The news is by your side.

Negara yang Kehabisan Tempat bagi Para Miliunernya

10

Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda menjadi penguasa sebuah negara yang kehabisan tempat bagi orang super kaya?

Bayangkan sebuah negara berukuran kecil – kurang dari satu mil persegi (2 kilometer persegi) – dengan jalanan yang disinari matahari, sepi, tidak ada kotoran anjing dan tidak ada pajak penghasilan yang harus dibayar.

Sebuah tempat di mana balap motor dan berperahu pesiar adalah hiburan semua orang dan orang-orang menggunakan helikopter untuk bepergian dari titik A ke B, alih-alih memanggil taksi.

Sekarang bayangkan bahwa satu dari tiga orang yang tinggal di sana adalah miliuner – seringkali jauh lebih kaya dari miliuner.

Oase kecil ini, pada kenyataannya, menjadi magnet bagi kaum miliuner yang jumlahnya masih terus bertambah yang ingin pindah ke pantai yang cerah.

Untuk mengakomodasi mereka, para pejabat setempat mengambil langkah drastis sehingga pulau-pulau buatan di seberang laut dapat menjadi rumah mereka semua.

Kedengaran terlalu aneh untuk menjadi kenyataan, tapi negara aneh yang berlokasi di puncak tebing yang indah di Mediterania Prancis itu memang ada.

Ini adalah kerajaan kecil Monako – pusat miliuner dunia, dengan jumlah miliuner per kapita tertinggi.

Jika Anda berkendara di sepanjang pantai Mediterania di Prancis, Anda bisa sekilas memandangi pantai berkerikil dengan payung bertotol-totol yang disiram sinar matahari yang muncul di balik pohon sipres.

Kemudian entah dari mana, bangunan beton menjulang tinggi, muncul dari pinggir laut. Ketika Anda melihat gedung pencakar langit yang berkilauan, mobil Bugatti melesat melewati sebuah kasino terkenal di dunia, Anda tahu bahwa Anda telah tiba di negara-kota Monako.

Dengan kepadatan penduduk tertinggi di negara manapun di dunia, dan reputasi sebagai taman bermain untuk orang-orang super kaya dunia, permintaan properti di sini telah meningkat.

MonakoVALERY HACHE/AFP/GETTY IMAGES (Lebih 30% dari sekitar 38.000 penduduk Monako adalah milyuner.)

Tapi bukan hanya pemandangan laut yang menarik para pembeli ini: kerajaan berukuran saku ini juga merupakan surga pajak.

Oliver Williams, kepala biro konsultasi kekayaan WealthInsights, menganalisis statistik yang menggambarkan pergerakan kekayaan di seluruh dunia, dan menunjukkan bahwa bukan rahasia lagi bahwa orang-orang pindah ke Monako karena alasan keuangan.

“Tidak ada pajak penghasilan dan tidak ada pajak perusahaan untuk bisnis yang melakukan sebagian besar usaha mereka di Monako, jadi kami menemukan bahwa pajak adalah alasan utama orang-orang ingin pindah ke sini. Hal lainnya hanyalah gaya hidup,” katanya.

Lebih dari 30% dari sekitar 38.000 penduduk Monako adalah miliuner, menurut penelitian Williams. “Tempat lainnya di daftar adalah beberapa kota di Swiss seperti Jenewa dan Zurich dan seterusnya,” katanya.

Angka itu diperkirakan akan meningkat. Menurut analisa agen properti Knight Frank, akan ada 16.100 miliuner atau multimiliuner yang berharap bisa membeli sebagian kecil dari negara kecil ini untuk diri mereka sendiri dalam 10 tahun ke depan.

Namun saat ini mereka tidak dapat melakukannya. Tidak ada tempat lagi.

Penelitian dari Knight Frank menunjukkan harga rumah di Monako sekarang berada di atas pasar dunia dengan harga rata-rata antara €53.000 (Rp800 juta) dan €100.000 (Rp1,5 miliar) per meter persegi.

