The news is by your side.

5 Tahun Lagi Jakarta Bisa Macet Total

29

Macet, sebuah kata yang cukup untuk menggambarkan kondisi lalu-lintas Jakarta. Terkonsentrasinya penduduk Indonesia di Ibu Kota ini, membuat jalanan di Jakarta tidak dapat diandalkan untuk memenuhi syarat tepat waktu.

Bahkan jika tingkat kemacetan tidak dapat diatasi maka diprediksikan hanya dalam waktu lima tahun lagi, atau pada 2022, akan tercipta kondisi kemacetan total, semua kendaraan tak bisa bergerak.

Kesimpulan di atas datang dari lembaga konsultasi The Boston Consulting Group. Perusahaan asal negeri Paman Sam itu menjabarkan temuan-temuannya pada acara Unlocking Cities yang diadakan oleh layanan aplikasi transportasi umum Uber di Jakarta, Rabu (1/11).

The Boston Consulting Group, ditunjuk langsung oleh Uber untuk mengkaji potensi manfaat diadopsinya konsep ridesharing (satu kendaraan diisi oleh orang-orang dengan tujuan yang sama/searah) secara meluas di kota-kota Asia termasuk Jakarta.

Temuan-temuan di kajian ini dilakukan melalui riset data transportasi yang tersedia untuk publik, wawancara dengan pakar-pakar transportasi, dan riset primer dengan komuter di tiap kota. Kajian ini juga mencakup kota-kota seperti Singapura, Bangkok, Hong Kong, Taipei, Ho Chi Minh, Hanoi, dan Manila.

Mobil menjadi jenis kendaraan yang mengambil alih lahan berharga untuk parkir dan menurunkan kualitas udara, dengan risiko kemacetan total. Dengan lebih dari empat juta mobil beredar di Jakarta, dibutuhkan 24.000 lapangan sepak bola untuk memarkir semuanya.

Dari sisi polusi, mobil pribadi di Jakarta menghasilkan 22 juta metrik ton CO2 per tahun. Angka yang cukup untuk mengisi Stadion Gelora Bung Karno sebanyak hampir 5.000 kali.

Hal tersebut juga berdampak pada 1,8 kali lebih lamanya pengendara untuk bepergian pada jam-jam sibuk (seperti pagi dan sore hari), ketimbang pada jam-jam lainnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, yang hadir dalam acara tersebut turut berbagi data.

“Berdasarkan data KTP Jakarta, mobil meraup 30 persen dari total jumlah kendaraan di DKI Jakarta, sedangkan 70 persennya merupakan motor,” papar Sandi, sapaan akrab sang wagub.

Meski persentasenya lebih kecil, menurut Sandi, pengemudi mobil adalah yang paling banyak mengeluhkan soal macet. Sementara keluhan pengendara motor paling banyak mengeluh masalah pekerjaan atau uang.

John Colombo, Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia (kedua dari kiri) dan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno (kedua dari kanan) saat tampil dalam acara pemaparan hasil studi yang diadakan Uber terhadap lalu lintas kota-kota besar seperti Jakarta, Rabu (1/11/2017).
John Colombo, Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia (kedua dari kiri) dan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno (kedua dari kanan) saat tampil dalam acara pemaparan hasil studi yang diadakan Uber terhadap lalu lintas kota-kota besar seperti Jakarta, Rabu (1/11/2017). | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Uber juga melakukan studi terpisah pada Juli hingga Agustus 2017 kepada 9.000 responden berumur antara 18 hingga 65 tahun di 9 kota besar se-Asia, termasuk Jakarta.

Hasilnya mengejutkan, pengemudi mobil membuang waktu rata-rata selama 90 menit setiap harinya karena kemacetan (68 menit) serta parkir (21 hingga 30 menit). Setara dengan lebih dari 22 hari per tahun.

Para pemilik mobil itu juga mengungkapkan tiga kerepotan utama yang dialami, yaitu terlalu banyak waktu terbuang karena terjebak macet (84 persen), kesulitan menemukan lahan parkir (60 persen), dan biaya parkir yang tinggi (45 persen).

Kembali ke hasil temuan The Boston Consulting Group, mereka menemukan di Jakarta jumlah kendaraan yang beredar sekitar 50 persen lebih banyak dari daya tampung jalan. Oleh karena itulah kemacetan nyaris mustahil dihindari.

“Jika kita melihat dari jendela kaca mobil, banyak mobil di Jakarta yang dikendarai hanya oleh satu orang. Ternyata, jumlahnya pun mencapai 50 persen,” kata Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia, John Colombo.

Kepadatan itulah yang membuat Uber yakin layanan yang mereka sediakan bisa menjadi salah satu solusinya.

Kondisi jalanan seperti itu, menurut laporan The Boston Consulting Group, membuat layanan ride sharing seperti yang ditawarkan Uber bisa mengurangi jumlah penggunaan mobil, tidak ada mobil menganggur, menjadi pelengkap transportasi umum, dan solusi saat pemerintah memperluas jangkauan transportasi publik.

Colombo memaparkan, 24 persen perjalanan Uber di Jakarta dimulai dan diakhiri di pinggiran kota. Sedangkan 4 persen perjalanan diawali dan diakhiri dalan radius 200 meter dari halte Transjakarta atau stasiun KRL.

Dengan adanya Uber, ia berharap masyarakat Jakarta berhenti menggunakan mobil pribadi. Menurut data survei yang Uber lakukan, 29 persen masyarakat Jakarta telah memutuskan untuk berhenti menggunakan mobil.

Colombo juga memprediksi, kelak masyarakat tidak akan hanya memilih jenis transportasi tertentu, tetapi memanfaatkan kombinasi dari beragam pilihan yang ada.

“LRT dan MRT nantinya pun tidak mungkin datang ke pintu rumah kita. Jadi yang kita lihat banyak pengguna kami yang naik Uber dari rumahnya sampai stasiun. Dan pakai Uber lagi dari stasiun sampai ke tujuan,” pungkas Colombo.

Leave A Reply

Your email address will not be published.