Seni dan budaya menjadi sarana paling tepat menyatukan bangsa. Hal ini terlihat saat digelarnya Harmoni Budaya Sunda Jawa dan launching nama Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Pasundan di Kota Surabaya, Provinsi Jatim (6/3). Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jabar Ahmad Haryawan (Aher), Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Jatim Soekarwo, Pangdam V Brawijaya Arif Rahman, Wakapolda Jatim Awan Samodra, Bupati dan Walikota se-Jatim, Kepala Dinas Pariwisata Jatim dan Jabar, perwakilan pejabat Jabar dan para budayawan.
Penyatuan dua budaya bukan sekedar seremonial, karena pada tahun 1279 terjadi Perang Bubat saat pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Dimana terjadi perselisihan antara Patih Gajahmada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda di Mojokerto.
“Perselisihan 661 tahun yang lalu itu bisa selesai pada hari ini. Tidak ada lagi perselisihan, semua bersaudara,” tutur Gubernur Jatim.
Hal yang sama dikatakan Gubernur Jabar yang mengapersiasi adanya inisiasi penyatuan dua budaya Jawa Sunda. Sehingga perselisihan di zaman kerajaan bisa disatukan kembali. “Orang Sunda walau tinggal di Jawa tidak mau disebut orang Jawa, mungkin adanya perang Bubat Pasundan tersebut,” tutur Aher.
Sejarah masa lalu dua kerajaan Jawa Timur dan Jawa Barat untungnya tidak terjadi di masa kecanggihan teknologi sehingga tidak ada jejak rekamnya. “Kisah itu terkesan subyektif. Jawa Timur dengan subyektivitasnya demikian pula Jawa Barat. Sekarang tugas akademisi menyatukan dua subyektivitas itu menjadi obyektivitas,” ujar Aher yang mengakui perang Bubat hanya diketahui dari manuskrip dan kidung, sehingga sulit dipercaya.
Peristiwa Bubat muncul setelah 200 tahun kemudian ada yang menulisnya yakni orang Belanda. Dari tulisan itu munculah perselisihan Jawa Sunda, karena politik devide et impera Belanda. Peristiwa Bubat tidak tertulis di 50 prasasti kerajaan Majapahit maupun 30 prasasti kerajaan Sunda yang ditemukan.
Sultan HB X menyampaikan peristiwa Bubat terjadi lama dan telah dilupakan masyarakat. “Peristiwa Bubat sebagai kecelakaan sejarah. Semoga menjadi nilai tambah secara kultural bisa diselesaikan bersama, tidak ada lagi sekat. Peristiwa ini bisa terjadi di semua etnik,” jelas Sultan HB X.
Akhirnya diresmikanlah menjadi nama jalan yang dipelopori di Yogyakarta pada tahun lalu, menyusul Surabaya. Sedangkan di Jawa Barat baru di launching pada bulan Mei mendatang yakni Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Majapahit. Pemberian nama jalan untuk memutus peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada kedua etnik secara turun temurun.
“Harapannya penamaan jalan menjadi tonggak awal rekonsiliasi etnik Sunda Jawa. Tidak ada dosa turunan, kita utuh sebagai satu bangsa,” tutur Sultan HB X.
Gubernur Jatim mengatakan penamaan nama jalan baru tersebut mengganti nama jalan yang sudah ada, sehingga berefek pada administrasi seperti penggantian KTP, rekening bank dan sebagainya. Namun rekonsiliasi sangat penting akibat peristiwa sejarah yang terus membekas terhadap masalah hubungan kemanusiaan, jelas Soekarwo. (April Lie)







