Festival ini digelar setiap dua pekan setelah perayaan Imlek dan tahun ini, dengan mengusung tagline Ajang Budaya Pemersatu Bangsa dengan tema Looking Eastward.

Digelarnya event ini, bukan hanya soal budaya, bukan juga terkait upacara. Namun tentang nilai-nilai yang kita yakini dari masa ke masa, diturunkan dan kita jaga terus ke depan, bersama dalam keberagaman. Berbeda adalah keniscayaan, beragam adalah keharusan tapi kebersamaan harus diperjuangkan.
Disisi lain, event ini juga meningkatkan kunjungan wisatawan kota Bogor. Karena selama ini, ada anggapan Pariwisata Kota Hujan ini, hanya Kebun Raya Bogor, Istana Presiden, wisata kuliner, wisata belanja namun ada event wisata yang cukup unik dan menarik. Bogor Street Festival Cap Go Meh, namanya.
Dan event ini merupakan satu dari tiga event jagoan Kota Bogor untuk menarik wisatawan. Dua event lainnya yakni Gelaran Seni dan Budaya pada Hari Jadi Bogor dan Festival Merah Putih sepanjang Agustus dalam memperingati Hari Kemerdekaan.

Perayaan Cap Go Meh telah dirayakan di Indonesia sejak awal abad ke-16, sejak komunitas Tionghoa Buitenzorg membangun Klenteng Hok Tek Bio di Bogor. Tahun 1954, Presiden pertama Indoenesia Soekarno mengundang arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge ke Istana Bogor untuk menghibur presiden dan tamu negara. Pada masa itulah Cap Go Meh mengalami kejayaan.
Tahun 2008, merupakan tahun bersejarah bagi event Cap Go Meh di Bogor. Untuk pertama kalinya gagasan street festival muncul dan event Cap Go Meh menjadi festival Kota Bogor. Liong, Barong dan kesenian daerah mulai meramaikan Cap Go Meh yang mengusung pesta budaya dengan arak-arakan yang dimulai dari Balai Kota Bogor.

Dari tahun ke tahun, event Cap Go Meh mengalami perkembangan dan peningkatan baik dalam jumlah pengisi acara atau pun pengunjung yang hadir. Bahkan, event ini sempat tercatat dalam rekor MURI. Yakni pada tahun 2007 sebagai event dengan jumlah liong dan barong terbanyak. Kemudian pada tahun 2010 mendapatkan rekor dari MURI sebagai liong terpanjang dengan 50 meter yang dimainkan oleh 15 orang.
Perayaan Cap Go Meh yang dijadikan sebagai festival Kota Bogor mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat. Tahun 2012, untuk pertama kalinya festival ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat. Puncaknya pada 2015 lalu, kejutan datang saat Presiden Joko Widodo hadir dalam acara ini di Jalan Suryakencana.

Akulturasi kebudayaan yang ditampilkan pada festival Cap Go Meh dari tahun ke tahun semakin beragam. Jika pada tahun sebelumnya hanya menampilkan kebudayaan Tionghoa, kemudian dipadukan dengan kebudayaan Sunda.
Mulai tahun 2014, Cap Go Meh mengangkat kebudayaan Nusantara yang ditampilkan dalam pawai budaya. Kesuksesan dari tahun 2014 ini menjadikan Cap Go Meh menjadi agenda nasional. Atraksi barongsai dan liong, dilengkapi dengan panggung hiburan yang diisi dengan wayang dan penampilan dari sanggar binaan dari Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sementara itu, Ketua Panitia Bogor Street Festival Cap Go Meh Arifin Himawan mengatakan, perayaan Cap Go Meh ini sudah berjalan selama 19 tahun. Arifin berharap, lewat semangat pesta rakyat Cap Go Meh ini, keberagaman dan perbedaan yang ada justru membentuk kekayaan yang indah bagi nusantara. “Semangat budaya sebagai pemersatu bangsa selalu kita kuatkan melalui ajang Pesta Rakyat CGM. Perbedaan dan keberagaman justru merupakan kekuatan bagi bangsa Indonesia, sehingga seharusnya kita bangga dengan kekayaan budaya yang kita miliki,” ucap nya.

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Bima Arya mengatakan Bogor Street Festival merupakan helatan kesenian dan kebudayaan untuk semua kalangan.
“Hari ini segala rupa manusia ada di depan kita. Ada yang lansia, ada juga yang balita. Ada tentara, ada juga warga biasa. Semua agama juga ada di sini. Seluruh warna bisa dilihat ada di sini. Tujuannya pasti macam-macam. Ada yang ke sini karena ingin melihat atraksi kesenian, ada yang mau wisata kuliner, ada pula yang ingin cari jodoh,” ungkap Bima ,Minggu (9/2/2020).

Kota Bogor secara konsisten ingin memperlihatkan semangat toleransi dan pluralisme yang selalu dipelihara sebagai bagian dari masyarakat besar di Indonesia. Ini yang membedakan perayaan Cap Go Meh di Bogor dengan kota lainnya.
Dalam penyelenggaraan Bogor Street Festival Cap Go Meh kali ini, sejumlah tokoh turut hadir. Mereka yakni Menteri Pariwisata Wishnutama, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, dan sejumlah perwakilan duta besar.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) siap mengucurkan dana Rp 30 miliar rupiah untuk acara Bogor Street Festival Cap Go Meh (CGM) selanjutnya. Menurut Ridwan Kamil, dana itu akan dipergunakan untuk perbaikan Jalan Suryakencana Bogor, Jawa Barat, tempat berlangsungnya CGM 2020 yang telah berlangsung sukses dan meriah kemarin. “Pemprov menghibahkan anggaran Rp 30 miliar sebagai bentuk dukungan. Jadi kalau saya datang lagi tahun depan, sudah ada perbaikan signifikan, seperti peningkatan konten, suasana jalan lebih berkualitas, dan akhirnya pariwisata meningkat,” ujar Ridwan, seperti dalam keterangan tertulisnya

CGM 2020 sendiri masuk dalam 100 Calendar of Event Nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf). Dalam keterangannya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio sangat mengapresiasi keberhasilan acara CGM 2020. Ia menilai acara tersebut berkualitas baik dan berpotensi mencadi acara berkelas dunia.
“Ke depan saya berharap konten, penataan, hingga penyelenggaraan jauh lebih baik. Kalau bisa pesertanya kami support agar lebih berwarna sehingga memunculkan diferensiasi tersendiri dibandingkan dengan event lainnya,” kata Wishnutama.

“Saya ingin acara Cap Go Meh ini kita tingkatkan, sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Saya sebagai menteri terus mensupport dan mendorong event-event dan menurut saya ini salah satu event yang paling berhasil,” katanya. Sebagai informasi, gelaran acara Bogor Street Festival Cap Go Meh (CGM) 2020 telah di selenggarakan pada Sabtu (8/2/20) kemarin di Jalan Suryakencana Bogor. Acara ini sukses menampilkan berbagai atraksi perpaduan antara budaya Tionghoa dan Sunda.

(Rully)