Tiga Belas Anak Tuna Netra Gelar Konser Pukau Penonton Hingga Terharu

0 263

Seraphim Music Studio menggelar konser musik bertajuk  ‘Children of Light 3’ menampilkan kemampuan 13 belas murid tuna netra. Ratusan undangan melihat pagelaran musik yang dibawakan anak-anak tuna netra dengan rasa kagum dan terharu. Mereka menyanyikan lebih dari 10 lagu anak-anak dan daerah dengan iringan musik yang dimainkan secara bergantian oleh mereka sendiri.

Anak-anak tuna netra yang belajar bermain musik dan menyanyi di Seraphim Musik Studio mendapat bimbingan khusus dari para guru hingga mahir. Salah satunya Exel yang kini duduk di kelas 10 mahir memainkan alat musik piano, biola, clarinet dan drum. Saat konser, Exel mengiringi teman-temannya menyanyi dengan alat musik yang dikuasainya tersebut.

“Saya tidak bisa melihat sejak lahir. Tapi saya bersyukur bisa belajar musik dengan bimbingan para guru di sini dan dukungan besar dari orangtua,” tutur Exel yang bercitacita menjadi guru di sekolahnya kelak jika sudah lulus sarjana. Exel pun menceritakan dalam keseharian ia paling suka berolah raga sepeda selain mengasah bakat bermusiknya.

Exel pun mendapat dukungan besar dari para guru di sekolahnya yang saat konser turut hadir menyaksikan kemampuan bermusiknya. Ryan salah satu guru YPAB mengatakan Exel memiliki bakat yang besar di bidang musik. Pihak sekolah YPAB juga memberikan pelajaran ekstra bermain musik untuk mengasah bakat anak didiknya. “Murid sekolah kami yang belajar di Seraphim Musik Studio sampai saat ini kurang lebih ada 20 anak dan kami memberi perhatian khusus,” jelas Ryan.

Seraphim Musik Studio didirikan oleh Russy Sutanto pada Juli 2006 di Surabaya yang sebelumnya terkenal dengan metode pengajaran International  Brain Academy. Lulusan Seraphim Musik Studio banyak yang menjadi musisi muda berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Lembaga musik ini sering menggelar konser tur ke Eropa, Asia, Eropa hingga Australia.

Para murid dapat belajar berbagai jenis musik diantaranya klasik, pop, jaz dan musik tradisional. “Tujuan kami menciptkan individu yang cerdas melalui musik. Anak-anak yang mahir menguasai musik walau dengan keterbatasan fisik semoga menjadi bekal kelak di kemudian hari. Ketika dewasa bisa mandiri dan bekerja,” tutur  Russy Sutanto yang mengaku lega setelah konser berakhir dan mendapat aplus para penonton.

Ivan salah satu guru pengajar di Seraphim mengungkapkan selama mengajar anak-anak tuna netra tidaklah sulit malah sangat mudah karena mereka lebih konsentrasi belajar musik. “Mereka patuh dan bersungguh-sungguh belajar bermusik. Seperti Exel yang belajar musik disini selama 13 tahun lamanya. Dia berkeinginan besar menjadi guru musik sehingga terpacu menguasai alat musik yang disukainya,” jelas Ivan.

Seraphim Musik Studio sangat aktif menggelar konser amal yang hasilnya disumbangkan ke panti asuhan, seminari,  korban bencana alam dan bea siswa anak-anak berkebutuhan khusus. Seraphim juga banyak bekerjasama dengan berbagai lembaga dan organisasi untuk mendukung perkembangan musik di tanah air.

Lie Weliani wakil ketua Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya memberi dukungan penuh Seraphim Musik Studio. “Saya selalu menyempatkan hadir saat konser anak-anak tuna netra digelar. Anak-anak berkebutuan khusus harus diasah ketrampilannya untuk bekal mereka dewasa dan mandiri,” tutur Lie Weliani yang datang bersama suaminya. (Avr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.