Legenda Cap Go Meh di Pulau Kemaro, Palembang

0 1,020

Kata Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien (cap= sepuluh , Go = Lima, Meh = Malam) yang artinya hari kelima belas dari tahun baru imlek, ini berarti perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari sedangkan malam cap go meh adalah malam pertama bulan purnama disetiap tahun baru Imlek.

Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh paling besar diadakan di Singkawang. Banyak wisatawan dalam negeri dan luar negeri datang untuk menyaksikan hasil akulturasi budaya Tionghoa, Dayak dan Melayu. Ternyata, perayaan besar tidak hanya diadakan di Singkawang saja. Dari sisi barat Indonesia, Palembang juga menyimpan sebuah daya tarik tersendiri untuk wisatawan dalam perayaan Cap Go Meh.

Perayaan Cap Go Meh di Palembang berpusat di Pulau Kemaro, Sungai Musi, Palembang. Di pulau Kemaro, terdapat kelenteng Hok Tjing Rio dan pagoda 9 lantai yang hanya dibuka saat malam Cap Go Meh. Menurut data yang ada, tercatat lebih dari 600.000 pengunjung datang pada malam Cap Go Meh.

Jalan menuju pagoda sembilan lantai di kompleks Kelenteng Hok Cing Bio di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan (Kompas)

Pulau Kemaro lebih dikenal karena legenda yang ada tentang kisah cinta Tan Bun Ann, seorang pemuda asal Tiongkok yang menjalin hubungan dengan gadis cantik asal Palembang, Siti Fatimah. Tan Bun Ann berencana untuk melamar Siti Fatimah. Ia menghubungi keluarganya di rumah untuk mengirimkan dana agar bisa melamar Siti Fatimah. Sembilan guci dikirimkan langsung dari Tiongkok dan sampai di tangan Tan Bun Ann.

Ketika melihat isi guci itu, Tan kaget karena hanya sayur sawi busuk yang ia dapati di dalam guci itu. Dengan perasaan marah dan tanpa berpikir panjang, ia melemparkan guci itu ke sungai Musi. Ketika guci yang terakhir akan dilemparkan ke sungai, tiba-tiba guci itu terjatuh dan pecah. Tan terdiam karena ia melihat beberapa emas batangan dari dalam guci.

Tan terjun ke sungai untuk menyelamatkan emas yang telah dilemparkannya ke sungai, namun ia tak kunjung naik ke permukaan air. Mengetahui kekasih hatinya tak kunjung kembali, Siti Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai Musi sebagai tanda cintanya kepada Tan Bun Ann.

Beberapa waktu kemudian, dari tempat sejoli itu terjun muncul pulau kecil yang tak tenggelam saat Musi pasang sekalipun. Warga kemudian menamakannya Pulau Kemaro (Kemarau) karena selalu jauh dari jangkauan pasang Musi. Inilah legenda asal mula pulau seluas sekitar 180 hektar itu.

Kisah ini menarik banyak wisatawan datang, terutama muda-mudi yang menjalin hubungan asmara. Di arah belakang klenteng terdapat sebuah pohon besar yang disebut sebagai “Pohon Cinta”. Dahulu pohon ini belum dipagar, namun setelah dipugar, pohon ini diberikan pagar. Pohon ini menjadi semacam simbol percintaan antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu. Apabila kedua pasangan mengukir nama mereka di pohon tersebut maka akan berlanjut sampai jenjang serius. Tapi ada juga mitos lainnya yang berkembang. Percaya tidak percaya.

Mitos lainnya adalah beberapa orang datang ke Pulau Kemaro adalah untuk mencari pengasih untuk usaha mereka dilancarkan, mereka dapat “meminjam” uang koin dan nantinya akan dikembalikan tahun berikutnya. Hal unik yang saya temuin adalah saat juru kunci Pulau Kemaro bercerita bahwa tradisi mengukur kain makam apabila terjadi perubahan sendiri atau ukuran kain bertambah itu diyakini bahwa pulau itu hidup.

Kompleks Kelenteng dan Pagoda Hok Cing Bio di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan (Kompas)

Untuk menuju ke pulau Kemaro ini ada dua alternatif perjalanan yang bisa dpilih. Pertama melalui jalan darat di dermaga Kalidoni dengan melewati jembatan Ponton yang  khusus dipasang selama berlangsungnya perayaan. Kedua, penyebrangan sungai dengan menyewa  perahu yang  bisa diperoleh di dermaga di bawah Jembatan Ampera dengan tarif Rp. 50.000 hingga Rp. 150.000,  namun, ketika etapi disediakan juga penyeberangan masal menggunakan ponton yang tidak dipungut biaya .

diambil dari berbagai sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.