Surabaya Art Centre Wadah Berlkumpulnya Seniman Dalam Negeri dan Luar Negeri di Dukung Para Pengusaha Pecinta Seni

0 623

Surabaya Art Centre dengan luas mencapai 1000 meter baru diresmikan 14 Juli kemarin, namun langsung menarik perhatian masyarakat terutama mereka yang menyukai dunia seni. Surabaya Art Centre berada di Lenmarc Mall yang digagas managemen bersama Rasmono Sudarjo kemudian menggandeng seluruh seniman di berbagai bidang yang aktif, baik dari universitas, pengusaha, hingga masyarakat biasa.

Surabaya Art Centre menjadi tempat berkumpulnya 9 galeri, tiga dari China,  satu dari Jepang dan sisanya dari Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Para pemilik galeri tersebut kebanyakan adalah senimannya sendiri yang ingin dekat dengan masyarakat dan berkontribusi terhadap dunia seni.

Direktur Surabaya Art Centre Irawan Hadikusumo mengaku prihatin dengan anggapan bahwa Surabaya kota bisnis sehingga mengesampingkan kesenian. Padahal New York sebagai kota bisnis juga terkenal dengan keseniannya, ujar Irawan. Namun, saat Surabaya Art Centre didirikan banyak seniman muda dari dalam negeri maupun luar negeri yang ingin menampilkan karyanya.

“Kami menerima 100 karya dari seniman muda baik dari dalam maupun luar negeri di bawah usia 30 tahun, kemudian diseleksi menjadi 50 karya. Surabaya Art Centre menjadi wadah para seniman dan masyarakat untuk berkarya karena ada pelatihan baik tingkat dasar maupun tinggi,” imbuh Irawan yang memperkenalkan seluruh pengurus yang bekerja di Surabaya Art Centre kebanyakan orang-orang muda profesional, salah satunya Cintya Handi yang juga menjabat Direktur Museum Wayang Mojokerto.

Rasmono Sudarjo selaku penasihat menggandeng tiga seniman asal Tiongkok yang juga hadir.  Salah satunya Xu Yongqing pelukis asa Beijing yang suka berinovasi di bidang lukis bunga dan burung. Xu Yongqing juga mengajar melukis dan beberakali mengadakan pameran tunggal di Tiongkok. Banyak karya Xu Yongqingg diburu para kolektor.

Alim Markus memberi apresiasi tinggi kepada para pengurus yang telah bekerja keras menyediakan wadah berkumpulnya para seniman. Alim Markus berharap Surabaya Art Centre menjadi salah satu tempat meningkatkan kreasi seni sehingga masyarakat semakin menyintai produk dalam negeri. “Kami sangat mendukung keberadaan Surabaya Art Centre,” tutur Alim Markus.

Djuli Djatiprambudi kurator seni dari Universitas Negeri Surabaya menceritakan Surabaya di masa lalu tidak hanya sebagai kota bisnis tapi juga kota seni. Terbukti, Soekarno yang pernah tinggal di Kota Pahlawan selalu membeli berbagai peralatan melukis di jalan Arjuno di salah satu toko lukis. Walau Soekarno dibuang ke Ende oleh pemerintah Belanda namun tetap mendapatkan alat melukis dari pengusaha kapal yang datang dari Surabaya dan berlayar hingga ke Ende.

“Surabaya juga banyak senimannya salah satu Cak Durasim terkenal dengan ludruknya,” jelas Djuli Djatiprambudi yang bahagia karena Unesa membuka galeri di Surabaya Art Centre.

Teddy Kusworo pemilik perusahaan metal mengaku senang setelah berkeliling Surabaya Art Centre yang menampilkan koleksi baik kontemporer maupun modern dari berbagai daerah. “Saya berharap juga banyak karya seni metal yang ditampilkan,” ujarnya. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.