Jakarta – World Food Programme (WFP/Program Pangan Dunia), bagian dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan Indonesia menunjukkan kepemimpinan global dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim, yang disampaikan dalam sesi diskusi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Assistant Executive Director for Partnership and Innovation World Food Programme (WFP), Rania Dagash-Kamara dalam pernyataan diterima di Jakarta, Sabtu menilai pendekatan Indonesia mencerminkan kepemimpinan pemerintah yang kuat dan terkoordinasi dalam membangun ketahanan pangan berbasis sistem.
“Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang tangguh terhadap iklim membutuhkan kepemimpinan pemerintah yang kuat, sistem perlindungan sosial yang responsif, serta keberanian untuk bertindak sebelum krisis terjadi. Tidak banyak negara yang mampu melakukan ini secara terpadu, dan Indonesia adalah salah satunya,” ujarnya.
Penilaian tersebut disampaikan dalam sesi diskusi panel bertajuk “Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems” yang digelar di Indonesia Pavilion, WEF, Davos, Swiss, Kamis (22/1).
Pandangan tersebut diperkuat oleh CEO ClimateAi, Himanshu Gupta, yang menilai strategi Indonesia relevan di tengah dinamika global dan meningkatnya risiko iklim.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal penting dalam menjaga ketahanan pangan, termasuk capaian swasembada beras di sebagian besar tahun, yang perlu diperkuat melalui pendekatan sistemik dan berbasis data.
“Indonesia memiliki modal penting dalam ketahanan pangan, termasuk tingkat swasembada beras di sebagian besar tahun. Pendekatan sistemik dan berbasis data akan menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan tersebut di tengah tantangan iklim dan dinamika global,” jelasnya.
Dari perspektif industri, Chairman and Group CEO United Phosphorous Limited (UPL), Jai Shroff, menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui investasi teknologi pertanian.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berinovasi di sektor pertanian. Banyak masyarakat yang terlibat langsung dalam pertanian, dan dengan teknologi yang tepat, perubahan besar sangat mungkin terjadi,” katanya.
Sementara itu, petani dari Fazenda Ribeirão, Brasil, Ana Carolina Zimmerman, menekankan pentingnya penguatan institusi, kolaborasi internasional, serta kebijakan yang memastikan manfaat inovasi dapat dirasakan secara merata.
“Peran institusi riset yang terhubung dengan pemerintah dan pembelajaran global sangat penting untuk membangun pertanian yang produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim. Indonesia dan banyak negara lain menghadapi tantangan ketimpangan yang serupa. Pelajaran utamanya adalah memastikan inovasi dan teknologi pertanian dapat diakses oleh semua, bukan hanya sebagian,” ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia dirancang secara terukur dan berbasis data sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan disiplin fiskal.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) waktu setempat.
Presiden menilai pendekatan tersebut menjadi kunci dari ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (Antara)