Tak Pernah Mati Gaya Daya Tarik Industri Fesyen Penyumbang Ekonomi

0 119

Ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang dijalankan Indonesia dan tiga menjadi unggulan yakni fesyen, kuliner dan kriya. Menariknya 54,96% dilakukan kaum perempuan. Ekonomi kreatif menumbuhkan citra positif bangsa serta meningkatkan pendapatan negara. Data nasional Badan Ekonomi Kreatif menyebutkan sumbangan Produk Domestik Bruto dari industri kreatif mencapai lebih dari Rp. 1.000 Triliun.

Penyumbang ekspor terbesar pertama adalah industri fesyen yakni 54,54% dari total ekspor non migas, lalu industri kerajinan 39,01% dan kuliner 6,31%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Jatim masuk 5 provinsi penyumbang PBD Ekonomi Kreatif terbesar pada 2016 yakni 9,37% dan penyumbang ekspor ekonomi kreatif terbesar kedua yakni 24,36%. Potensi Ekonomi Kreatif Jatim cukup besar sehingga memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Tak jauh beda dengan Jakarta dan kota besar lainnya, Surabaya berupaya terus mengembangkan industri fesyen. Layaknya Jakarta yang memiliki Jakarta Fashion Week dan Muslim Fashion Festival, maka di Surabaya memiliki Surabaya Fashion Parade yang sudah berjalan 11 tahun lamanya. Walikota Tri Rismaharini mengatakan industri fesyen harus terus bergerak meningkat dan memberi nilai positif bagi Surabaya.

Fesyen pun menjadi suguhan menarik bagi masyarakat Surabaya juga sebagai pelengkap di berbagai acara. Yeny Ries salah satu desainer Surabaya mengaku sangat optimis menerjuni dunia fesyen karena pesatnya perkembangan industri tersebut. Yeny pun mengenalkan 6 busana ready to wear koleksi terbarunya bertajuk Flawless di Profira Aesthetic & Anti Aging Clinic pada Kamis (25/7).

Yeny mengungkapkan terjun ke dunia fesyen sejak 6 tahun silam dan dua tahun terakhir gencar mengikuti peragaan busana di Jakarta, Surabaya hingga Singapura. Yeny mengaku jatuh hati dengan dunia fesyen hingga rela melepas karirnya di salah satu bank ternama dengan langkah awal bersekolah di Arva School of Fashion. 

“Saya yakin bisa mengisi pasar fashion untuk para pecintanya,” tutur desainer muda berbakat anggota APPMI Jatim. Yeny mengaku merancang sendiri logo busananya yang menggambarkan dirinya. Ia pun berpesan agar setiap perempuan dapat tampil cantik dan fashionable tanpa batasan usia. 

Pada rancangan busananya yang ditampilkan pada Sabtu (27/7), Yeny menghadirkan gaya Korea yang dapat dipakai masyarakat Indonesia dengan pilihan warna natural seperti hitam, putih dan coklat. Tak salah bila Yeny memilih Korean Style menjadi inspirasi rancangannya, karena mulai dari musik K-Pop, film, makanan, dan fesyen Korea melanda dunia. Bahkan busana muslim pun terpengaruh fesyen Korea.

Yeny Ries mengakui awal terjun merancang busana muslim yang hingga kini banyak permintaan. “Kalau busana Korean Style yang saya rancang dari bahan katun dan velvet, bisa digunakan jalan-jalan ke luar negeri atas permintaan banyak pelanggan. Baju ini juga bisa dipakai sebagai busana muslim tinggal mengenakan dalaman,” imbuh pemilik label Felicia.

Anita Indri Manager Operasional Profira mengatakan sangat mendukung dunia fesyen sehingga seringkali mengundang banyak perancang busana Surabaya. “Fesyen dan kecantikan tidak dapat dipisahkan,” tuturnya di sela acara. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.