Jakarta – Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Andhika Raspati mengatakan metode emsculpt yang dilakukan Ashraf Sinclair tidak berhubungan langsung dengan penyakit jantung yang menjadi penyebab kematian sang aktor.

“Kalau kita lihat dalam kasus kematian Ashraf yang dikait-kaitkan dengan Electric Muscle Stimulation (EMS), itu bukan dari EMS karena EMS yang berlebihan pun tak ada hubungannya secara langsung dengan gangguan jantung yang menyebabkan kematian almarhum,” kata dr Andhika pada ANTARA, Selasa.

Penjelasan soal emsculpt

Dokter KONI DKI Jaya itu menjelaskan bahwa metode emsculpt adalah produk yang menggunakan stimulasi otot menggunakan listrik atau electric muscle stimulation (EMS)

“Sesuai namanya, EMS adalah metode di mana otot diberi rangsangan listrik dari luar sehingga bisa berkontraksi,” kata dr Andhika.

Layaknya gerakan biasa, metode EMS adalah memberikan rangsangan listrik layaknya rangsangan otak pada otot untuk diterjemahkan dalam bentuk kontraksi.

“Nah ini bedanya dengan gerakan biasa, EMS menggunakan listrik dari luar.”

Bahaya EMS

Metode EMS berbahaya jika dilakukan dengan dosis yang besar.

Jika rangsangan listrik yang diberikan terhadap otot terlalu banyak maka akan menyebabkan kerusakan jaringan atau sel otot.

“Hal itu dapat menimbulkan nyeri pada otot yang berkontraksi. Bila kerusakan berlangsung ekstensif atau luas maka akan menimbulkan kerusakan yang lebih berat sehingga dapat juga terjadi Rhabdomyolysis, yang nantinya dapat mempengaruhi fungsi ginjal,” kata dia.

Rhabdomyolysis adalah kondisi di mana sel jaringan otot pecah sehingga masuk ke dalam pembuluh darah yang akhirnya harus disaring melalui ginjal yang menyebabkan terganggunya kinerja ginjal.

“Meski demikian saya tidak tahu protokol yg digunakannya seperti apa untuk bisa dikatakan (seperti klaim) 20.000 sit up dalam 30 menit, kalau kita bicara EMS kan ada settingan frekuensi dan intensitasnya, saya tidak tahu bagaimana mereka menggunakannya” kata dr Andhika.

Cara dapatkan tubuh ideal

Meski saat ini banyak klinik yang menawarkan layanan EMS, namun dr Andhika sangat tidak menyarankan metode tersebut dilakukan tanpa latihan fisik lain.

“Saya secara pribadi tak pernah menganjurkan pada pasien untuk melakukan EMS saja tanpa latihan yang lain meski EMS ini merangsang kontraksi otot tapi enggak bisa disamakan dengan latihan konvensional,” katanya.

Latihan fisik, menurut dr Andhika, sebenarnya juga melatih otak.

“Otak juga dilatih bagaimana mengkoordinasikan gerak, bagaimana mengatur keseimbangan tubuh, bagaimana mengatur kontraksi otot tertentu. Itu sebuah efek latihan yang diharapkan juga,” kata dia.

Apalagi jika latihan yang diinginkan adalah latihan kardio yang harus meningkatkan detak nadi.

Jika ingin mendapatkan tubuh ideal, harus melakukan aktivitas fisik dibarengi dengan mengatur pola makan dengan baik.