Pelajar Mancanegara Antusias Menghias Egrang dan 57 Mahasiswa IBM UK Petra Mengajar 14 Sekolah Pra Sejahtera di Surabaya

0 237

Egrang adalah salah satu permainan tradisional yang diperkenalkan kepada lima mahasiswa asing dari Korea Seatan, Timor Leste dan Tajikistan. Kelima mahasiswa asing dari kelas Indonesia Spectrum yakni program satu tahun untuk pelajar asing guna mempelajari sekaligus memahami berbagai aspek mulai dari politik, ekonomi, dan sosial budaya tentang Indonesia di Universitas Kristen Petra Surabaya.  

Selama di Indonesia, mereka mempelajari kesenirupaan hasil budaya masyarakat, salah satunya egrang sebagai benda seni rupa untuk rekerasi jelas Andereas Pandu Setiawan selaku dosen mata kuliah Indonesian Craft in Practice. 

Andereas menambahkan egrang dikenal sebagai media bermain yang tidak dihias. Karena menjadi media seni rupa maka mereka harus menghias sekaligus belajar menggunakannya, sehingga merasakan langsung pengalaman yang berbeda. Mereka menghias egrang di Lab Bahan Desain Interior kampus UK Petra. 

Kelima mahasiswa asing sebelumnya belajar membuat anyaman keranjang makanan, tikar, tangga bambu, dakon, patung, relief, batik, baju adat, senjata tradisional dan sebagainya. 

Sementara itu di tempat terpisah 57 mahasiswa program studi International Business Management (IBM) UK Petra mengajar Public Speaking dan Bahasa Inggris Dasar ke 14 sekolah marginal di Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi mata kuliah Speaking dengan Skill yaitu pembelajaran Service Learning serta membangun solidaritas antar bangsa untuk lebih memaknai Pancasila dan Kebhinekaan, jelas Maria Natalia Damayanti Maer selaku dosen prodi IBM UK Petra.

Ke14 sekolah pra sejahtera mendapat pengajaran selama dua jam oleh para mahasiswa IBM UK Petra yang menggunakan kedekatan one on one yakni setiap mahasiswa mengajar 4 anak. Setelah mendapatkan pelatihan, satu anak dipilih mewakili sekolahnya untuk menceritakan permasalahan serta solusinya di depan umum misanya banjir, sampah, menyontek, dialeksia dan sebagainya. Setiap anak diberi waktu tiga menit untuk menyampaikan pidatonya dan mendapat hadiah dari para mahasiswa untuk sekolahnya.

“Awalnya saya memiliki ketakutan jika kehadiran saya tidak diterima, karena berbeda ras dan agama. Tapi tak lama stereotype itu terbantahkan oleh kenyataan. Saya menjadi lebih peka terhadap kondisi dan memahami bahwa stereotyping itu tidak benar. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan kolaborasi hingga penguasaan diri saya bertambah,” tutur Thalia salah satu mahasiswa sembari mengutip pernyataan Mahatma Gandhi yakni ‘Kamu mungkin tidak akan pernah tahu apa hasil dari tindakanmu, namun ketika kamu tidak bertindak apapun, maka tidak akan ada hasil yang terjadi’.

Dalam kegiatan tersebut UK Petra bekerjasama dengan tiga yayasan dan satu sekolah yang selama lima Minggu, para mahasiswa sengaja blusukan ke gang-gang sempit di Surabaya untuk mengajar anak-anak mulai dari menyusun pidato dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, melatih berpidato, gerak tubuh hingga percaya diri sampai pada kepekaan terhadap masalah nyata yang dihadapi diri dan lingkungannya dari kacamata anak-anak. Mereka diajak berfikir mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.