Apa kata yang dipakai untuk merujuk ‘ibu dari ibu’?
Dalam bahasa Indonesia, biasanya kita menyebutnya dengan sebutan ‘nenek’. Di beberapa tempat, penyebutan akan lebih spesifik karena nenek dari pihak ayah atau nenek dari pihak ibu berbeda penyebutan.
Begitu juga dengan bahasa Mandarin. Dengan banyak variasi dan dialek, berbagai wilayah di China akan menggunakan kata yang berbeda untuk merujuk pada ‘nenek’. Beberapa menyebutnya ‘Laolao’ 姥姥, sedangkan yang lain menyebutnya ‘Waipo’ 外婆.
Kedua istilah umumnya dapat digunakan secara bergantian dan biasanya tidak menimbulkan kebingungan atau kesalahpahaman. Meskipun demikian, kedua istilah ini justru menjadi perdebatan besar setelah sebuah buku teks Mandarin di Shanghai yang mengganti ‘Waipo’ 外婆 yang dianggap bukan bahasa Mandarin resmi.

Buku itu mengemukakan bahwa ungkapan ‘waipo’ bukan bagian dari bahasa Cina standar, tetapi lebih merupakan bagian dari dialek lokal. Editor dari Dewan Sekolah Shanghai mengubah teks asli di buku teks, mengganti semua istilah ‘waipo’ 外婆 dengan ‘laolao’ 姥姥 untuk mempromosikan Putonghua, yang juga dikenal sebagai bahasa Mandarin baku.
Insiden itu terungkap oleh pengguna Weibo yang menemukan masalah saat membaca buku teks berbahasa Mandarin untuk kelas dua sekolah dasar. Semua artikel yang menggunakan ‘Waipo’ 外婆 diganti oleh penerbit menjadi ‘Laolao’ 姥姥. Dewan Sekolah Shanghai telah menanggapi insiden itu, menyatakan bahwa, menurut ‘Kamus Bahasa Cina Modern,’ waipo 外婆 adalah ungkapan yang digunakan dalam dialek China.

Kata ‘nenek’ dapat diterjemahkan menjadi ‘laolao’ 姥姥 atau ‘waizumu’ 外祖母, dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan istilah ‘laolao’ 姥姥 untuk membantu siswa Shanghai memahami dengan lebih baik berbagai ekspresi yang digunakan dalam bahasa Mandarin.
“Shanghai adalah kota bertaraf internasional, memahami keragaman bahasa China akan lebih baik membantu membangun lingkungan yang lebih terbuka,” Dewan Sekolah Shanghai menyatakan dalam tanggapan resmi media atas kontroversi tersebut.
Pada media sosial China, kontroversi belum berakhir. Bagi banyak penutur asli bahasa China, untuk menandai waipo 外婆 sebagai istilah yang digunakan dalam dialek itu tidak masuk akal . “Orang-orang dari China selatan semua menggunakan istilah waipo,” salah satu komentar warganet di akun media sosial Weibo.
“Mengapa mereka mengubah teks asli?”
“Laolao adalah istilah dialeknya. Kami tidak mengatakan itu di China selatan”
“Ini seperti mengatakan bahwa kita semua makan kue selama Festival Musim Semi. Tetapi kenyataannya adalah kita tidak memakannya sama sekali. ”
Beberapa situs media China juga mengkritik Dewan Sekolah Shanghai atas keputusan mereka. Situs media Sohu berpendapat bahwa Dewan Sekolah Shanghai menindas keanekaragaman bahasa atas nama mempromosikan perbedaan.
Media pemerintah, Guangming Daily, menunjukkan bahwa dialek menggabungkan sentimen khusus dan tradisi lokal yang tidak dapat digantikan oleh terjemahan.
Putonghua atau bahasa China standar telah menjadi bahasa resmi China sejak kampanye gencar pemerintah pada tahun 1956. Bahasa China standar terutama didasarkan pada dialek Beijing dan dialek Mandarin yang diucapkan oleh mayoritas penduduk di China.
Salah satu tujuan utama dari standardisasi bahasa China adalah untuk mencapai kesatuan nasional. Namun, setelah lebih dari enam dekade secara aktif mempromosikan Putonghua, efektivitas kebijakan ini masih dipertanyakan.
Menurut laporan Xinhua News tahun 2015, 400 juta warga Tiongkok tidak bisa berbahasa Mandarin atau Putonghua. Banyak warga Tionghoa berbicara dialek lokal di daerah masing-masing, seperti Kanton di Guangdong, atau Shanghai di Shanghai. Selain itu, orang-orang di Tibet dan Xinjiang berbicara bahasa mereka sendiri, sehingga semakin sulit untuk mempromosikan Putonghua di daerah-daerah ini.
Beberapa kritikus melihat kebijakan Putonghua sebagai ancaman bagi dialek dan identitas lokal. Hal ini bisa menjadi ancaman untuk preservasi dialek lokal.
Baru-baru ini, penghilangan secara bertahap dialek lokal telah menerima lebih banyak perhatian di media Tiongkok. Pada bulan April tahun ini, Kantor Berita China melaporkan bahwa dialek di Hainan berada dalam bahaya karena generasi muda kehilangan kemampuan dan motivasi untuk belajar dan menggunakan dialek Hainan lokal ini.
Laporan itu menampilkan seorang bocah 4 tahun yang diejek ketika berbicara dialek, menunjukkan tekanan orang-orang yang sekarang hadapi dalam pelestarian dialek.
Sumber: What is on Weibo