Jakarta – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, tantangan utama dalam menyukseskan program imunisasi nasional saat ini terletak pada ranah komunikasi publik, sehingga pihaknya bersinergi untuk melawan misinformasi dan disinformasi.
“Kita menghadapi arus misinformasi dan disinformasi yang masif, mulai dari isu keamanan vaksin, kehalalan, hingga narasi menyesatkan yang melemahkan kepercayaan masyarakat. Transformasi sistem kesehatan yang sedang kita jalankan menempatkan komunikasi publik sebagai pilar penting yang membutuhkan orkestrasi kuat, terstruktur, dan serempak,” ujar Wamenkes Dante.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) Kementerian Kesehatan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyebutkan bahwa keengganan masyarakat mengikuti program imunisasi, yang berujung pada kasus anak tanpa imunisasi (zero dose), sangat dipengaruhi oleh disrupsi informasi.
“Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya edukasi, keterbatasan izin keluarga, hingga terpapar berita bohong,” katanya.
Data Kemenkes menunjukkan cakupan imunisasi Bayi dan Baduta Lengkap di Indonesia hingga 2025 masih belum merata dan banyak daerah belum mencapai target nasional. Cakupan imunisasi anak sekolah hingga 2025 masih belum merata, cakupan masih ada < 88 persen. Anak dengan zero dose DPT-HB-Hib masih ditemukan di seluruh daerah dan di tahun 2025 sebanyak 991,022, naik dari tahun 2024
Untuk itu, forum tersebut mengangkat tema “Sinergi Humas Pemerintah untuk Program Imunisasi yang Lebih Kuat dan Terpercaya” guna memperkuat kapasitas komunikasi publik serta memperluas jejaring lintas sektor.
Aji mengibaratkan peran strategis humas pemerintah layaknya “ikan sapu-sapu” di ekosistem digital.
“Kami berharap seluruh praktisi humas pemerintah dapat menyatukan persepsi dan langkah menjadi garda terdepan menangkal hoaks. Ibaratnya, rekan-rekan Humas bisa menjadi ‘ikan sapu-sapu’ untuk membersihkan hoaks kesehatan di masyarakat, serta mengamplifikasi pesan positif secara masif,” ungkap Aji.D
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan dan Digital Maroli J. Indarto mengingatkan bahwa fenomena infodemic menyebabkan hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta medis.
“Meskipun cakupan imunisasi lengkap anak usia 12–23 bulan pada 2025 telah mencapai 76,9 persen, rantai komunikasi di akar rumput masih memerlukan perbaikan,” katanya.
(Antara)