Jakarta – Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran Prof.
Muradi berpendapat, alokasi anggaran khusus untuk penanganan Papua yang di antaranya
diperuntukkan guna membeli beberapa alat utama sistem senjata (alutsista) harus menyesuaikan
karakter wilayah penugasan.
“Misalnya pembelian untuk helikopter. Nah, helikopternya ya harus sesuai dengan kontur
karakteristik wilayah Papua. Jangan nanti beli, misalnya beli bekas, kalau mau coba beli bekas,
helikopter-helikopter tempur yang biasa dipakai di gurun misalnya, kan dua hal yang berbeda,”
kata Prof. Muradi saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Jumat.
a menjelaskan, pembelian alutsista yang bisa digunakan sesuai dengan karakteristik wilayah
Papua sangat diperlukan mengingat terdapat waktu yang dibutuhkan untuk menunggu
kedatangan alutsista jika alatnya baru, bukan bekas.
“Menurut saya, simpel sebenarnya, pembelian tersebut itu kan tidak menyelesaikan untuk satu-
dua tahun dari sekarang, ya, maka yang diperlukan Papua itu boleh diberlakukan, tetapi perlu ada
prasyarat ya,” ujarnya.
Sementara itu, ia menilai pembelian pesawat nirawak atau drone saat ini lebih diperlukan
ketimbang membeli helikopter maupun pesawat.
“Drone itu kan sekarang sudah bisa dimanfaatkan. Kenapa kemudian itu tidak diprioritaskan
ketimbang beli heli misalnya kan? Saya kira menerbangkan drone untuk surveillance
(pengawasan), untuk tanda kutip bahkan pengeboman misalnya dalam hal terbatas, ya,
penyerangan terbatas, itu bisa dilakukan. Itu jauh lebih murah kalau memang itu mau cepat,”
ujarnya.