Menyambut Imlek 2569 dan Cap Go Meh, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke-13 (PBTY) 2018 digelar selama tujuh hari dari 24 Februari dan berakhir 2 Maret 2018 bertajuk ‘Harmoni Budaya Nusantara’. PBTY diselenggarakan Jogja Chinese Art & Culture Centre (JCACC) terdiri dari 14 paguyuban masyarakat Tionghoa di Yogyakarta dan tahun ini diampu oleh Paguyuban Hakka Jogjakarta (PHJ).
PBTY didukung Pemkot Yogyakarta, Dinas Pariwisata DIY dan Kementrian Pariwisata RI lewat Pesona Indonesia. Lokasi PBTY di Kampoeng Ketandan, sepanjang Malioboro hingga alun-alun utara. PBTY XIII dibuka Gubernur DIY Sri Sultan Hamangku Buwono X didampingi perwakilan 14 paguyuban masyarakat Tionghoa, perwakilan Kementrian Pariwisata, Pangdam IV Diponegoro Mayjend TNI Wuryanto, Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Novyan Samyoga, Kapolda DIY Ahmad Dofiri, Gubernur AAU Marsda TNI Sri Mulyo Handoko, Danrem 072 PMK M. Zamroni, Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Ruyanta, Walikota Haryadi Suyuti, Wawali Heroe Poerwadi, Wakil Konjen RRT di Surabaya Liu Qiang, dan disaksikan ribuan warga.
Sugiarto曾汉仁 Ketua Pelaksana PBTY ke-13 mengungkapkan persiapan acara dilakukan sejak 2,5 bulan lalu. “Setiap PBTY digelar diampu secara bergilir oleh 14 paguyuban masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. Tahun ini diampu PHJ yang menampilkan berbagai kegiatan budaya. Kuliner diikuti 125 stan menyajikan makanan halal non halal dari berbagai daerah nusantara. Setiap hari PBTY dikunjungi 8000 orang,” terang Sugiarto yang juga wakil ketua PHJ.
Ketua umum PHJ Soekeno丘更昆 juga salah satu founder PBTY mengatakan Yogyakarta dikenal sebagai miniatur Indonesia dan penyelenggaraan PBTY sangat positif karena semakin mempersatukan keberagaman yang ada di dalam masyarakat. “PBTY tidak hanya menampopulerkan budaya Tionghoa tapi juga budaya nusantara dan terpenting meningkatkan ekonomi dengan menggandeng UKM,” jelas Soekeno.
Hal yang sama dikatakan Rusmin杨勇谋yang menjabat sebagai ketua harian pelaksana PHJ mengaku bersyukur pelaksanaan PBTY ke-13 berjalan lancar berkat kerjasama berbagai pihak dan panitia anggota PHJ. Bidang Lomba Shufa, Chinese Painting, Story Telling, Raokouling, Jianzi dan karaoke Mandarin panitia dari anggota PHJ yakni Amin Kartawijaya Wasiono Putro萧杜铭, Sri Andayani Wasionoputri萧素珍, dan Gunawan李永福 dengan jumlah peserta lomba sebanyak 112 orang dari berbagai suku.
Seluruh anggota PHJ sangat aktif dalam acara tersebut selain menampilkan tarian di atas panggung, kuliner dan pencarian Ako Amoi 2018. Para penari dari PHJ selalu tampil saat pembukaan dan penutupan PBTY. “Kami berlatih selama tiga bulan untuk tampil di PBTY. Tapi sehari-hari latihan dengan bimbingan guru tari pada Senin, Selasa dan Jumat,” tutur Intan Nina salah satu anggota penari PHJ.
Peranan Wanita PHJ, Melianawati turut mempopulerkan masakan Hakka di stan kuliner dan selalu laris manis diborong pembeli. Menu masakan seperti Choi Pan berisi bengkuang dan ebi paling diburu pembeli. Selain itu ada menu babi hong yang dimasak dengan sayur asin kering, che hun tiaw, dan tahu swan pilihan para pembeli.
