Mengenang Setahun Sang Maestro Fu Long Swie

Pendiri Ling Tien Kung Perajut Persatuan

0 35

Genap setahun meninggalnya Sang Maestro Fu Long Swie atau Awiek Widjaja pendiri juga penemu gerakan Ling Tien Kung yang diperingati pengurus, pelatih anggota dan keluarga di Lapangan Ole Ole Ngagel Surabaya, padaRabu 8 Januari 2020.

Pengurus Ling Tien Kung

Awiek Widjadja yang akrab dipanggil Laoshi semasa hidupnya menjelaskan dirinya sudah 12 tahun memberikan pelajaran ilmuyang dicarinya selama 20 tahun, bahkan dengan banyak  cobaan yang diterimanya.

“Biarkan kerikil bahkanbatu besar menghalanginya, saya akan tetap berlari bersama Ling Tien Kung. Ingat making people healthy. Ini adalah amal yang dinantikan masyarakat dunia sekalipun,” ujar Laoshi yang bangga melihat Ling Tien Kung telah membentang dari Sumatera hingga Papua dan berharap mendunia.

Kini tercatat 2 ribu lebih sasana dengan 30 ribu anggota Ling Tien Kung tersebar di penjuru nusantara. Seluruh pengurus dan anggota bertekad bersatu mewarisi ilmu Ling Tien Kung dari mendiang Guru Besar Ling Tien Kung,

Awiek Widjadja. Shane Feldo Fuyi Widjadja cucu lelaki pertama Laoshi selaku Dewan Pembina Ling Tien Kung mengaku sangat dekat dengan kakeknya. Ia berharap kawula muda berpartisipasi dalam Ling Tien Kung karena tidak dipungut biaya.

Ling Tien Kung ada di mana mana bahkan ekspansi ke luar negeri, harap Shane, serta membuat wadah baru untuk anak muda.

Acara setahun mengenang Alm. Laoshi Fu Long Swie dimulai pukul 6 pagi. Dibuka dengan melakukan gerakan Ling Tien Kung, dilanjutkan doa, sambutan, nobar film mengenang Laoshi dan menyanyikan mars Ling Tien Kung.

Edy Prawoto Ketua Ling Tien Kung menjelaskan program Ling Tien Kung 2020 menjadikan sasana Ole Ole Ngagel Surabaya sebagai pusat pengembangan. Ling Tien Kung merupakan kegiatan berkualitas dengan gerakan bagus untuk penyembuhan, ujarnya.

Abdullah Nurawi Wakil Ketua 2 merangkap Sekjen Mpet2 menambahkan mudah sekali membentuk sasana hanya dengan 15 sampai 20 orang, kemudian mengikuti pelatihan selama 2 hari tentang ilmu dan filosofi Ling Tien Kung agar tidak salah menyampaikan kepada masyarakat. Ling Tien Kung terapi penyembuhan penyakit ringan maupun berat tanpa obat, tanpa alat dan tanpa ragat, jelas Nurawi yang juga Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

“Laoshi pernah berpesan agar masyarakat tidak mengingat dirinya tapi Ling Tien Kung. Semua orang bisa bergabung dalam Ling Tien Kung yang tidak memandang etnis, budaya dan agama,” terang Nurawi.

Semu Elia Bestari istri mendiang Laoshi mengaku walau dirinya telah berusia 84 tahun tapi tidak malas melakukan gerakan mpet2.

Todoreky Widjadja putra pertama Laoshi menceritakan dirinya sempat sakit punggung parah. Setelah 3 minggu melakukan gerakan mpet2, ia pun sembuh dan mengucapkan terimakasih kepada almarhum papanya dan Ling Tien Kung.

Memasuki tahun 2020, Ling Tien Kung akan menginjak usia 15 tahun. Buku tentang Ling Tien Kung telah ditulis Rolling Awiek Widjadja putra ketiga Laoshi. HUT Ling Tien Kung ke 14, pada 25 Oktober 2019 lalu, diselenggarakan di Monas Jakarta sebagai momentum ‘Merajut Persatuan Kejayaan Ling Tien Kung Menuju Gerbang Dunia’. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.