“Wonder Woman 1984” Ungkap Pentingnya Kejujuran

0 19
Inhuaonline – Setelah berkali-kali diundur, film “Wonder Woman 1984” akhirnya tayang di bioskop Indonesia pada 16 Desember dan di Amerika Serikat pada 25 Desember.

Semula, film produksi DC Comics dan Warner Bros. tersebut digadang-gadang akan tayang Juni 2020 namun beberapa kali diundur karena pandemi COVID-19.

Film lanjutan dari kisah “Wonder Woman” di tahun 2017 itu kini mengangkat sepak terjang putri pejuang dari bangsa Amazon, Diana Prince (Gal Gadot) dalam membasmi kejahatan di tahun 1984.

Film kedua Wonder Woman ini bersetting waktu tujuh dekade setelah film pertamanya.

Mengapa 1984?

Sutradara Patty Jenkins menganggap perlu menyoroti era 1980-an karena era itu identik dengan sang pahlawan.

“Kenapa 1984? Kami ingin membawa Diana Prince ke dunia modern dan tahun 1980-an adalah periode yang identik dengannya,” kata Patty Jenkins dikutip dari Cinemablend, Minggu.

“Ini adalah puncak dari peradaban Barat dan kesuksesan dunia yang kita semua tinggali setelahnya. Jadi aku penasaran untuk menempatkan wanita hebat (Wonder Woman) ini ke puncak sistem kepercayaan modern itu,” kata dia melanjutkan, merujuk bahwa film mengambil setting waktu saat terjadinya Perang Dingin.

Dibuka dengan kejadian masa lampau di sebuah pulau mistis Themyscira, tempat asal Diana.

Di sana, Diana kecil (Lilly Aspell) digambarkan tengah mengikuti sebuah turnamen adu kekuatan fisik di sebuah stadium.

Diana sempat terjatuh dari kudanya. Namun dia cerdik dan mengambil jalan pintas untuk kembali ke arena tepat waktu.

Mendekati akhir perlombaan, Jenderal Antiope (Robin Wright) menyeretnya keluar arena.

Antiope menasihati Diana tentang arti kejujuran karena Diana tampaknya tidak jujur dalam permainan tersebut.

“Kau ambil jalan pintas. Kau tidak bisa jadi pemenang karena kau belum siap dan ini memalukan. Tak ada pahlawan sejati yang lahir dari ketidakjujuran,” kata Antiope yang merupakan bibi Diana.

Adegan ini penting karena akan menjadi inti dari seluruh isi film yakni tentang makna sebuah kejujuran dalam kehidupan.

Penonton kemudian diajak ke Washington D.C.Amerika Serikat pada tahun 1984.

Transisi waktu terlihat sangat jelas dengan perubahan warna sinematografi yang awalnya serba emas dan glamor menjadi layar penuh warna dan segala hal berlebihan yang jadi ciri khas era 80-an mulai dari setelan olahraga warna-warni stabilo, tas pinggang, atasan dengan bantalan bahu sampai baju pengantin berlengan luar biasa gembung.

Di tahun ini, Wonder Woman dicitrakan sebagai sosok misterius yang berjibaku membasmi kejahatan.

Tak diragukan lagi, akting Gadot sangat mumpuni dan seolah tak perlu berusaha keras menampilkan sosok wanita tangguh yang jago berkelahi.

Emosi Gadot juga sangat kentara saat Jenkins ingin menyampaikan kehidupan sang Wonder Woman yang patah hati, kesepian, ditinggal kekasih pilotnya, Steve Trevor (Chris Pine).

Kisah lantas berlanjut ke pertemuan Diana dengan rekan kerja barunya Barbara Minerva (Kristen Wiig), seorang perempuan kikuk yang terpesona dengan seosok Diana yang menurut dia keren, seksi dan kuat.

Tokoh lain yang muncul adalah Lord Maxwell (Pedro Pascal), seorang pria pengusaha yang memiliki misi mengumpulkan artefak kuno apa pun yang bisa didapatkan, sehingga akan membuatnya “sekuat dewa.”

