Anak-anak yang mengalami depresi di usia 4 hingga 6 tahun yang telah berpikir dan berbicara perihal bunuh diri menurut penelitian ternyata memahami konsep bahwa ‘mati akan menyelesaikan masalahnya’ dibandingkan dengan anak-anak normal, menurut sebuah penelitian yang diunggah pada Selasa (5/2) di situs Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis.
Para peneliti tersebut mempelajari 139 anak-anak: 22 dari mereka mengalami depresi dan telah mengekspresikan ide bunuh diri, 57 mengalami depresi tetapi tidak memiliki pikiran untuk bunuh diri, dan 60 anak lainnya tidak menderita depresi.
Anak-anak dalam penelitian ini diwawancarai mengenai kematian untuk mengukur pemahaman mereka tentang lima konsep. Mereka ditanyai tentang fakta umum mengenai kematian, seperti fakta bahwa semua makhluk hidup akhirnya mati. Mereka juga ditanyai tentang kekhususan kematian untuk membantu menentukan apakah anak-anak mengerti bahwa meskipun kakek-nenek mereka bisa mati, boneka binatang mereka tidak bisa. Selain itu juga pertanyaan-pertanyaan lain berhubungan dengan kematian yang tidak dapat dibalikkan, seperti penghentian fungsi tubuh yang dapat menyebabkan kematian, dan kemungkinan penyebab kematian.
Anak-anak yang depresi dengan konsep bunuh diri di kepalanya ternyata memahami semua komponen pertanyaan yang berhubungan dengan kematian lebih baik daripada anak-anak dalam dua kelompok lainnya. Selain itu, semua anak yang depresi yang memiliki keinginan bunuh diri mampu menggambarkan sesuatu yang dapat menyebabkan kematian dengan baik, dibandingkan dengan 61 persen anak-anak lain yang mengalami hanya depresi tanpa keinginan bunuh diri, dan 65 persen anak-anak lain yang tidak depresi.
“Penyebab pertama kematian yang tampaknya muncul di kepala anak-anak yang diasosiasikan dengan konsep bunuh diri adalah sesuatu seperti dengan ditembak atau ditusuk,” kata penulis pertama Laura Hennefield, seorang sarjana penelitian pascadoktoral di Departemen Psikiatri dan di Departemen Psikologi & Otak Ilmu pengetahuan. “(Meminum) Racun juga muncul beberapa kali. Itu agak mengejutkan, mengingat bahwa kecelakaan dan penyakit sebenarnya adalah penyebab kematian yang jauh lebih umum dikenal oleh anak-anak.”
“Pandangan yang sudah ada sebelumnya dari anak-anak kecil mengenai konsep bunuh diri adalah bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan, bahwa mungkin mereka hanya mengulangi sesuatu yang telah mereka dengar atau lakukan untuk mendapat perhatian, termasuk melukai diri sendiri,” kata penyelidik senior Joan L. Luby, seorang profesor psikiatri di universitas.
“Temuan kami membantah hal itu. Tampaknya memang anak-anak yang mengekspresikan konsep bunuh diri di kepalanya telah memahami apa artinya mati, dan mereka memahaminya lebih baik daripada teman sebaya mereka.”
Para peneliti akan terus mengikuti anak-anak ini untuk mengetahui apakah terapi interaksi orang tua-anak dapat membantu meningkatkan kesehatan mental ketika anak-anak mulai sekolah dan tumbuh menjadi remaja.
Studi ini telah diterbitkan dalam edisi MaretJournal of American Academy of Child and Adolescent Psychiatry.