki-laki dan perempuan antara tahun 2006 dan 2010 untuk menganalisis kemungkinan hubungan antara perilaku kurang aktif bergerak (sedentary lifestyle) dan risiko pengembangan kanker usus.

Hasilnya ditemukan bahwa perilaku tanpa aktivitas, seperti menonton televisi dan penggunaan komputer yang berlebihan, dikaitkan dengan 35 persen peningkatan risiko pengembangan kanker usus pada laki-laki. Namun, dalam penelitian ini, perempuan tidak ikut berisiko.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa menonton televisi mungkin terkait dengan perilaku lain, seperti merokok, minum dan mengudap lebih banyak, dan kita tahu bahwa hal-hal ini dapat meningkatkan risiko kanker usus besar,” jelas penulis utama penelitian, Dr. Neil Murphy dari Badan Internasional untuk Penelitian pada Kanker (IARC) di Prancis.

Neil mengatakan jika seseorang menonton televisi dalam waktu lama dan tidak berpindah-pindah atau bergerak juga sering dikaitkan dengan penambahan berat badan dan jumlah lemak tubuh lebih tinggi yang dapat meningkatkan risiko kanker usus.

Sementara itu, Paul Firaun, profesor epidemiologi kanker di University of Cambridge, mengatakan bahwa penelitian ini tidak menunjukkan bahwa menonton televisi dapat meningkatkan risiko kanker usus, tetapi lebih kepada waktu yang dihabiskan.

Profesor Linda Bauld, pakar pencegahan Cancer Research UK, juga mengatakan bahwa saat menonton televisi, orang tidak bisa mengontrol apa yang ingin dilihat termasuk iklan junk food.

“Ada bukti bahwa paparan yang lebih besar terhadap iklan junk food meningkatkan kemungkinan makan lebih banyak, yang juga akan meningkatkan peluang Anda untuk mengalami kelebihan berat badan,” jelas Linda.

Linda juga mengatakan bahwa penelitian ini menarik karena hanya pria yang memiliki risiko kanker, tetapi tidak pada perempuan.

“Studi ini tidak melihat secara langsung, tapi bisa juga karena pria mungkin merokok, minum, dan makan lebih tidak sehat daripada perempuan saat menonton televisi,” katanya.

Kata Linda, perlu penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan penelitian ini. Namun, untuk mengurangi risiko kanker usus, orang harus menjaga berat badan yang sehat, mengurangi alkohol, menjadi aktif secara fisik, serta makan buah dan sayur.

Waspada kanker usus

Bagi Anda yang sering berlama-lama menonton televisi, tak ada salahnya untuk mulai waspada terhadap kanker usus atau juga dikenal dengan nama kanker kolon atau kanker kolektoral. Gejalanya antara lain ambeien, buang air besar berdarah, dan perubahan kebiasaan buang air besar seperti menjadi jarang atau tinja lebih keras.

Meski tidak diketahui penyebab utama kanker usus, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko, seperti usia. Hampir 9 dari 10 kasus kanker usus terjadi pada orang berusia 60 atau lebih.

Faktor lain adalah diet tinggi daging merah atau diet rendah serat, orang yang kelebihan berat badan, asupan alkohol dan merokok yang tinggi, serta riwayat keluarga.

Untuk menurunkan risiko kanker usus, Anda dapat mengontrol beberapa hal, seperti mempertahankan berat badan ideal. Memiliki lebih banyak lemak perut (yaitu lingkar pinggang yang lebih besar) juga dikaitkan dengan kanker ini. Selain itu, Anda juga perlu meningkatkan aktivitas.

Untuk makanan, cobalah lebih fokus pada diet yang tinggi sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Banyak penelitian menemukan adanya hubungan antara daging merah (daging sapi, babi, dan domba) atau daging olahan seperti sosis dengan peningkatan risiko kanker usus.

Maka dari itu, membatasi daging merah dan olahan serta memakan lebih banyak sayuran dan buah-buahan dapat membantu menurunkan risiko.

BERITAGAR

Leave A Reply

Your email address will not be published.