The news is by your side.

Latte Factor, Pengeluaran Kecil yang Membuat Bokek

82

Rebecca Bloomwood bekerja sebagai wartawan untuk sebuah majalah tentang berkebun. Namun, ia punya mimpi menjadi wartawan majalah fashion bernama Alette. Mimpi itu hampir terwujud, Rebecca mendapat panggilan wawancara.

Dalam perjalanan menuju kantor redaksi Alette, ia terkesima melihat syal berwarna hijau dan ingin membelinya. Tetapi sayang, kartu kreditnya ditolak. Tak putus asa, Rebecca berjalan ke gerai hot dog dan menawarkan untuk membeli semua hot dog dengan cek. Tetapi, si penjual harus memberikan kembalian dalam bentuk uang tunai. Rebecca berbohong, mengatakan syal itu akan menjadi hadiah bagi bibinya yang sakit.

Rebecca adalah tokoh fiksi dalam The Confession of a Shopaholic, novel karangan Sophie Kinsella yang kemudian difilmkan. Rebecca digambarkan sebagai seorang perempuan gila belanja yang punya banyak utang. Rebecca kerap membeli apa-apa yang tidak ia butuhkan.

Meski hanya tokoh fiksi, Rebecca tampak seperti contoh nyata, betapa membeli apa-apa yang tak diperlukan akan membawa kita pada kebangkrutan. Rebecca adalah contoh yang paripurna. Di kehidupan nyata, ada banyak pengeluaran yang sebenarnya bisa dihemat, tetapi tidak kita lakukan. Pengeluaran itu kadang tampak kecil, tetapi jika diakumulasikan, jumlahnya bisa sampai dobel digit.

David Bach, seorang penulis sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor untuk pengeluaran-pengeluaran itu. Latte factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, tetapi sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. Istilah latte diambil Bach dari secangkir kopi. Menurutnya, kopi, adalah pengeluaran skala kecil yang jika dijumlahkan dalam sebulan, totalnya bisa lebih besar dari biaya listrik dan air.

Jika setiap pagi seorang pekerja memiliki kebiasaan membeli kopi di coffee shop, katakanlah harga rata-ratanya Rp30 ribu. Dalam 30 hari, ia menghabiskan Rp900 ribu hanya untuk kopi. Meminimalkan latte factor bukan berarti melarang orang minum kopi. Para pecinta kopi bisa membeli bubuk kopi dan menyeduhnya sendiri, cara ini tentu lebih hemat.

Latte factor tak hanya berwujud kopi, ia bisa macam-macam, mulai dari biaya membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, hingga biaya transfer antar bank. Setiap orang memiliki latte factor-nya masing-masing.

Survei internal yang dilakukan Bank Permata menunjukkan 9 dari 10 orang menggelontorkan lebih dari Rp900 ribu untuk latte factor setiap bulannya. Pengeluaran latte factor terbesar adalah pada kebutuhan sandang yang sekunder, seperti lipstik, sepatu dan baju—hanya untuk menambah koleksi, tas, syal, aksesori, dan lainnya. Angkanya mencapai 58 persen.

Pengeluaran terbesar kedua tercatat pada taksi atau transportasi online yang mencapai 15 persen. Ini adalah jenis pengeluaran yang bisa dihemat jika menggunakan kendaraan umum massa seperti kereta atau bus.

Lalu ada biaya membeli makanan dan minuman ringan yang mencapai 11 persen. Sementara untuk kopi setiap pagi menghabiskan 9 persen dari total pengeluaran latte factor masing-masing responden. Ada pula biaya untuk membeli air mineral, rokok, hingga biaya administrasi bank.

Psikolog Ajeng Raviando menjelaskan tren ini kebanyakan menjangkiti generasi milenial. Ini karena generasi milenial sudah dimanjakan dengan kecanggihan teknologi sejak mereka kecil. Memasak nasi tak perlu pakai periuk, tren remote control, lalu diikuti dengan perkembangan gadget.

“Akibatnya, mereka kerap mengeluarkan uang untuk sekadar memuaskan nafsu atau mengikuti tren yang sedang berlangsung,” katanya.

Ajeng menjelaskan, latte factor muncul karena beberapa alasan. Bisa jadi karena kebiasaan, bisa juga karena impulsive buying atau karena tekanan dari lingkungan. Jika setiap pagi seseorang membeli kopi di kedai kopi dekat kantor, maka secara tidak sadar ia akan selalu mampir ke kedai tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Atau ketika teman-teman sebayanya mengajak untuk nongkrong di coffee shop mahal, maka ia akan mengikuti demi menjaga pertemanan.

Hal itu diamini oleh Hamish Daud, seorang model dan presenter. “Dulu saya sering sekali makan di restoran mewah dan belanja yang tidak terlalu penting. Tanpa disadari, pengeluaran untuk hal tersebut membengkak,” ungkapnya.

Sementara itu, kesadaran masyarakat untuk menyisihkan uang dari penghasilan masih sangat rendah. Survei bertajuk ‘Share of Wallet’ oleh Kadence International Indonesia menunjukkan masyarakat di Indonesia hanya menyisihkan rata-rata 8% dari penghasilannya untuk tabungan.

Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalkan, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung atau bahkan diinvestasikan. (Tirto)

Leave A Reply

Your email address will not be published.