Jakarta – Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan negosiasi masih berjalan terkait dua kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz, dengan situasi menjadi kompleks karena situasi internal dalam negeri di Iran.
Dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden (KSP) di Jakarta, Rabu, Sugiono menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri lewat Kedutaan Besar RI di Tehran terus melakukan pembicaraan untuk meloloskan dua kapal Pertamina yang mengangkut dua juta barel minyak mentah.
“Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa,” ujar Menlu.
Tidak hanya itu, terdapat juga perkembangan terkait dengan syarat untuk dapat melintasi Selat Hormuz yang masih dinegosiasikan serta pertemuan diinisiasi Inggris dan Prancis dengan lebih 20 negara pekan ini untuk mengembangkan strategi terkoordinasi guna membuka kembali Selat Hormuz yang sangat vital untuk pelayaran.
“Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol yang bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz. Karena hal tersebut bertentangan dengan apa yang dikenal dengan freedom of navigation,” katanya.
Di sisi lain, negara peserta juga mendukung berbagai upaya diplomatis dan negosiasi politik untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz.
Terdapat juga rencana untuk menempatkan proteksi terhadap kapal-kapal yang melalui Selat Hormuz yang sesuai dengan hukum internasional atau melalui mandat dari PBB.
“Tapi, tentu saja ini masih dalam pembicaraan yang lebih lanjut,” tambah Sugiono.
(Antara)