Akibat ulah Lord Maxwell itulah, sejumlah “keajaiban” terjadi termasuk munculnya kembali Steve Trevor (Chris Pine), kekasih Diana yang dikisahkan tewas di film Wonder Woman pertama.

Plot berantakan

“Wonder Woman 1984” saat ini memegang 87 persen rating “segar” dari Rotten Tomatoes dengan 100 ulasan. Semakin banyak ulasan yang masuk, peringkat ini akan terus berubah.

Sayangnya, film ini mendapat ulasan kurang menarik dari beberapa kritikus film dunia.

Kritikus film Angelica Jade Bastien dari Vulture dikutip dari CNBC, Minggu, mengungkapkan, daya tarik Diana Prince adalah feminitas dan naluri keibuannya. Namun, karakter Diana tidak berkembang karena plot yang berantakan.

Kritikus Esther Zuckerman dari Thrillist juga menyatakan hal yang sama. Ia menyebutkan, film ini menyenangkan hanya saja plot yang diberikan berantakan.

“Ada banyak hal yang disukai di Wonder Woman 1984, seperti penampilan berani dari para pemain yang menyenangkan, kostum fantastis, dan arahan Patty Jenkins. Namun, plotnya kehilangan arah, tidak jelas tentang apa yang membuat karakter itu begitu hebat,” kata Zuckerman.

Selain menyoroti soal alur cerita yang buruk, kritikus juga mencibir efek CGI dalam film.

Metamorfosis Barbara menjadi Cheetah dianggap amat murahan.

Peter Debruge dari Variety membandingkan sosok Cheetah dalam komik yang seharusnya memiliki perawakan wanita nyaris telanjang dengan beberapa bintik di tubuhnya diterjemahkan jadi sosok mirip kucing dengan bulu-bulu di sana sini.

Deburge menilai Cheetah versi Jenkins “tidak ganas atau sepadan untuk Wonder Woman. Kemudian lagi, pada saat kedua musuh ini saling berhadapan, film tersebut sudah lama berhenti menyenangkan.”

Isu feminisme

Meski dikritik habis-habisan betapa film ini plotnya berantakan, namun ada satu yang menonjol dari “WW1984” adalah upaya Jenkins mengangkat isu feminisme lewat sejumlah adegan yang nampaknya diangkat dari pengalaman para perempuan sehari-hari.

Dalam film, Diana dan Barbara mendapatkan sejumlah perhatian pria yang mereka tak inginkan mulai dari gombalan-gombalan iseng, cat calling, sampai serangan seksual.

Bahkan seorang Diana Prince mengaku kepada Barbara yang sangat mengaguminya bahwa: “Hidupku mungkin tak seperti apa yang kau pikirkan. Kita semua mengalami kesulitan.”

Secara tak langsung, hal itu menyiratkan penyebab kehidupan Diana yang tertutup dan keinginan kelam Barbara akan kekuatan.

Dalam satu adegan, Jenkins juga mengangkat sebuah ide yang sebenarnya lebih terasa sebagai opresi bagi para perempuan yakni perempuan bisa jadi pintar sekaligus seksi dan cantik ketika Barbara mengeluhkan bahwa dia tak pandai memakai sepatu-sepatu berhak tinggi.

Film ini juga terasa segar karena memberikan sudut pandang bagi para pemirsa, utamanya perempuan, bahwa tak ada batasan untuk menggantungkan cita-cita.

Dalam film berdurasi 151 menit ini, bahkan Wonder Woman pun bisa terbang dengan ketekadan hati yang kuat dan tentu saja kejujuran.

Bagaimanapun juga, menyenangkan melihat bagaimana rasanya jadi wanita dirayakan dalam sebuah film superhero.

Jika Anda menonton, jangan buru-buru meninggalkan bangku bioskop karena ada sebuah adegan tambahan, post-credit, yang menjawab pertanyaan Diana dalam film.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: