Chengdu – Pesan perpisahan Kedutaan Besar Amerika Serikat kepada jajaran konsulat jenderalnya di Chengdu, Provinsi Sichuan, Senin, mendapat sejumlah respons negatif dari kalangan warganet China.

Beberapa warganet bersorak atas penutupan resmi konjen tersebut, sedangkan yang lain berharap Presiden AS Donald Trump mengambil pelajaran dari kebijakan itu.

“Hari ini kami mengatakan selamat tinggal kepada Konsulat Jenderal di Chengdu. Kami akan merindukanmu selamanya,” demikian unggahan Kedubes AS di China yang mengiringi video pendek sejarah Konjen Chengdu di akun Weibo.

Vidoe tersebut diunggah satu jam setelah konsulat tersebut ditutup secara resmi, sesuai permintaan Pemerintah China.

China mengeluarkan keputusan itu sebagai tindakan balasan atas permintaan AS agar China menutup konjennya di Houston. Aksi saling meminta penutupan konsulat jenderal memanaskan hubungan kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu.

“Kami tidak merindukan kalian semua karena kalian terlalu hipokrit,” demikian bunyi pesan seorang warganet China, membalas pesan Kedubes AS.

“Munafik! Kalian yang mengawali konflik diplomatik ini!!” tulis warganet lainnya, yang dikutip Global Times.

Video tersebut menunjukkan ruang lingkup pelayanan Konjen AS di wilayah China bagian barat daya, termasuk Daerah Otonomi Tibet, yang mereka sebut mampu membangun rasa saling mengerti bersama warga Tibet.

Penyebutan warga Tibet itu juga memicu kemarahan para warganet China.

“Tunggu dulu! Di satu pihak disebutkan ‘warga Amerika’ lalu ‘warga Yunnan/Guizhou/Sichuan/Tibet’. Saya tidak percaya Anda, tidak bisa mengerti, dan tidak punya kepekaan terhadap politik China. ‘Warga Amerika seharusnya paralel dengan ‘warga China’, bukan dengan warga dari berbagai daerah berbeda di China,” demikian diungkapkan warganet.

Konjen AS di Chengdu tutup secara resmi tepat pukul 10.00 waktu setempat (09.00 WIB) atas permintaan pemerintah China.

Pihak berwenang China kemudian masuk melalui pintu depan dan mengambil alih premis kantor perwakilan AS itu, menurut pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri China (MFA) yang diterima ANTARA, Senin.