Dewi Mayasari ketua panitia Hakka Ako Amoi Jogjakarta 2018 menginformasikan peserta yang mendaftar sebanyak 35 orang terdiri dari 16 laki-laki dan 19 perempuan. Ako Amoi Jogjakarta kebanyakan diikuti pelajar SMA dan mahasiswa.
Audisi diselenggarakan 4 Maret yang lolos mengikuti bimbingan panitia mulai 7-8 Maret, lalu talent show 9 Maret dan final diselenggarakan 10 Maret di Jogja City Mall.
Delvita Deny Chung mantan Amoi 2016 menceritakan pengalamannya mengikuti ajang tersebut yang membuat dirinya banyak teman dan kaya wawasan. “Ajang Ako Amoi tepat untuk pengembangan diri karena diajarkan berbagai pengetahuan. Bagi kaum muda Hakka ikuti ajang ini,” pinta Delvita yang saat ini tengah berkuliah S2 di Universitas Gajah Mada.
Selama pelaksanaan PBTY digelar pemilihan Koko dan Cici 2018, pemenangnya Josephine Lou dan Herman Yosef Cahono. Keduanya mengharapkan PBTY terus berlanjut dan semakin meriah sebagai akulturasi budaya. “Budaya Tionghoa bukan memisahkan dengan budaya lain tapi menambah khasanah budaya nusantara,” tutur Herman mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Agustinus selaku pembina Koko Cici 2018 mengungkapkan ajang tersebut mencari duta budaya, sosial, dan pariwisata. Mereka mendapatkan bekal bagaimana berbicara di depan publik, mendampingi pejabat, sekaligus mempromosikan Yogyakarta.
Saat membuka PBTY, Sri Sultan HB X mengatakan PBTY ajang bersama membangun semangat ke-Indonesiaan menampilkan beragam kesenian budaya nusantara berpadu dengan seni budaya Tionghoa sebagai media terbaik menyatukan seluruh elemen masyarakat. Gubernur DIY mengingatkan seluruh pihak saling menjaga diri dalam pergaulan. Peran warga Tionghoa dapat menciptakan lapangan pekerjaan mengurangi kesenjangan ekonomi. Selain itu banyak tokoh Tionghoa ikut berjuang dalam kemerdekaan RI, tutur Sri Sultan HB X.
Ketua Umum PBTY XIII, Tri Kirana Muslidatun menceritakan dirinya menjadi ketua panitia PBTY sejak awal digelar terus berkembang, berkelas nasional hingga menyedot perhatian wisatawan asing yang datang. Menurut istri Walikota Yogyakarta, ide awalnya saat Murdjati Dardjito melaunching buku masakan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa pada Imlek 2005. Setahun kemudian digelar bazaar makanan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang hanya diikuti beberapa stan.
“Tahun demi tahun semakin banyak yang ikut PBTY dan kebudayaan dari 33 provinsi ditampilkan secara bergilir. PBTY sebelumnya hanya digelar lima hari dan selanjutnya tujuh hari atas permintaan Sri Sultan HB X. Selain festival makanan digelar pula karnaval yang diikuti 3000 peserta dan Festival Dragon memperebutkan piala raja diikuti peserta dari berbagai wilayah di tanah air,” jelas Tri Kirana yang menginformasikan PBTY 2018 juga menampilkan budaya Aceh, Papua, Kalimantan, Tegal, dan NTT.
Adapun kegiatan PBTV XIII diantaranya; panggung hiburan yang diisi para pelajar dan mahasiswa nusantara, lomba bercerita, sufak, Raokouling, Jianzi, karaoke Mandarin, kompetisi dance, kompetisi band 2018, pemilihan Koko Cici Yogyakarta 2018, Festival Dragon memperebutkan piala raja, pentas wayang potehi, pameran mebel Tionghoa Peranakan dan koleksi wayang potehi di Rumah Budaya Ketandan, belajar melukis kepala wayang potehi untuk umum, taman lampion dan karnaval. (April Lie)











