The news is by your side.

Salak dan Manggis Jadi Primadona Pengunjung Pameran Buah Internasional di Guangzhou

40

Salak dan Manggis, dua jenis buah dari Indonesia menarik perhatian pengunjung Guangzhou International Fruit Expo 2018. Silih berganti para calon pembeli mengunjungi Paviliun Indonesia yang menjajakan buah-buahan segar pada pameran yang berlangsung pada 27-29 Juni 2018 tersebut. Para pengunjung pameran umumnya berasal dari Tiongkok daratan, Hong Kong dan Australia.

Salak dan manggis tersebut didatangkan langsung dari Indonesia. Para calon pembeli umumnya tertarik dengan produk salak yang relatif belum mudah ditemukan di Tiongkok. “Rasanya unik, manis dan agak sedikit sepat (menyengat),” ujar salah satu calon pembeli dari Guanzhou.

Pada pameran buah internasional pertama di Guangzhou yang pertama kali ini, Paviliun Indonesia diikuti oleh PT Java Fresh.

“Lumayan ramai. Sudah banyak juga yang kelihatannya tertarik untuk menjajaki pembelian buah Indonesia,” ujar Robert Budianto, Chief Financial Officer PT Java Fresh.

Menurut Robert, dengan jumlah penduduk dan daya beli yang terus meningkat serta tradisi makan buah yang sangat baik, Tiongkok merupakan pasar yang sangat besar. Karenanya, sambung Robert, kompetisi juga terbilang ketat. Karena itu, PT Java Fresh fokus pada Manggis dan Salak yang dinilai cukup kompetitif untuk memasuki pasar Tiongkok.

Sebagai informasi, berdasarkan kesepakatan antar pemerintah Indonesia dan Tiongkok (G2G), Indonesia saat ini dapat mengekspor empat jenis buah ke Tiongkok, yaitu Salak, Manggis, Kelengkeng dan Pisang.

“Sekalipun peluang sangat besar bagi buah-buahan tropis Indonesia, belum banyak pelaku usaha Indonesia yang tertarik untuk masuk pasar Tiongkok. Biasanya, produk buah Indonesia, seperti Manggis, masuk ke Tiongkok melalui Malaysia atau bahkan Thailand,” sambung Robert.

Pada sambutannya di acara pembukaan pameran, Konsul Muda Ekonomi KJRI Guangzhou, Ismail Fahmi menyampaikan bahwa terdapat banyak peluang besar untuk meningkatkan ekspor buah dari Indonesia ke Tiongkok. Apalagi, Indonesia dikenal sebagai Negara penghasil buah-buahan tropis yang sangat beragam.

“Pada tahun 2017, market share produk buah dari Indonesia baru mencapai 1.42% dibandingkan buah-buahan dari Negara lainnya. Artinya, masih besar sekali peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan market share nya di Tiongkok. Apalagi, permintaan buah di Tiongkok terus meningkat setiap tahun,” papar Fahmi.

Untuk kategori buah-buahan (HS Code 08), pada tahun 2017, Indonesia mengalami defisit perdagangan hingga US$300juta. Pada periode tersebut, nilai ekspor buah dari Tiongkok ke Indonesia mencapai US$390 juta. Sebaliknya, Indonesia mengekspor ke Tiongkok dengan nilai sebesar US$90 juta.

Buah-buahan Tiongkok yang masuk ke Indonesia didominasi apple, pir, anggur dan lemon (98%). Sementara buah-buahan dari Indonesia yang masuk ke Tiongkok didominasi produk turunan kelapa (95%). Adapun Manggis, Pisang, Salak dan Kelengkang sebesar US$4.5juta. (Sumber: KJRI Guangzhou)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.