Bila pada jalan dahulu kawasan Pecinan Kembang Jepun sebagai pusat perdagangan dan banyak bangsa yang datang bahkan tinggal serta hidup rukun. Maka, Pemkot Surabaya pun menghidupkan kembali kerukunan antar bangsa yang pernah terjadi di kawasan tersebut dalam Festival Rujak Uleg.
Festival Rujak Uleg bagian dari rangkaian perayaan HUT Surabaya yang rutin digelar setiap tahun di sekitar Jalan Kembang Jepun. Pada festival kali ini diikuti 1600 peserta lebih dengan mengenakan beragam kostum menarik. Para peserta tidak hanya warga Surabaya tapi juga datang dari berbagai provinsi dan mancanegara.
Festival Rujak Uleg dimulai pukul 7.30 WIB diawali dengan fashion show diikuti perwakilan semua peserta dan tarian Rujak Uleg. Selanjutnya nguleg bareng Walikota Surabaya Tri Rismaharini didampingi perwakilan negara sahabat diantaranya Konjen RRT di Surabaya Gu Jingqi, Konjen Amerika dan sebagainya.
Pada kesempatan itu, Tri Rismaharini mengajak seluruh warga bersyukur karena pada HUT Surabaya ke-726, Festival Rujak Uleg bisa diselenggarakan. Tahun lalu pada perayaan HUT Surabaya ke-725 ada peristiwa bom. Risma meminta warga saling rukun tidak ada kebencian dan dendam, karena semua agama tidak mengajarkannya.
“Lupakan perbedaan, tingkatkan persatuan agar menjadi kekuatan kita lebih maju,” pinta Risma sembari mengucapkan selamat Hari Jadi Kota Surabaya.
Festival Rujak Uleg 2019 memecahkan rekor MURI yakni cobek terbesar berdiameter 250 cm dan peserta terbanyak. Peserta terdiri dari perwakilan 31 kecamatan, 36 Organisasi Perangkat Daerah, komunitas, instansi pemerintah dan swasta.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan peserta tahun ini terbanyak. Adapun penjurian peserta rujak uleg tahap pertama diambil 60 nominasi, kemudian disaring sehingga hanya tersisa 12 finalis. Penilaian para juri berdasarkan rasa, dekorasi, kostum, yel yel, dan kebersihan.
Menariknya hampir seluruh peserta mengenakan kostum unik seperti hantu, wayang orang, baju adat, hingga pakaian daur ulang. Peserta dari India mengenakan pakaian sari, peserta dari Tiongkok mengenakan busana khas, demikian pula peserta dari Bali memakai pakaian adat, juga dari NTT, Papua dan sebagainya.
Setelah sirine dibunyikan semua peserta beramai-ramai mengulek rujaknya di atas cobek. Kemudian para peserta membagikan rujaknya kepada pengunjung yang menyaksikan festival rujak uleg.
Chandra Wurianto dari Komunitas Tionghoa Surabaya mengungkapkan rasa syukurnya karena Festival Rujak Uleg Surabaya berjalan dengan sukses. “Baik peserta maupun penonton terlihat tertib sehingga kegiatan berlangsung dengan meriah dan aman terkendali,” jelasnya di sela acara.
Millenial Road Safety di Jembatan Suramadu Pecahkan Rekor Muri
Pada hari dan waktu yang sama diselenggarakan Millenial Road Safety Festival di Jembatan Suramadu diikuti 30.000 orang datang dari berbagai kota dan kabupaten di Jatim. Kapolda Jatim Luki Hermawan membuka acara sekaligus memberangkat peserta di kilometer 1600.
Millenial Road Safety Festival memecahkan rekor MURI yakni membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 5.500 meter di Jembatan Suramadu. Acara dimeriahkan tari Gandrung massal, cheerleaders, senam kolosal, paramotor, dan goyang dayung kapal.
