Workshop Bahasa Mandarin Digelar Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia Jatim – UK Petra Menjadi Ajang Silaturrahmi Guru Murid
Sangat menarik bila sebuah pelatihan tak sekedar menyerap ilmu yang diajarkan para guru namun juga menjadi ajang silaturrahmi, bagai sebuah keluarga besar yang memiliki ikatan batin. Seperti itulah suasana dalam workshop yang digelar Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia (ICATI) Jatim bersama Sastra Tionghoa UK Petra Surabaya selama lima hari dari 2 – 6 Juli.
Para murid terdiri dari guru TK, SD, SMP dan SMA berjumlah 110 orang datang dari berbagai sekolah di Jatim hingga Bali mengikuti pelatihan dengan guru pembimbing Jiang Ximei dan Zhu Naijie dari Taiwan. Rata-rata para guru yang mengikuti pelatihan merasa beruntung mendapatkan tambahan ilmu yang diajarkan para guru pembimbing dan bahagia dapat reuni kembali.
Tan Hwan Ho salah satu peserta menceritakan telah mengikuti pelatihan hingga 10 kali dan merasa puas. Dalam pelatihan itu, ujar Tan Hwan Ho, berbagai teknik mengajar bahasa mandarin untuk anak didik semua usia diajarkan. “Saya mengajar murid dewasa dan agak berbeda sedikit untuk anak sekolah TK maupun SD,” jelas Tan Hwan Ho yang menjadi pengajar bahasa Mandarin secara privat selama 20 tahun.
Mengajar bahasa Mandarin untuk anak TK dan SD harus gembira dan banyak menggunakan media maupun simulasi seperti dikatakan guru Jiang Ximei dan Zhu Naijie, imbuh Tan Hwan Ho yang juga mengajar di Universitas 45 Surabaya dan kini banyak muridnya telah bekerja di berbagai profesi terutama di bidang perhotelan.
Sementara itu Henry Samuel Tanuwijaya Wakil Ketua Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia Jatim mengatakan pelatihan dimaksudkan agar para guru di tanah air dapat mengajar bahasa Mandarin dengan mudah dan interaktif. Adapun visi misi Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia Jatim mempermudah dan memberi akses kepada para pelajar di tanah air yang ingin melanjutkan pendidikan ke Taiwan.
“Dulu sulit mendatkan info belajar ke Taiwan, tapi dengan adanya organisasi turut mempermudah, karena kami menjembatani para pelajar di tanah air,” jelas Henry lulusan Universitas Nasional Taiwan.
Henry menambahkan menempuh pendidikan di luar negeri sekembalinya ilmu yang didapat diterapkan di tanah air, sehingga turut memajukan bangsa. “Sekolah di Taiwan belajar teknologi terkini dan itu sangat penting untuk diterapkan di tanah air. Kita harus mengikuti perkembangan untuk persaingan global bila tidak akan tertinggal dengan negara lain,” ujar Henry yang berharap Indonesia semakin maju dan memenangkan perdagangan.
Orlando Ong pengurus Ikatan Citra Alumni Taiwan Indonesia Jatim menambahkan acara workshop yang diadakan rutin setiap tahun menjadi ajang pertukaran pengetahuan budaya antara guru dan murid dengan budaya masing-masing. Acara workshop untuk guru Mandarin diadakan pula di Pekanbaru Riau, Jakarta dan Bandung. ICATI berpusat di Jakarta dan didirikan selain di Surabaya juga di Bandung, Palembang, Medan dan kota besar lainnya di tanah air.
Jeffrey S.C. Hsiao Direktur Umum Taipei Economic Trade Office Surabaya dalam kesempatan itu memuji keberhasilan workshop melihat antusias para guru dalam mempelajari metode belajar bahasa Mandarin. Demikian pula yang dikatakan Jiang Ximei yang bahagia bertemu kembali dengan murid lama dan baru seperti keluarga sendiri. “Delapan belas tahun lalu kemari dan sekarang datang lagi, bertemu para murid, bahkan ada yang menggendong cucu,” jelasnya. (Av)



