Pemerintah Indonesia sedang berjuang untuk mengatasi wabah campak yang sudah terjadi selama sebulan di provinsi paling timur Papua yang telah menewaskan puluhan anak-anak.
Stefanus Lange, seorang dokter di sebuah rumah sakit yang dikelola pemerintah di distrik Asmat di Papua, mengatakan pada hari Selasa bahwa kasus pertama kali terdeteksi pada bulan September, namun kurangnya akses ke daerah terpencil, personil yang tidak mencukupi dan tingginya mobilitas penduduk desa menghambat upaya pengobatan dan vaksinasi.
Lange mengatakan 36 korban meninggal di Kecamatan Pulau Tiga dan 22 meninggal di Agats, kota utama dan ibu kota Asmat. Dia tidak mengesampingkan kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi karena laporan belum diterima dari beberapa kecamatan.
Papua dan tetangganya, Papua Barat adalah provinsi termiskin di Indonesia dan merupakan rumah bagi gerakan kemerdekaan yang telah berlangsung puluhan tahun dan pemberontakan bersenjata. Kawasan ini secara kultural dan etnis berbeda dari bagian Indonesia lainnya, yang mencapainya pada awal 1960an.
Data dari rumah sakit menunjukkan total 568 orang telah dirawat karena campak sejak September dan 175 dirawat di rumah sakit.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa satu anak meninggal di Pulau Tiga karena kekurangan gizi, yang telah melanda beberapa desa di kabupaten tersebut.
Sebuah tim yang terdiri lebih dari 50 dokter dan paramedis dari militer Indonesia tiba hari Selasa di provinsi tersebut untuk membantu mengatasi penyakit ini.