InhuaOnline, Singkawang – Menyambut perayaan festival pertengahan musim gugur atau Zhong Qiu Jie yang jatuh pada 10 September 2022, berbagai macam kue bulan pun
dihadirkan, mulai dari yang berukuran jumbo dengan diameter 50 centi meter, hingga kue bulan kekinian berbentuk karakter bunga.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, pada moment pertengahan musim gugur, seluruh keluarga besar akan berkumpul untuk menyantap kue bulan dan merayakan festival kue bulan yang jatuh pada setiap bulan penuh atau bulan purnama.
Biasanya anggota keluarga yang terpisah jauh dengan keluarga, akan kembalim berkumpul dengan keluarga besarnya. Oleh karena itu, perayaan kue bulan ini menjadi hari raya masyarakat Tionghoa kedua yang terbesar setelah perayaan Tahun Baru Imlek.

Perayaan kue bulan tidak hanya dirayakan oleh keluarga tetapi warga Tionghoa dan masyarakat Singkawang secara umum. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, festival kue bulan juga sebagai sarana melestarikan budaya Tionghoa, dan membangun sikap peduli kepada sesama dalam suasana yang rukun, damai, dan harmonis.
Zhong Qiu ( 中秋 ) atau yang dikenal sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur merupakan perayaan terbesar kedua bagi masyarakat Tionghoa setelah Tahun Baru Imlek. Asal mula Festival Zhong Qiu, dirayakan pada pertengahan musim gugur yang jatuh pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan imlek.
Zhong Qiu juga merupakan moment untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Festival Zhong Qiu dirayakan dengan menaruh meja sembahyang di halaman terbuka, dengan persembahan kue bulan, yang didalamnya berisi delima, kurma, kundur, kwaci dan biji teratai.
Kue bulan bermakna simbolis hidup rukun, harmonis, kebebasan, dan kedamaian bagi masyarakat Tionghoa. Setelah bersembahyang kepada bulan, seluruh anggota keluarga duduk bersama makan kue bulan sembari menikmati pemandangan bulan purnama.

Liu Fun Kian alias Afun salah satu pedagang kue bulan yang menggelar dagangan di depan kantor sekretariat Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), Jalan Hermasyah, Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat, Selasa 6 September 2022 menuturkan menikmati kue bulan disaat merayakan Zhong Qiu memiliki makna sebagai sarana menjalin kebersamaan diantara keluarga.
“Menikmati kue bulan pada perayaan pertengahan musim gugur merupakan adat budaya orang Tionghoa. Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan, kebersamaan, keharmonisan dan kegembiraan. Perayaan ini sekaligus merupakan moment reuni keluarga,” ujar Afun.
Menurutnya, saat ini, tradisi kue bulan tidak hanya dirayakan masyarakat Tionghoa Kota Singkawang, tapi menyebar ke seluruh daerah di Indonesia. Ia mengungkapkan, seminggu menjelang perayaan Zhong Qiu, omset kue bulan yang dijualnya mengalami kenaikan sekitar 50 persen.
“Beberapa hari sebelumnya, saya hanya mampu menjual sekitar 20 hingga 30 kemasan per hari, namun menjelang seminggu perayaan Zhong Qiu seperti sekarang ini, omset penjualan dagangan saya mengalami kenaikan hingga 2 kali lipat. Kita jelas merasa sangat senang dengan banyaknya pembeli,” sebutnya.

Disebutkan Afun, permintaan kue bulan tidak hanya dari Kota Singkawang saja, tapi banyak juga pemesan dari luar, seperti Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Mempawah. Bahkan tidak sedikit diantaranya dari luar Kalbar, seperti Jakarta dan Negara
tetangga Malaysia. Dengan peningkatan pembeli, dirinya harus menambah jumlah produksi hingga dua kali lipat dari hari biasa.
Pantauan Harian inHua, di lapak penjualannya terdapat aneka jenis kue bulan seperti Tau Sa Pia, Tau Sa Telur, Jiu Ma Ko, Tan Huang Su, Go Jin Pia, Siat Ko, Jiu Tui, dan Jai Thong Ko, produksi dari beberapa pelaku usaha pembuatan Tiong Chiu Pia yang cukup dikenal di Kota Singkawang.
“Berkat kegigihan dan ketekunan kami, kue bulan seperti siat ko, jiu tui, go jin dan tan huang su juga banyak dipesan dari berbagai daerah di Kalbar. Bahkan dua hari ini, kami menerima pesanan dari Jakarta dan Malaysia,” ujarnya menjelaskan.(Rio Dharmawan)