Portier CoveHak atas fotoVALODE & PISTRE
Image captionDesain arsitektur Portier Cove yang penuh dengan air.

Sedang membangun sebuah tambahan

Dengan ukuran hanya 0,78 mil persegi (2,02 kilometer persegi) Monako sangatlah ramai, menjadi negara terkecil kedua di dunia (setelah Vatikan) dan ruang bangunan yang ada telah diregangkan sampai batas dengan membuat rumah melekat di pegunungan, membangun ke langit dan bahkan turun ke bawah tanah.

Jadi, dalam upaya untuk mencoba dan memenuhi tuntutan suku superkaya baru, penguasa Monako saat ini, Pangeran Albert II, telah menyetujui sebuah proyek reklamasi tanah yang ambisius.

Pangeran Albert IIGETTY IMAGES (Pangeran Albert II, penguasa kerajaan Monako, merencanakan cara untuk menyeimbangkan milyuner negara tersebut namun juga meminimalkan kerusakan lingkungan.)

Pemerintah Monako mengawasi proyek tersebut dan pemodal swasta membayar untuk pembangunan dan akan menjual properti.

Proyek Ekstensi Perkotaan Lepas Pantai (Offshore Urban Extension Project) senilai US$1,5 miliar (Rp22,5 trilyun) akan menambah 15 hektare lahan ke kerajaan itu pada tahun 2026.

Portier Cove, akan mencakup pelabuhan yang cukup besar untuk 30 kapal, taman berlanskap dan bangunan tempat tinggal mewah dengan rencana untuk 120 rumah baru .

Tapi konstruksi itu melibatkan usaha berskala Herkules: menempatkan ruang kedap air yang terbuat dari beton, yang disebut caissons, ke laut.

Kemudian menguras air dari daerah sekitarnya dan mengisinya dengan pasir yang diimpor dari Sisilia, Italia, untuk membuat daratan buatan yang menonjol dari pinggir laut.

Dan perluasan pada skala ini tidak tanpa biaya. Meskipun perusahaan konstruksi Perancis, Bouyages Travaux Publiques, berencana untuk memindahkan flora dan fauna laut dari lokasi bangunan ke kawasan lindung lainnya dan menciptakan karang buatan tiga dimensi sebagai bagian dari pengembangan, masih ada risiko lainnya.

Pakar kelautan mengatakan bahwa tidak peduli seberapa hati-hati melakukan reklamasi lahan, pembangunan pulau-pulau buatan itu mengganggu kehidupan laut dan akan berdampak langsung pada lingkungan.

Diperkirakan ada ratusan jenis ganggang dan ribuan organisme laut yang hidup di perairan yang akan digantikan oleh lahan kering.

Pemerhati lingkungan memperingatkan bahwa tidak ada cara untuk sepenuhnya melindungi keanekaragaman hayati rapuh di kawasan tersebut dalam menghadapi proyek lepas pantai berskala besar tersebut.

Reklamasi tanah bukanlah hal baru bagi Monako – kerajaan tersebut telah memperluas wilayahnya sebesar 20% sejak tahun 1861. Namun sekarang lautan pun tampaknya bukan tandingan permintaan properti.

Menyikapi masalah tersebut, pangeran yang sadar lingkungan – yang mengendarai mobil listrik dan telah menyumbangkan jutaan euro melalui yayasannya untuk usaha penyelamatan lingkungan – berpendapat perluasan lahan di negaranya saat ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati terkait masalah lingkungan.

Tantangan unik bagi Portier Cove adalah bahwa para pembangun diminta untuk memenuhi sertifikasi pembangunan perkotaan berkelanjutan internasional termasuk HQE Aménagement, standar Metode Peninjauan Lingkungan Pendirian Bangunan Penelitian (Building Research Establishment Environmental Assessment Method) dan label Clean Ports.

Diharapkan proyek ini akan menjadi contoh unggulan yang akan diikuti oleh negara-negara lainnya.

BBC Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.