Jakarta – Pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto bahwa pemerintah selalu berjuang dan bekerja untuk rakyat, menuai pro kontra.
Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah mengatakan, semua tiran (penguasa zalim dan sewenang-wenang) juga mengaku bekerja untuk rakyat.
Menurut Fahri, pekerjaan mengecek kebenaran omongan pimpinan adalah pekerjaan yang paling penting dalam demokrasi.
“Misalnya mereka mengatakan, “percayalah bahwa kami bekerja untuk rakyat”, tetap merupakan pernyataan yang harus diperiksa. Sebab semua tiran juga menyatakan hal yang sama,” kata Fahri melalui akun Twitternya, Kamis (23/4).
enurut Fahri, Puncak dari kesantunan adalah tercermin pada kebenaran pada ucapan, bukan pada bahasa tubuh dan permainan kata-kata untuk memutar balik fakta.
Dikatakan Fahri, jika kejujuran menjadi sulit dikatakan di hadapan penguasa, maka saat itulah pemberontakan kata-kata diperlukan.
“Terasa asing di telinga saya jika ada orang hebat menghendaki baik sangka terus-menerus padahal kenyataan telah berubah dan tak ada yang namanya baik sangka jika percakapn belangsung satu arah. Baik sangka adalah akibat dari kegemaran berkata jujur di hadapan rakyat yg bertanya,” kata Fahri.
Fahri berpendapat, dalam krisis seperti ini, pemimpin harus sering mendengar dan membuka percakapan apa adanya, sebab ada kegetiran yang tak terdengar.
Menurut Fahri, bukanlah pemimpin yang baik yang tampil hanya sesekali dan mengatakan “percayalah kami telah berbuat untuk rakyat, di hati kami hanya rakyat”.
Fahri mencontohkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump setiap hari berdebat dengan wartawan yang kadang membantah omongannya dengan data dan dia terpojok saat datanya dibantah. Tapi Amerika maju tanpa misteri.
Contoh lainnya, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un jarang muncul dan tiba-tiba dia dikabarkan sakit keras. Korut mencekam.
“Kita tlh memilih menjadi negara demokrasi dgn keinginan memberantas semua takhayul dan khurafat di sekitar pemimpin. Bahwa mereka manusia biasa seperti kita. Mungkin saja lebih lemah tak mengapa, asalkan dia jujur, terbuka dan apa adanya maka kita akan membantu sekuat tenaga,” kata Fahri.
Dalam demokrasi, kata Fahri, lebih baik bohong yang terbuka daripada orang jujur yang tertutup.
“Sebab kebohongan yang terbuka bikin siaga. Tapi orang jujur yang tertutup membuat kita lalai. Bentuk terburuknya adalah pembohong yang tertutup. Bentuk terbaiknya adalah orang jujur yang terbuka,” imbuhnya.
“Krisis ini bukan waktu untuk meminta baik sangka rakyat. Rakyat lagi susah. Tapi ini waktu untuk memulai tradisi terbuka. Dan keterbukaan dinantikan agar kita saling tahu kekurangan dan kelebihan. Inilah awal kebersamaan dan membangun solidaritas bangsa,” pungkas Fahri.