Indonesia (Pernah) Punya “Anak Ajaib” asal Surabaya

0 376

Anak ajaib itu bernama Audrey. Audrey selesaikan SD 5 thn, SMP 1 thn, dan SMA 11 bln. Dia lulus SMA di umur yg sangat muda, 13 thn! Masalah terjadi krn tdk ada kampus di Indonesia yg mau terima anak umur 13 thn jadi mahasiswa. Jadi dia kuliah di luar negeri, di University of Virginia. Kalian tau jurusan apa? FISIKA! Dia selesaikan studinya dlm 3 thn. Di umur 16 thn dia jadi sarjana fisika dgn predikat Summa Laude! Sempurna!

Tidak hanya itu, umur 10 thn skor TOEFL nya 573, memecahkan rekor MURI dgn nilai TOEFL tertinggi di usia termuda. Umur 11 thn hafal luar kepala kamus Indonesia–Inggris setebal 650 halaman. Umur 14 thn skor TOEFL 670!! Sekarang Audrey menguasai 6 bahasa asing: Inggris, Prancis, Jerman, Mandarin, Rusia & bahasa Latin.

Tetapi karena keajaibannya itu, justru membuat dia terkucilkan. Kalangan dewasa menganggap dia tidak normal. Teman sebaya anggap dia aneh sendiri, harus dijauhi, tak bisa diajak berteman, harus dikucilkan. Kondisi lingkungan seperti itu membuatnya menderita. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Banyak org luar negeri menyayangkan hal ini karena kondisi di Indonesia yg demikian itu membuat kemampuan Audrey di masa remajanya tersia-siakan. Tp di balik semua perlakuan itu, ternyata Audrey adalah org yang begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yg dia tulis yg menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini.

Thn 2017 kemarin dia dinobatkan menjadi salah satu dari 72 ikon prestasi Indonesia. Berikut ini ulasan dari Pak Dahlan Iskan:

SULITNYA (PUNYA) ANAK SUPER PANDAI

UMUR Audrey baru 4 thn saat itu.
Tp pertanyaannya setinggi filsuf:
Kemana perginya rasa bahagia?
Atau: Apa arti kehidupan?

Pertanyaan seperti itu membuat orang tuanya kewalahan karena begitu sering hal seperti ini dia tanyakan dan tidak mendapatkan jawaban. Hal ini membuat gurunya belingsatan dan Lingkungannya jengkel. Di mata mereka, Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan, tak pantas bertanya seperti itu. Bahkan, ada yg menganggapnya mengidap kelainan jiwa.

Padahal dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik, sangat baik, bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Namun, dia merasa terasing, baik di rumah, sekolah, pergaulan maupun di tempat ibadah.

Org tuanya, terutama ibunya, merasa semakin jengkel. Saat Audrey melanjutkan pertanyaan ”arti kehidupan” itu dengan pertanyaan yg lebih sulit dijawab, anak kecil ini semakin tambah menjengkelkan. Anak kecil ini makin menjengkelkan ketika bertanya tentang orang yang miskin dan miskin sekali kenapa harus jadi pemulung?

Ketika sudah berada di sekolah dasar, dia berisekras mau ke tempat pembuangan sampah untuk mencari pemulung. Audrey ingin membantu mereka. Audrey ingin melakukan seperti apa yang disebut dalam Pancasila, khususnya sila kelima, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila, tetapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini: Mengapa yg tertulis & diajarkan di Pancasila tidak sesuai dgn kenyataan? Dlm kehidupan sehari-hari di masyarakat, seperti yang dia lihat maupun yang dia alami sendiri sebagai pribadi, sebagai anak, bahkan sebagai keluarga Tionghoa.

Dia tetap ingin ke tempat pemulung, ingin tahu apa arti kehidupan. Tentu ibunya melarang, bahkan memarahinya. Semua ibu mungkin akan melakukan hal yang sama.

Di kesempatan yang lain waktu, Audrey membuat kejutan lagi. Ia bercita-cita ingin menjadi tentara. Cita-citanya ini didasari agar dia bisa menjadi pejuang seperti pahlawan. Pahlawan yang fotonya dipajang di dinding kelasnya. Kisah heroik seperti kisah pahlawan yang diceritakan oleh guru-gurunya.

