Perang Tomat di Kampung Cikareumbi

0 191

BANDUNG – Ada kebiasaan rutin yang dilakukan para warga di perkampungan Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat setiap tahunnya. Sejak enam tahun terakhir warga kampung dengan khidmat menggelar hajatan bernama Perang Tomat.

Perang Tomat sendiri ialah ritual sebagai tanda syukur warga atas melimpahnya hasil alam di perkampungan. Tapi hal itu tak ujug-ujug digelar. Sebelumnya ada sejumlah kegiatan yang melengkapi peristiwa syukuran tersebut. Sebut saja ritual Ngaruat Bumi, Hajat Buruan, dan Helaran.

“Sebagai bentuk rasa syukuran atas diberikan tanah yang subur dan air yang melimpah. Maka dari itu, mereka setiap setahun sekali mengadakan upacara tersebut,” ujar Abah Nanu Muda, seorang budayawan sekaligus inisiator Perang Tomat Kampung Cikareumbi saat ditemui AyoBandung, Minggu (9/10/2017).

Abah, menjelaskan rangkaian kegiatan berupa Ngaruat Bumi yang dilakukan sebelum Perang Tomat adalah upacara selamatan sumber air Legok Dasman, Pasir Luhur-kampung Cikareumbi. Suburnya hasil bumi tersebut tidak terlepas dari melimpahnya air di perkampungan Cikareumbi.

“Warga merasa sangat bergantung pada air dari mata air Legok Dasman itu, upacara tersebut diawali dengan menyembelih seekor domba di hulu wotan (sumber mata air). Darah tersebut dimasukan ke dalam lubang kemudian dikubur dengan berbagai macan sesajen,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, upacara Ngaruat Bumi pun tidak terpisahkan dari orientasi pemeliharaan lingkungan. Abah menjelaskan, bahwa hal tersebut menunjuk pada perilaku masyarakat yang mampu menjaga pula keberadaan sumberdaya air di perkampungannya.

Sementara hajat Buruan menjadi bagian dari upacara ngaruat bumi itu sendiri ditandai dengan memakan hidangan daging domba yang sebelumnya disembelih pada prosesi Ngaruat Bumi secara bersama-sama.

Setelah Hajat Buruan selesai, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan para warga ke bale Desa Cikidang dan kembali lagi ke kampung Cikareumbi. Helaran Ngarak tersebut diperlihatkan dengan mengarak jempana yang isinya sayur mayur serta sejumlah boneka berbentuk sapi dan singa.

“Artinya masyarakat Cikareumbi itu adalah petani, peternak dan seniman juga,” tambahnya.

Rempug Tarung Perang Tomat

Gelaran hajat Buruan diakhiri dengan prosesi Rempug Tarung Perang Tomat. Perang tersebut bertujuan sebagai ungkapan membuang sial segala macam hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk dengan penyakit tanaman.

“Dilakukan lewat saling melempar atau membuang tomat yang sudah buruk (busuk/matang sekali), dalam artian rempug tarung adu tomat tersebut adalah membuang kebencian atau untuk menyucikan diri,” katanya.

Perang Tomat dilakukan setelah melalui upacara Ngajayak Nimang Topeng atau alat perangkat untuk berperang seperti topeng pelindung kepala dan perisai yang terbuat dari rotan yang dipakai oleh para petarung saling dilempari oleh tomat busuk.

“Para pelaku Perang Tomat sebelumnya melakukan ritual terlebih dahulu, kemudian alat perang tomat secara simbolis diserahkan oleh kepala desa, tokoh masyarakat dan sebagainya,” lanjutnya.

Perserta Perang Tomat bukan hanya warga asli Cikareumbi saja, tapi juga warga di luar kampung datang meramaikan hajat tahunan ini.

“Pada Perang Tomat tidak hanya pelaku atau penari saja yang terlibat, akan tetapi semua penonton yang hadir turut berpartisipasi ikut berperang,”pungkas Abah.

AYO BANDUNG

Leave A Reply

Your email address will not be published.