Merawat Budaya Leluhur yang Perlu Dijaga dan Dilestarikan

0 10

Singkawang-Harian InHua ,Sekilas terlihat seperti ritual Tatung, tetapi sebenarnya Chao Hun Fan adalah salah satu ritual khas peninggalan masyarakat Tionghoa yang hingga saat ini
masih terus dijaga, dipertahankan dan dilestarikan di Kota Singkawang. Chao Hun Fan merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa yang setiap tahunnya dilaksanakan pada bulan 7 tanggal 15 penanggalan kalender Tiongkok.

Ritual ini bertujuan untuk memberikan dana persembahan makanan dan minuman kepada Leluhur, kerabat keluarga yang telah meninggal dunia,seeta roh-roh yang tidak terurus oleh anggota keluarga yang masih hidup di dunia.

Dalam upacara pemberkatan Chao Hun Fan ini, berbagai macam sesaji di persiapkan. Diantaranya berupa Nasi, mie, beraneka ragam masakan dan minuman, serta buah-buahan yang semuanya itu, khusus dipersembahkan kepada Leluhur dan Arwah Telantar.

Ritual mengundang arwah untuk menikmati persembahan dana makanann seperti ini, boleh punah di beberapa daerah di Indonesia, namun tidak sama dengan Kota Seribu Kelenteng Singkawang yang hingga saat ini masih tetapm mempertahankan dan melestarikan ajang yang memiliki potensi menarik kunjungan wisatawan itu.

Kelenteng Tho Fab Shen Kiun yang terletak di Jalan Pulau Belitung, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang adalah salah satunya myang masih peduli pada pelaksanaan upacara-upacara peninggalan warisan leluhur.

Mereka masih meyakini akan manfaat dari pelaksanaan upacara persembahan dana makanan yang sudah terselenggara sejak zaman dahulu, sehingga mereka masih melestarikan Ritual Zhao Hun Fan.


“Pada upacara Zhao Hun Fan ini, kita melakukan upacara pemanggilan arwah untuk menuju ke tempat yang telah kita sediakan yang sudah tersedia berbagai jenis persembahan dana makanan. Tindakan ini kita lakukan sebagai suatu perwujudan rasa cinta kasih kepada sesama makhluk. Upacara Chao Hun Fan ini merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan setiap tahun, pada tanggal 15, bulan 7 penanggalan kalender Imlek. Upacara ini sudah kami laksanakan selama 60 tahun secara turun temurun,” kata Suhu Chi Su Fan yang dinaungi Dewa Nam Shan Nyi Fab, dikonfirmasi koran Harian InHua.

Disampaikannya, dalam upacara Chao Hun Fan, pihaknya mempersiapkan
sebanyak 50 meja yang dipenuhi berbagai macam masakan yang khusus dipersembahkan kepada arwah. Ia menjelaskan, setiap meja dipersiapkanm sembilan jenis bahan masakan yang dilengkapi dengan peralatan makan seperti piring, mangkok, sendok, sumpit, dan gelas.

“Selain itu kami juga membakar berbagai perlengkapan sembahyang, termasuk uang-uangan kertas dengan tujuan mengantarkan persembahan kepada arwah dan mengeratkan hubungan antar sesama makhluk sembari menunggu ritual msembahyang Shi Ku yang merupakan puncak dari acara sembahyang Zhong Yuan,” ujarnya.

Ritual Chao Hun sebenarnya bisa diagendakan dan dikemas dengan baik, dan harus bersinergi dengan Pemerintah agar jadi bahan pembelajaran tentang kebudayaan Tionghoa yang ada di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan Indonesia.

Chao Hun Fan merupakan upacara pemberkatan terakhir dari Perayaan Sembahyang Zhong Yuan untuk menghantarkan arwah Leluhur, kerabat keluarga, dan Arwah Telantar Kembali ke Alam Akhirat.(Rio Dharmawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.