The news is by your side.

Sukses Ditentukan oleh Keberuntungan, Bukan Bakat

46

Apakah Anda termasuk orang berbakat atau cerdas dan sedang berusaha keras untuk mencapai sukses? Jika ya, menyerah pun tak mengapa. Sebab riset menemukan Anda tak bisa mencapai tingkat kesuksesan yang layak Anda dapatkan.

Di sisi lain, jika karakteristik utama Anda cenderung biasa-biasa saja, cobalah terus berusaha. Karena penelitian membuktikan keberuntungan ada di pihak Anda.

Kesimpulan ini dicapai oleh trio peneliti, fisikawan Alessandro Pluchino dan Andrea Raspisarda dari University of Catania di Italia, juga ekonom Italia Alessio Biondodalam. Riset yang mereka lakukan diyakini merupakan pemodelan statistik pertama mengenai peran relatif keberuntungan dan bakat dari waktu ke waktu.

Pluchino yang memimpin riset bertajuk Talent vs Luck: The Role of Randomness in Success and Failure ini merasa terdorong oleh ketidaknyamanan akan paradigma meritokratik yang membentuk budaya Barat.

Model ini, kata mereka, “berakar pada keyakinan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih jika seseorang punya kualitas pribadi seperti bakat, kecerdasan, keterampilan, kepandaian, usaha, kemauan, kerja keras atau pengambilan risiko.

Bukannya itu semua buruk, sebaliknya karakteristik tersebut positif dan baik. Hanya saja ada banyak bukti untuk mendukung anggapan bahwa kecerdasan tidak menjamin kesuksesan. Itu juga mengapa orang sering berucap mempertanyakan, “Kalau kamu sebegitu cerdasnya, kenapa belum kaya juga?”

Menurut Pluchino dan tim, ada sebuah disjungsi yang sangat jelas antara potensi dan hasil berdasarkan populasi.

Mereka mencatat bahwa kualitas seperti kecerdasan atau bakat eksis pada populasi manapun dalam distribusi kurva lonceng. Orang yang sangat pandai atau sangat berbakat ada pada masing-masing ujung kurva, dan mereka yang tak secerdas dan seberbakat itu mengisi rentang di antaranya.

Bagaimanapun, capaian atau keberhasilan dalam populasi mana pun dikonfigurasi dengan sangat berbeda. Hal ini dapat digambarkan sebagai hukum kekuasaan.

Dalam grafik, sejumlah kecil orang yang sangat berada di salah satu ujung grafik, diikuti oleh banyaknya orang lain di sepanjang garis terjal yang sangat panjang.

Sebagai bukti, Pluchino mengutip laporan Oxfam tahun 2017 yang mengungkapkan harta milik 3,6 miliar orang termiskin di dunia sama jumlahnya dengan harta delapan orang saja orang terkaya di dunia.

Berasumsi bahwa kedelapan orang yang beruntung tersebut adalah yang paling berbakat, cerdas dan mahir di dunia ini adalah tidak masuk akal. Karena itu, menurut peneliti, kesuksesan mereka dikondisikan oleh beberapa faktor lain. Keberuntungan atau kebetulan, atau keacakan lah faktor lain yang dimaksud Pluchino.

Mereka mencatat beragam penelitian yang menunjukkan bahwa keuntungan sosial atau profesional dapat sangat dipengaruhi oleh faktor acak yang tidak ada sangkut pautnya dengan kemampuan bawaan. Nama adalah salah satunya.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ilmuwan yang nama belakangnya dimulai dengan huruf-huruf awal alfabet lebih cenderung mendapat promosi. Riset lain membuktikan, orang yang menggunakan inisial nama tengah cenderung dianggap pintar.

Masih soal nama, orang dengan nama yang mudah diucapkan cenderung dinilai lebih positif daripada orang-orang yang namanya sulit diucapkan. Penelitian juga membuktikan bahwa perempuan dengan nama berbau maskulin cenderung lebih sukses berkarier di dunia hukum.

Korelasi memang tidak menunjukkan hubungan sebab akibat, bagaimanapun Pluchino dan timnya bertanya-tanya mungkinkah mereka dapat membuat model yang benar-benar menunjukkan pengaruh keberuntungan. Ternyata bisa dan memang demikian adanya.

Para ilmuwan menciptakan dunia imajiner untuk simulasi evolusi karier. Isinya seribu individu dengan bakat bervariasi.

Masing-masing diberi sejumlah uang dalam jumlah sama sebagai modal. Mereka dikondisikan untuk terpapar keberuntungan dan kesialan secara acak.

Tingkat bakat memengaruhi kemungkinan mereka untuk mengubah kesempatan menjasdi modal. Setelah simulasi 40 tahun yang bertujuan merepresentasikan karier seseorang, distribusi kekayaan justru terlihat tak sebagaimana mestinya.

Sama halnya dengan dunia nyata, hanya segelintir orang yang mendominasi sebagian besar modal. dan rekan-rekannya menjalankan model ini beberapa kali, dengan beberapa variasi, namun hasilnya tetap sama.

Apakah orang yang paling sukses adalah yang paling berbakat? “Temuan kami tidak menyatakan demikian. Malah sering kali, orang yang paling sukses cenderung hanya cukup berbakat tapi sangat beruntung,” jelas Pluchino.

Pluchino melanjutkan, mereka menemukan korelasi yang kuat antara keberuntungan dan sukses. Ini menunjukkan betapa pentingnya keberuntungan dalam menentukan keberhasilan dalam hidup, serta bagaimana pengaruh itu kerap disepelekan.

Hasil riset ini juga tampaknya mengonfirmasi kesimpulan berbagai penelitian yang disinggung sebelumnya, bagaimana di dunia ini, orang kaya menjadi semakin kaya dan orang pandai semakin sakit hati.

Pasalnya penghargaan dan sumber daya biasanya diberikan kepada mereka yang telah mencapai tingkat kesuksesan tinggi, yang secara keliru dianggap sebagai ukuran kompetensi atau bakat.

Para ilmuwan mencatat, hasil riset ini menunjukkan hal lain yang juga berbahaya, yakni berkurangnya kesempatan bagi orang yang sebenarnya justru lebih berbakat.

BERITAGAR

Leave A Reply

Your email address will not be published.