Dikenal sebagai partai komunis yang otoriter, ternyata di China juga ada serangkaian proses ‘pemilu’ yang diselenggarakan oleh partai. Namun tidak seperti pemilu yang ada di Indonesia, pemilu di China berbeda.
Secara umum, jika di Indonesia ‘wakil rakyat’ dipilih melalui proses pemilu, di China ‘wakil rakyat’ akan dipilih melalui serangkaian proses ujian dan hanya boleh menempati posisi lebih tinggi jika terbukti memberikan kontribusi nyata untuk partai dan negara selama ia menjalankan tugasnya.
Setiap lima tahun sekali, Partai Komunis China (PKC) akan mengadakan “kongres partai” sebagai tanda mengklik “tombol refresh” pada tubuh partai sendiri.
Dalam fase ini, Partai akan memilih generasi baru pemimpin senior yang disebut Komite Tetap Politbiro.
Pemilihan terakhir diadakan pada tahun 2012 dan dilaksanakan serentak di seluruh dataran China.
Mungkin selama ini Anda mendengar keluhan bahwa proses seleksi terlalu tertutup, dan melibatkan favoritisme dari para senior.
Namun terlebih di masa pemerintahan Xi jinping, lebih dari banyak sistem politik lainnya, kemajuan dalam PKC sebagian besar didasarkan pada prestasi.
Jika di Indonesia pegawai negeri sipil ditunjuk melalui serangkaian proses ujian, sama halnya dengan di China. Untuk memasuki sistem resmi Partai dan Negara, para kader partai harus lulus Ujian Layanan Sipil China.
Ujian ini terbukti menjadi cara untuk menyamaratakan setiap kader partai yang baik.
Selama ujian, peringkat sosial tidak memengaruhi skor ujian.
Selama lebih dari 1.000 tahun, sejak dari jaman kekaisaran China, untuk melayani di pemerintah Cina, baik yang lahir tinggi maupun yang rendah harus lulus ujian kenegaraan yang memiliki standar khusus.
Beberapa tahun belakangan, ujian di era modern bisa berlangsung selama lima jam.
Adapun mata ujian yang diujiankan termasuk matematika, logika, keterampilan verbal, dan pengetahuan dunia yang canggih.
Jika Anda lulus, promosi kemudian didasarkan pada sistem peringkat 10-tier.
Rata-rata, dibutuhkan 20 hingga 30 tahun untuk pegawai negeri “ke” atau “fu ke” di level pemula untuk menjadi “guo” atau “fu guo” partai atau pemimpin negara.
Sangat sedikit dari para pegawai negeri sipil ini yang bisa mendekati posisi puncak.
Batasan waktu masa jabatan juga diadakan untuk menjaga ide-ide segar terus mengalir di tengah partai.
Dalam PKC, posisi tertinggi dalam tubuh Partai adalah Sekretaris Jenderal, yang mana posisi ini ditentukan oleh para elit di dalam partai dan diputuskan secara internal. Biasanya, Sekjen PKC terpilih selanjutnya akan menjadi Presiden RRT setelah masa jabatan presiden sebelumnya habis. Namun di masa pemerintahan Xi, kini presiden boleh mengampu 3 posisi kepemimpinan sekaligus, yakni di Partai, negara, adn Militer.
Jika dalam Kongres AS, tingkat re-shuffle dalam pemilihan yang diberikan adalah sekitar 10 persen – atau kurang. Bahkan dalam kasus khusus di AS, dimana seorang anggota kongres, Rep. John Dingell dari Michigan, terpilih kembali sebanyak 30 kali dan menghabiskan selama 60 tahun di DPR.
Hal yang sebaliknya berlaku untuk para pemimpin utama dalam PKC.
Tingkat re-shuffle Komite Sentral PKC rata-rata 62 persen setiap lima tahun, menurut Cheng Li, direktur dan rekan senior dari John L. Thornton China Centre di Brookings Institution, “Sebenarnya jauh lebih cepat daripada beberapa negara demokrasi di seluruh dunia.”
Seiring dengan batasan waktu, pemilu mendorong reformasi dan pembaruan, membantu memastikan pemimpin Cina yang baru muncul lebih didasarkan pada kinerja daripada hak istimewa. (CGTN)