Para Perajin Kulit Lumpia Kranggan Terus Diberdayakan

0 256

Siapa yang tidak menge­nal penganan lumpia khas Semarang ini. Jajanan ini termasuk salah satu kuliner paling dike­nal dari Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng). Bahkan, lumpia men­jadi salah satu penganan yang jadi ikon Kota Semarang.

Lumpia ini pada awalnya dilafalkan lunpia. Namun, mengalami sedikit perubahan oleh lidah orang Jawa agar bisa dibaca lebih mudah menjadi lumpia. Di daerah Melayu, se­perti Malaysia atau Singapura, lumpia memiliki sebutan lain yaitu pokpia, yang berasal dari bahasa Khek atau Hakka.

Dalam sejarahnya, kenik­matan rasa lumpia merupakan perpaduan rasa antara Tiong­kok dan Indonesia. Dari semua itu, kulit lumpia merupakan hal yang penting dalam pembuatan lumpia itu sendiri. Orang akan menilai sebuah lumpia dari kulitnya. Dengan melihat lumpia yang dibungkus dengan kulit yang halus akan membuat

selera semakin tergugah.

Lumpia Semarang, ma­kanan sejenis rollade ini berisi rebung, telur, daging ayam, atau udang. Sebagai makanan khas daerah Semarang, keberada­an lumpia mendapat saingan dari berbagai kota. Namun, dia mampu bertahan sebagai ma­kanan khas Kota Semarang, dan semakin digemari masyarakat.

Lumpia Semarang ini terbagi menjadi dua jenis, yai­tu lumpia goreng dan basah. Yang membedakan, kulit lumpianya digoreng atau tidak. Lumpia basah sangat cocok bagi mereka yang menghin­dari makanan gorengan. Kulit lumpia yang digunakan pada lumpia Semarang ini merupa­kan kulit yang dibuat sendiri dengan adonan resep khusus. Lumpia Semarang biasanya disajikan bersama cabai rawit, acar, dan saus.

Untuk mempertahankan nilai historis, budaya, dan ikon Kota Semarang yang syarat dengan peleburan kultur dan wisata kulinernya, Pertamina menggarap Kampung Lumpia, di Kelurahan Kranggan, Ke­camatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Langkah yang dilakukan, antara lain dengan menyulap lokasi tersebut men­jadi “Kampung Bright Gas”.

Taman Desa

Pertamina memugar gapura desa dan mural tembok, serta membangun taman desa yang dibuat sebagai ruang publik terbuka ramah anak. Tak ha­nya itu, tempat usaha yang ada di lingkungan tersebut, seperti warung soto, warung nasi, dan gerobak dorong direnovasi.

Begitu juga dengan rumah-rumah warga, dicat ulang, sedangkan yang paling krusial dari program ini, masyarakat yang notabene pembuat kulit lumpia beralih menggunakan gas nonsubsidi sebagai bahan bakar untuk memasak.

“Ada sebanyak 35 pembuat kulit lumpia yang telah beralih dari LPG subsidi tiga kilogram ke LPG bright gas 5,5 kilo­gram,” kata General Manager PT Pertamina MOR IV Jateng-DIY, Yanuar Budi Hartanto, saat peresmian “Kampung Bright Gas”, di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Sema­rang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Menurut Yanuar, semula to­tal tabung yang digunakan para perajin kulit lumpia sebanyak 210 tabung tiga kilogram per hari. Dengan beralih ke bright gas, kini penggunaan tabung hanya 105 per hari untuk ukur­an 5,5 kilogram. “Dari proses tersebut maka kampung ini berubah nama menjadi ‘Kam­pung Bright Gas Sentra Kulit Lumpia Kranggan’,” ujar dia.

Kampung Bright Gas, se­lain dapat menjadi salah satu ikon wisata Kota Semarang, juga sebagai pusat edukasi masyarakat terhadap barang nonsubsidi. Selain itu juga dapat menjadi getok tular bagi pelaku industri lain tentang penggunaan bright gas yang lebih irit dan aman, karena menggunakan teknologi double spindle valve system.

“Harapan kami, program ini dapat terus berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Hal ini sekaligus menunjukkan ko­mitmen kami dalam member­dayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional kami,” jelasnya.

Staf Ahli Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Pemerintah Kota Semarang, Kuncoro, mengatakan pihaknya berterima kasih atas bantuan Pertamina menggarap sentra kulit lumpia menjadi Kampung Bright Gas. “Bantuan ini turut mendukung program Pemerin­tah Kota Semarang dalam pe­ngembangan sektor pariwisata dan ekonomi,” katanya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.