Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera (PHIS) mengadakan perayaan imlek dengan menampilkan pertunjukan Wayang Potehi yang diadakan pada Minggu, 04/03 di Museum Hakka Indonesia, Taman Budaya Tionghoa Indonesia TMII. Acara yang dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Lambock V Nahattands, yang juga adalah penasehat senior Hakka Indonesia, Ketua Umum PHIS, Bapak Sugeng Prananto, Suwarno Chandra, Suparno, Iwan Mahatirta, Hendra Yan Chandra, Brigjen TNI (Purn) Tedy Jusuf, Albert Yap Putra, Murdaya Poo, dan beberapa Perwakilan dari Hakka Daerah serta tamu undangan lainnya.
Acara dibagi menjadi dua seisi, seisi pertama khusus untuk para pengurus dan anggota Hakka yang hadir kurang lebih 200 orang dan seisi ke dua terbuka untuk umum, yang dihadiri kurang lebih 400 orang yang sebagian besar dari mahasiswa dan pelajar serta tamu – tamu undangan.
Perayaan Imlek dimulai dengan sumbangan lagu dari Ako Amoi Hakka Jakarta 2018 yang baru saja terpilih serta dari pengurus yang menyumbangkan suara emasnya. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang berbeda dipandu melalui wayang potehi.
Pertunjukan Wayang potehi ini merupakan salah satu budaya gabungan Tionghoa dan Indonesia yang berasal dari Tiongkok dan kesenian ini berumur lebih dari 3.000 tahun, masuk ke Indonesia sejak abad 16 sampai abad 18 dan kesenian ini, dan telah diwariskan turun menurun hingga sampai saat ini dan wayang potehi di lestarikan dan dikembangkan oleh Komunitas Senjoyo Budoyo asal Yogyakarta, ujar Ibu Jeanne Laksana SekJen PHIS yang memandu jalannya acara.
Dr. Hirwan Kuardhani M,Hum adalah pengajar institue Seni Yogyakarta yang memimpin wayang Potehi Gagrak Baru, yang mengadakan disertasi S3 yang beliau ambil tentang Potehi di Kelenteng, dan setelah selesai beliau melanjutkan dengan mengembangkannya melalui kemasan pertunjukan Wayang Potehi ini. Untuk kesempatan ini menampilkan potehi mengenai cerita tentang perjalanan seorang biksu Tong Sa Chong dalam mencari kitab suci Budha, dalam sambutan sebelum pertunjukan wayang potehi dimulai. Beliau mengungkapkan bahwa dalam wayang potehi ini banyak pesan moral yang dapat diambil bahwa diatas langit masih ada langit dan harus menghargai setiap sesama manusia, setiap kejahatan akan hancur dengan kebaikan.
Kemudian dilanjutkan dengan laporan dari ketua panitia, Bapak Iwan Mahatirta yang mengucapkan selamat tahun baru imlek dan perayaan imlek yang spesial dengan mengadakan pertunjukan Wayang Potehi. Sambutan -sambutan dari Ketua Pembina PHIS, Bapak Suwarno Chandra, yang mengapresiasi dengan adanya Museum Hakka yang menampilkan pertunjukan Wayang Potehi serta terima kasih kepada Ketua Kehormatan PHIS, Bapak Prayogo Pengestu yang memberikan support kepada Hakka. Beliau berharap tahun kedepan Hakka makin maju dan semakin erat bersatu.
Sambutan Ketua Umum PHIS, Bapak Sugeng Prananto, yang mengucapkan selamat Hari Raya Imlek kepada seluruh hadirin yang hadir. Beliau sangat terharu dengan adanya kebudayaan tionghoa melalui pertunjukan wayang potehi yang dikembangkan. Beliau juga berterima kasih kepada Bapak Prayogo Pangestu selaku Ketua Kehormatan PHIS yang menitipkan angpao kepada orang tua yang berusia 75 tahun keatas. Serta Bapak Sugeng sangat bersyukur acara pemilihan Ako Amoi Hakka Jakarta 2018 yang bisa berjalan dengan baik dan dapat juga Para Ako Amoi Hakka Jakarta 2018 bisa hadir pada kesempatan ini, karena mereka merupakan generasi penerus Hakka sehingga perlu mengetahui budaya Hakka serta terutama Museum Hakka Indonesia.
Sambutan dari Ketua Pembina PHIS, Bapak Murdaya Poo, yang mengatakan bahwa sangat gembira pada hari ini melihat Hakka makin rukun dan bersatu, pesan beliau agar kita bersatu dengan cabang sebanyak 60 yang merupakan organisasi yang besar.Generasi penerus sangatlah penting dimulai dengan mengajak anak-anak serta saudara -saudara hakka untuk bergabung bersama, dan terakhir mengucapkan selamat hari imlek.
Dan yang terakhir sambutan dari Penasehat Senior PHIS, bapak Lambock V Nahattands yang memberikan sambutan, selamat tahun baru imlek kepada semua, beliau sangat bahagia karena setiap ada kegiatan Hakka selalu diundang oleh Bapak Sugeng. Arti Rumah Besar itu artinya itulah satu keluarga besar hidup berdampingan secara rukun dan damai, ada yang paling tua dan muda bahkan sampai anak-anak, bahwa keluarga Hakka itu hidup rukun. Hari ini beliau terkagum-kagum melihat adanya pagelaran Imlek Wayang Potehi, sehingga beliau berpikir potehi itu adalah Paguyuban Orang Tionghoa Etnis Hakka Indonesia. dan mengikuti pertunjukan yang dibawakan terdapat filosofi hidup yang harus dicamkan dalam hidup kita sehari-hari. Sangat kagum akan Negara kita yang dibangun dalam keberagaman yang bersama-sama membangun Negara kita, suku Hakka juga termasuk didalamnya, untuk kita yang disini bersatu padu membangun Negara Indonesia tercinta.
Acara perayaan imlek juga dilanjutkan dengan mengadakan pemberian angpao yang berasal dari Ketua Kehormatan PHIS, Bapak Prayogo Pangestu kepada para orang tua yang berusia 75 tahun keatas serta Ako Amoi Hakka Jakarta 2018. Serta dari Para pimpinan Hakka Belitung juga memberikan angpao kepada Ako Amoi Jakarta 2018. Acara ditutup dengan makan siang bersama dan foto bersama.
Koran Harian Inhua