Warga Tionghoa Kota Singkawang Rayakan Festival Dong Zhi

0 15

InhuaOnline, Singkawang – Yayasan Fab Zhu Kung bersama para penghuni Panti Werdha Sinar Abadi merayakan Festival Dong Zhi sebagai tanda masuknya musim dingin menurut
penanggalan Tionghoa. Festival Dong Zhi tahun ini, dirayakan masyarakat Tionghoa yang tergabung dalam Yayasan Fab Zhu Kung, dalam bentuk menikmati Onde-Onde atau Dong Zhi.

Menurut TrifinaGuo, salah seorang panitia kegiatan yang dilaksanakan di Panti Werdha Sinar Abadi menuturkan, untuk perayaan Tangyuan tahun 2020 ini, mereka telah menyiapkan sekira 60 kemasan onde dengan berbagai warna. Penganan ringan yang terbuat dari tepung beras ketan, gula pasir, dan wedang jahe ini sangat cocok disajikan pada moment hari itu. Mereka membagikan dengan penuh kasih kepada seluruh Opa dan Oma yang berada
di Panti tersebut.

“Saya kira, kita harus menghargai tradisi dan budaya warisan leluhur yang hingga kini masih terus dipertahankan dan dilestarikan. Yang Yuan ini kita sajikan sebagai simbol kasih sayang kepada Opa dan Oma dengan penuh kegembiraan, persaudaraan dan kekeluargaan. Mudah-mudahan dengan pelaksanaan festival Dong Zhi ini bisa membawakan manfaat dan
kebahagiaan bagi kita semua yang merayakan,” ucapnya, saat membawakan sambutan, Senin 21/12/2020.

Dikatakannya, kebersamaan dan ikatan diantara masyarakat Tionghoa ini tidak hanya disimbolkan dengan bentuk bulat dari onde saja, tetapi juga dari sifatnya yang lengket karena terbuat dari tepung ketan. Dengan begitu, diharapkan para anggota keluarga memiliki ikatan yang erat satu sama.

“Festival Dong Zhi ini tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa Kota Singkawang, tetapi oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia sebagai simbol menyambut datangnya musim dingin” ucapnya.

Disampailannya, negara Tiongkok membagi musim dalam satu tahun ke dalam 24 siklus. Dong Zhi sendiri merupakan siklus ke-22. Biasanya siklus ini dimulai pada tanggal 22 Desember kalender Masehi.

“Festival Dong Zhi sudah sangat lama dirayakan oleh masyarakat Tionghoa tepatnya pada masa dinasti Han, tepatnya 206 Sebelum Masehi. Saat itu mereka memperingati awal musim dingin dengan berbagai perayaan yang meriah,” tukasnya.

Secara turun-temurun, festival musim dingin ini bertransformasi menjadi saat berkumpul seluruh anggota keluarga. Kegiatan utama yang dilakukan adalah membuat dan menikmati Tangyuan berwarna merah muda dan putih dengan kuah gula dan jahe. Sebenarnya cara membuat dan rasanya mirip dengan wedang ronde.

“Tangyuan dibuat dengan aneka warna cerah. Warna cerah dan rasanya yang manis merupakan lambang dari keutuhan keluarga serta datangnya rezeki bagi seisi rumah,” imbuhnya.

Lebih lanjut disebutkannya, masing-masing keluarga setidaknya harus mendapat satu bola ronde ukuran besar dan sebagian lainnya berukuran kecil.

“Namun, bagi sebagian masyarakat Tionghoa, ada yang memakannya sesuai dengan jumlah umur ditambah satu ronde lagi. Hal ini merupakan tanda bahwa seisi rumah diharapkan berumur panjang” sebutnya.

Secara tradisi, perayaan Dongzhi atau Tang-cheh merupakan sebuah perayaan untuk berkumpul bersama keluarga di musim dingin di Tiongkok. Kembali berkumpulnya anggota keluarga atau reuni dengan makan onde bersama dengan menggunakan mangkuk di meja bundar menjadi tradisi perayaan tersebut.

“Reuni dan kebersamaan inilah yang disimbolkan oleh bentuk bulat (nampak bundar saat dilihat dari jauh) dari makanan Tangyuan atau Onde atau Ronde. Asal kata dari nama makanan Onde atau Ronde di Indonesia pun berasal dari kata “Ronde” dalam bahasa Belanda yang berarti bulat, sesuai dengan bentuk dari makanan tersebut” tuturnya lebih lanjut.

Kebersamaan dan ikatan antar anggota keluarga tidak hanya disimbolkan dengan bentuk bulat dari Onde, tetapi juga dari sifatnya yang lengketnya karena terbuat dari tepung ketan. Diharapkan para anggota keluarga memiliki ikatan yang erat atau lengket satu sama dengan lain. Kemudian disajikannya Onde dalam kuah air gula memberikan simbol hubungan erat keluarga yang manis.

“Makna lain dari bulatnya Onde juga dapat ditelusuri dari ajaran filsafat kuno
Tiongkok mengenai Yin dan Yang, gelap dan terang” pungkasnya.

Setelah perayaan Dongzhi yang jatuh pada musim dingin disaat lebih banyak gelap dari pada terang dan energi negatif lebih banyak, maka musim akan berganti menjadi musim semi disaat terang lebih mendominasi dan energi positif lebih banyak.

Filsafat ini disimbolkan oleh salah satu gambar pada Hexagram (Ba Gua / Pa Kwa / Pa Kua) dalam kitab I Ching yang disebut fù (復) yang berarti “Kembali”. Hal ini sesuai dengan bentuk bulat yang saat menelusurinya secara lurus dari satu titik maka akan kembali lagi ketitik semula.( Rio Dharmawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: