Ceng Beng atau Qing Ming merupakan hari ziarah tahunan yang diperingati masyarakat Tionghoa dimanapun berada. Tepatnya tanggal 5 April, warga Tionghoa datang ke makam orangtua atau leluhur membersihan sekaligus bersembahyang dengan membawa buah-buahan, kue, makanan dan karangan bunga.
Ceng Beng dimulai 10 hari sebelum dan sesudah 4 April. Konon berdasarkan cerita rakyat, Ceng Beng dimulai zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). Zhu Yuan Zhang setelah menjadi kaisar dan pulang ke desa mendapati kedua orangtuanya telah meninggal, sayangnya pula tidak diketahui makamnya. Akhirnya, Zhu Yuan Zhang memerintahkan rakyatnya melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur pada hari yang ditentukan. Kemudian menaruh kertas kuning sebagai tanda makam telah dibersihkan.
Perayaan Ceng Beng pun makin popular hingga kini sebagai tradisi karena sebagian keluarga yang merantau jauh akan pulang ke kampung halaman untuk melakukan ibadah leluhur. Hal yang sama dilakukan Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya juga menggelar peringatan Ceng Beng di kantor pusat jalan Slompretan (4/4) diikuti para pengurus dan seluruh anggotanya.
Sebahyang peringatan leluhur dan para dewa dilaksanakan tepat pukul 11.30 WIB dipimpin pengurus diikuti para anggota. Setelah selesai barulah digelar makan siang bersama. Alie Handojo Ketua HTK Surabaya mengatakan peringatan Ceng Beng dilakukan perkumpulan HTK sejak 198 lalu.
“Perkumpulan HTK ini tertua di tanah air dan Asia Tenggara. Leluhur pendahulu merantau ke Surabaya dengan susah payah, kini telah melahirkan generasi. Ceng Beng adalah tata cara mengingat leluhur dan menjadi tradisi setiap tahun diperingati. Kami melaksanakan tradisi itu sampai sekarang berjalan terus tidak ada perubahan. Kami menjunjung tinggi jasa para leluhur, karena tanpa mereka, kita tidak ada,” tutur Alie Handojo didampingi Benny Saiful dan pengurus lainnya.
Alie Handojo juga menjelaskan dalam sembahyang leluhur selalu disajikan berbagai hidangan dan simbol uang di meja persembahan. Karena baik makanan, uang dan sebagainya selalu ada di mana-mana sebagai kebutuhan dalam keseharian.
Menariknya lagi, setelah melakukan sembahyang bersama, pengurus HTK selalu menyediakan hidangan untuk disantap bersama. “Hidangan dari para pengurus untuk makan siang memiliki arti kebersamaan sebagai satu keluarga besar yang selalu mempererat tali silaturrahmi,” imbuh Alie Handojo.
Alie Handojo juga menginformasikan bahwa kegiatan HTK dalam waktu dekat akan melakukan bakti sosial bersama muda mudinya. “Kami aktif menggelar baksos sebagai kegiatan mulia kemasyarakatan,” terangnya lagi. (Avrilla)






