The news is by your side.

Kurniawan Hartowijaya: Dimanapun Berada Menulis Karya Sastra Hingga Dibukukan Dan Meraih Penghargaan

33

Menulis karya sastra tidaklah mudah, demikian pula penulisnya juga tidaklah banyak. Ada beberapa bentuk karya sastra diantaranya puisi, cerpen, novel dan drama yang membuat pembaca maupun pendengar larut dalam penghayatan dan pendalaman karena rangkaian kata yang indah penuh makna serta wawasan dalam kehidupan.

Kurniawan Hartowijaya salah satu sastrawan kelahiran Samarinda yang menempuh S2 Sastra China di Universitas Xiamen. Kurniawan mengungkapkan dalam keseharian dan sesibuk apapun di manapun berada, berusaha meluangkan waktu menulis karya sastra tentang kisah di sekolah, pendidikan, sosial politik dan kehidupan manusia.

Ia menulis sejak duduk di bangku SMP Tahua Samarinda dan karyanya selalu dipajang di Majalah Dinding (Mading) sekolah kala itu. Lulus SMP dan masih berusia belasan tahun, Kurniawan diminta mengajar di sekolahnya, karena mahir berbahasa Mandarin dan termasuk murid yang cerdas. “Saya mengajar di sekolah itu sampai 4 tahun lamanya. Tapi harus berhenti, karena peristiwa 1965. Saya beralih menjadi pengusaha hingga kini. Namun dunia sastra tidak pernah saya tinggalkan,” ujar suami Minarni.

Terus belajar sastra Mandarin dari Radio di Samarinda yang menyiarkan pada malam hari, kemudian ditulisnya lalu berdiskusi bersama kawan sejawat sesama pecinta sastra. “Saat itu semua akses ditutup, tapi saya mendapatkan buku sastra China dari kawan dari Hongkong. Buku itu sangat berguna dan saya pelajari karena cinta dengan sastra versi kuno,” imbuh ayah dari Suryadi Kurniawan lulusan kedokteran.

Waktu pun berlalu, era Gus Dur dibukalah kran budaya Tionghoa, Kurniawan melanjutkan pendidikan S1 hingga S2 di Xiamen. Ia menulis banyak karya sastra dan mendapat penghargaan baik nasional hingga tingkat Asia. Bahkan saat lulus S2 disaksikan 4 ribu siswa, ia mendapat penghargaan atas tulisannya. Selama tinggal di Surabaya, Kurniawan terus menulis karya sastra yang diterbitkan di harian berbahasa Mandarin selain mengajar.

Menulis karya sastra berbentuk puisi ada 4 tahap yang harus dilalui, ujar Kurniawan memberikan tipsnya. “Pertama adalah apa yang kamu pikirkan (mulai), melanjutkan pemikiran tersebut (menyambung), lalu memutar 180 derajat (mengumpulkan) akhirnya ketemu awal dan akhir (merangkai semuanya). Jaman dulu puisi selalu 4 baris, tapi sekarang lebih dipermudah,” jelas kakek 4 cucu yang telah menelorkan 4 buah buku sastra dari kumpulan puisi dan lagu.

Kurniawan menceritakan dirinya juga gemar menulis lagu sejak 15 tahun terakhir dan beberapa lagunya adalah mars perkumpulan. Kini di usia 76 tahun, Kurniawan masih aktif bersastra dan mengelola perusahaan minuman miliknya. Tips sehatnya, setiap hari harus berjalan selama satu  jam dan tidak banyak mengonsumsi nasi lalu menggantinya dengan rebusan kentang dan labu kuning.

Prinsip hidup lelaki sederhana ini saling menghormati karena hidup di bumi tidak sendiri. Terhadap keluarganya ia selalu mengingatkan akan asal usul dan ajaran leluhur di Tiongkok yakni saling menghormati, membantu sesama dengan tulus iklas, mengerti kebaikan sendiri dan orang lain, dan memiliki rasa malu. (Avr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.