Jakarta – Workshop membuat lukchup meramaikan Festival Songkran 2026 di Jakarta. Peserta belajar langsung untuk mengenal dessert tradisional Thailand lucu berbentuk buah.
Rangkaian Festival Songkran 2026 di Jakarta tidak hanya menghadirkan tradisi dan perayaan air, tetapi juga kegiatan edukatif berupa workshop membuat Lukchup, makanan tradisional khas Thailand.
Workshop ini dipimpin langsung oleh perwakilan Kedutaan Besar Thailand, Enji, bersama tim instruktur yang bertindak sebagai pelatih dalam sesi tersebut. Sebanyak 15 peserta mengikuti kegiatan ini dengan didampingi enam pelatih yang secara langsung mengajarkan teknik pembuatan lukchup.
Dalam kesempatan itu, detikTravel melihat langsung proses pembuatan lukchup, mulai dari pengenalan bahan hingga teknik pembentukan.
Enji menjelaskan bahan dasar yang digunakan, mulai dari santan, kacang hijau kupas, gula, garam, vanili, pewarna makanan, serta agar-agar sebagai lapisan akhir.
“Untuk setiap satu piecenya berjumlah lima gram, tapi menyesuaikan lagi dengan bentuk buah yang ingin dibuat,” jelas Enji kepada para peserta dalam sesi workshop, Sabtu (18/4/2026).
Ia juga memperagakan teknik dasar membentuk adonan di hadapan peserta. Enji terlebih dahulu mengambil sedikit adonan, lalu meremasnya hingga teksturnya menjadi halus dan padat. Setelah itu, adonan diputar-putar menggunakan telapak tangan hingga membentuk bulatan sempurna sebagai dasar.
“Awalnya hancurkan adonan, terus putar putar seperti ini sampai berbentuk bulat,” kata Enji sambil mempraktikkan cara membentuk lukchup.

Para peserta kemudian diajarkan membuat lukchup dengan bentuk buah-buahan seperti cermai dan jambu air. Suasana workshop terlihat antusias, dengan peserta yang fokus mengikuti setiap arahan dari para pelatih.
Setelah adonan dibentuk, tahap berikutnya adalah proses pewarnaan. Lukchup berbentuk jambu air dicelupkan ke pewarna merah, sementara cermai menggunakan warna hijau. Setelah warna mengering, adonan kemudian dilapisi agar-agar untuk menghasilkan tampilan mengilap.
“Setelah buah dicelupkan ke pewarna, tunggu sampai kering. Lalu dicelupkan ke agar-agar sebanyak tiga sampai empat kali untuk hasil yang mengkilap dan cantik,” katanya.
Lukchup sendiri dikenal sebagai hidangan penutup tradisional Thailand yang identik dengan bentuk buah-buahan mini berwarna cerah. Bentuk ini bukan tanpa alasan.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang workshop berlangsung. Tidak hanya fokus mengikuti arahan, mereka juga tampak menikmati setiap proses yang diajarkan oleh para instruktur.
“Kegiatannya seru banget, edukatif juga, instrukturnya baik dan pengertian, sabar ngajarin kita, walau tadi sempat gagal tapi diajarin pelan-pelan,” ujar Gabby, salah satu peserta yang mengikuti sesi workshop.
Hal serupa juga disampaikan peserta lainnya, Ana. Peserta asal Jakarta itu mengaku tertarik ikut workshop ini karena selama ini hanya mengenal lukchup sebagai makanan, tanpa mengetahui proses pembuatannya yang ternyata cukup rumit dan membutuhkan ketelatenan.
“Penasaran sih jadi pengen ikut workshopnya karena selama ini cuma tahu makannya, jadi pengen tahu proses pembuatannya, ternyata susah juga ya,” kata Ana.
Sejarah dan Asal-usul Lukchup
Secara historis, lukchup terinspirasi dari buah asli karena bahan dasarnya, kacang hijau tidak memiliki warna menarik, sehingga dibentuk menyerupai buah agar terlihat lebih indah dan menggugah selera, terutama saat disajikan di lingkungan kerajaan.
Makanan ini memiliki sejarah panjang yang berasal dari era Kerajaan Ayutthaya. Pada masa itu, lukchup dibuat oleh para perempuan untuk keluarga, bahkan menjadi sajian khusus di lingkungan kerajaan sebagai hidangan penutup dalam acara penting.
“Sebenarnya itu bermula dari Ayutthaya. Perempuan di Ayutthaya membuatnya untuk suami atau biasanya dibuat untuk keluarga kerajaan. Tapi sekarang lukchup menjadi makanan tradisional Thailand yang bisa ditemukan di mana saja,” ujar Enji.
Seiring waktu, lukchup menjadi makanan yang lebih mudah dijumpai di pasar-pasar Thailand dengan harga terjangkau, sekitar 5-10 baht (Rp 2.000-5.000) per buah. Meski demikian, proses pembuatannya tergolong rumit dan membutuhkan ketelatenan tinggi.
“Walau mudah ditemukan, kami mencoba untuk membuat lebih banyak orang belajar membuat lukchup untuk melestarikan makanan tradisional Thailand ini,” tambahnya.
(Detik)