Ludruk pernah populer menjadi tontonan masyarakat Jawa Timur ketika pendudukan Jepang karena sebagai salah satu sarana perjuangan. Ludruk muncul dan berkembang pada abad ke-16 hingga ke-19. Kepopuleran ludruk atau teater rakyat makin menjadi dengan munculnya Cak Durasim pada 1937. Semasa pendudukan Jepang pada 1942, ludruk menjadi alat propaganda dan Cak Durasim terkenal dengan kidungan atau nyanyian bersyair ‘pagupon omahe doro melok Nippon soyo sengsoro’.
Yang berarti ‘rumah burung dara, ikut Jepang tambah sengsara’ dari syair itulah Cak Durasim ditangkap dan dipenjarakan Jepang hingga meninggal pada 1944. Pagelaran ludruk dibagi dalam tiga genre yakni ngremo atau tarian kepahlawanan, dagelan atau lawakan, dan cerita inti. Ludruk sendiri berasal dari gerakan gela gelo gedrag gedrug atau gelang geleng diikuti kaki menghentak tanah yang dilakukan penari remo.
Sayangnya, keberadaan ludruk semakin lama ditinggalkan masyarakat karena pilihan hiburan yang beragam dan modern. Namun Pemerintah Surabaya peduli keberadaan ludruk dengan menyediakan gedung dilengkapi fasilitasnya juga mengabadikan nama Cak Durasim sebagai pusat kesenian masyarakat dalam bangunan yang hingga kini masih digunakan para pelajar untuk belajar menari.

Rotari Club of Surabaya Darmo, Rotaract Rotary Club Partner Club of Surabaya Darmo berkolaborasi dengan Irama Budaya Sinar Nusantara menggelar ludruk dengan lakon ‘Keminggris’ atau Sok Inggris yang disaksikan masyarakat, hadir pula Indah Kurnia anggota DPR RI komisi XI dan perwakilan Konjen Amerika di Surabaya. Ludruk dimainkan sangat bagus oleh anggota Rotari selama dua jam penuh pada Sabtu malam 27 Januari lalu.
Meimura selaku sutradara menjelaskan jalan cerita yakni alkisah seorang anak bernama Dhea berasal dari Surabaya selama setahun berada di Amerika. Ketika pulang ke tanah air, ia sudah melupakan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah Surabaya. Ia lebih suka menggunakan bahasa Inggris sehingga membuat bingung teman-teman, ayah ibu dan keluarganya. Akhirnya seluruh keluarga berkumpul dan mengingatkan Dhea dengan suguhan aneka makanan khas Surabaya.
“Inti ceritanya sebetulnya kalau ke luar negeri jangan melupakan budaya bangsa dan bahasa sendiri,” jelas Meimura pimpinan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara yang menyukai ludruk sejak kecil. Meimura mengembangkan serta mengajari pelajar SD hingga perguruan tinggi bermain dan mengajak pentas ludruk setiap hari Sabtu di gedung kesenian ludruk milik Pemkot.
Penonton yang melihat dapat menyumbang dana seiklasnya demi keberlangsungan ludruk. Menariknya panitia dari Rotari juga menyediakan suguhan roti dan minuman sambil nonton ludruk yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat Surabaya.
Enny Ambarsari dari Rotari Club of Surabaya Darmo mengatakan kolaborasi bermain ludruk baru pertamakali sebagai bentuk kepedulian terhadap kesenian di Jatim. Dhea dari Rotaract yang memiliki ide menghidupkan ludruk. Dhea adalah duta literasi yang sering menulis di platform internasional.
hi!,I love your writing so much! proportion we be in contact more
approximately your post on AOL? I require an expert on this house
to resolve my problem. May be that is you! Looking ahead to
see you.