Mendengar hal ini, ibunya tentu marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yg dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Setelah penantian yang sangat panjang, akhirnya ibunya mengandung.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi buah hati satu-satunya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Sang ibu menyanggupi untuk menyiapkan apa saja. Ibunya seorang insinyur kimia, sedangkan saminya insinyur mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya beberapa usaha lainnya. Jadi bisa dikatakan, ia berada di keluarga yang kaya.

Harapan pada anaknya tentunya seperti umumnya harapan orang tua, terlebih lagi anak tunggal. Untuk menanti kehadiran buah hati saja membutuhkan waktu yang lama, jadi tidak salah jika harapan orang tua sangat tinggi. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa jadi org sukses. Anaknya bisa terkenal, terkemuka, dan kaya. Intinya lebih sukses dari orang tuanya dan kemudian mendapat suami yang sepadan.

Tapi ternyata kenyataan yang terjadi justru membuatnya repot. Ia merasa malu dan juga marah. Teman-teman ibunya menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan oleh banyak orang.

Ada orang yang mengucapkannya terang-terangan di depan anak. Mungkin mengira anak ini tidak akan paham apa yg diucapkan orang dewasa. Ternyata, Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar-benar dibawa ke dokter jiwa.

Karena memang anak cerdas, dia tahu apa yg harus diperbuat ketika bertemu dokter jiwa, jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya, berkualitas atau tidak. Karena tidak ”sembuh”, Audrey dibawa ke dokter yg lain lagi, dan dibawa ke dokter berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan, mana dokter yang kurang paham dan mana ygan lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yg kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit org lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekalipun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi, ia tak mau sekolah. Ia tidak mau sekolah karena terlalu mudah. Orang tuanya mencarikan jalan keluar dengan pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk kelas enam sekalipun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Tidak ada universitas yang bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 thn.

Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, akhirnya ada universitas di Amerika Serikat yang mampu menampungnya. Audrey tentu harus dites dan hasilnya lulus. Dalam tes bahasa Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis. Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yg menarik, yaitu fisika murni. Dia pun lulus S-1 fisika murni hanya dalam waktu dua tahun, dengan tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Org tuanya tentu gembira tapi sekaligus sedih, marah dan bingung. Audrey tetap ingin masuk tentara, menjadi pejuang negara, seperti pahlawan yg dikenalnya di foto-foto di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat org tuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat utk menyadari bhw dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Blm tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yg luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. risiko bermata sipit dan berkulit kuning. Ia juga dinasihati tentang risiko pergaulan, kekerasan, apalagi dia seorang wanita. Saking protektifnya si Ibu, sampai-sampai ketika ada tukang yang datang ke rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Karena ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit ini membuatnya memberontak. Diam-diam dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tiap kali bercermin, dia memang mengakui matanya masih sipit, tetapdi dia bertekad untuk tidak mau berbahasa mandarin. Ia berhenti kursus Mandarin, bahkan bertekad untuk tidak menikah dengan orang Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila yang ajarannya mulia tidak membeda-bedakan warga negara. Dia tahu dalam kenyataan bahwa pembedaan itu ada dan justru itu harus diperjuangkan, agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yang tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yg masih begini miskin, dia juga kecewa golongan Tionghoa masih diperlakukan tidak adil & beradab oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan kemana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yg periang & penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan org tuanya. Terutama tentang penyebab kakeknya meninggal. Dari cerita orang tuanya, kakeknya meninggal karena sedih setelah ditinggal mati istrinya yang menjadi korban tabrak lari.

Audrey kecil sangat sayang dengan oma & opanya. Audrey memanggilnya Ama & Akong. Pagi itu jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah alun-alun Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya dan hingga sekarang tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa org yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang & pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad utk mengisi umur yg pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orang tuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang-orang Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang-orang itu memiliki nama Tionghoa.

Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk membela negara, ternyata tidak harus dengan cara mengubah identitas. Dgn nama tetap China, dgn kulit tetap kuning, dgn mata tetap sipit, ternyata orang-orang itu begitu fanatik pd ke-Singapura-annya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dgn mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan bbrp buku pelajaran bahasa Mandarin utk anak Indonesia. Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Spt di Singapura dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap mash membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Ia mengajar bahasa Inggris utk level tertinggi di Shanghai sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yg baik. Saya sudah dikirimi draft konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya jg sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

”Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kapada saya seperti itu,” kata sang ibu kepada saya. ”Saya menyesal,” tambahnya. ”Saya sudah berubah. Saya mau berubah,” kata sang ibu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.