Restorasi Hutan, Menekan Konflik Manusia dan Satwa

0 123

Jakarta: Kasus serangan harimau terhadap manusia di Riau tak lepas dari rusaknya habitat satwa di dalam hutan. Alih fungsi lahan untuk perkebunan diduga menjadi penyebab satwa liar seperti harimau dan gajah turun ke perkampungan.

World Wide Fund (WWF) Indonesia bahkan menyebut alih fungsi lahan membuat wilayah tutupan hutan di Sumatera dari tahun ke tahun semakin menipis.

Species Koordinator WWF Indonesia Chaerul Saleh mengatakan, jika dibandingkan dengan 1985 dengan tutupan hutan yang masih berada di angka 58 persen, pada 2015 hutan yang tersisa hanya tinggal 24 persen.

“Jadi memang betul harimau keluar hutan akibat habitatnya yang semakin menyempit,” kata Chaerul, dalam Metro Pagi Primetime, Senin, 19 Maret 2018.

Chaerul menilai semakin berkurangnya wilayah tutupan hutan seharusnya menjadi perhatian bersama. Bagaimana pun habitat harimau di Sumatera yang disulap dan dialihfungsikan untuk kepentingan lain akan merugikan semua pihak.

Menurut dia, habitat harimau yang sudah terfragmentasi akibat perambahan lahan sudah saatnya direstorasi. Habitat satwa perlu dibuatkan ‘koridor’ khusus berbasis ekosistem yang tidak hanya mempertimbangkan kepentingan manusia namun juga satwa langka yang hidup di dalamnya.

“Kalau bisa khusus habitat satwa ini jangan lagi dikonversi menjadi lahan sehingga hal negatif yang merugikan semuanya bisa dicegah,” kata Chaerul.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengakui hampir seluruh perkampungan di Riau dihubungkan oleh hutan.

Sudah semestinya alih fungsi lahan yang dijadikan sebagai kawasan hutan tanaman industri (HTI) atau lainnya dilengkapi dengan areal tanaman kehidupan untuk mencegah ruang jelajah satwa liar meluas ke perkampungan.

Ia menyebut sejak era 70-an sampai dengan 2005 sudah ada catatan bahwa rata-rata dalam setahun paling sedikit ada 6 kali problem serius konflik antara manusia dan hewan.

“Untuk menghindarinya beri ruang lebih luas untuk satwa. Kan ada batasannya apakah setiap 50 km2, 250 km2, dan sebagainya. Kan sudah ada studinya,” ujar Siti.

Di samping menyediakan koridor khusus untuk ruang jelajah satwa, Siti pun mengingatkan agar setiap penggunaan hutan tidak memecah ruang jelajah satwa dan berhenti merambah hutan.

Selain itu ruang terbuka hutan untuk tanaman rumput juga perlu disediakan untuk menopang rusa atau babi hutan yang bisa menjadi sumber pakan bagi harimau.

“Prinsipnya yang penting pelindungnya, sumber pakan, lalu ruang gerak atau ruang jelajah dia yang harus diketahui oleh manusia,” kata Siti.

MEDCOM

Leave A Reply

Your email address will not be published.