Komunitas Nol Sampah Gelar Workshop Membuat Ecobric K Seni Olah Limbah Plastik Menjadi Barang Multifungsi
Perihatin dengan meningkatnya sampah plastik, Komunitas Nol Sampah Surabaya menggelar workshop pembuatan ecobrick kepada masyarakat luas di acara Helvi Expo 2018 di Grand City (19/1) lalu. Sebelumnya Wawan Some yang menjabat sebagai koordinator Komunitas Nol Sampah menjelaskan jumlah sampah plastik yang dibuang masyarakat Surabaya, Indonesia dan dunia hingga dampaknya terhadap lingkungan serta kehidupan laut.
Jumlah penduduk Surabaya saat ini tercatat 3,020.305 jiwa menghasilkan sampah 2,913,18 ton. Sampah yang masuk ke TPA Benowo diangkut 300 truk atau 1200 hingga 1500 ton perhari. “Tidak banyak masyarakat yang mengetahui sampah itu dibuang kemana. Yang ditumpuk 74%, dibakar 2% sisanya dipilah kembali. Berdasarkan riset 2009 setiap orang menghasilkan sampah 700 kantong plastik pertahun,” jelas Wawan.

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan di Indonesia tercatat 480 perusahaan air kemasan, pada 2012 menghasilkan 19,33 Milyar Liter yang membutuhkan 733.000 ton plastik pet dan 38.000 ton plastik HPDF. Tercatat 43,4% dari 6 juta ton produksi plastik di Indonesia digunakan industri kemasan. Jumlah sampah Indonesia pada 2019 diperkirakan mencapai 68 juta ton, sampah plastik 9,52 juta ton atau 14%. Indonesia penghasil sampah plastik kedua dunia yakni 187,2 juta ton setelah Tiongkok yang mencapai 262,9 juta ton.
Penguraian plastik membutuhkan waktu seribu tahun. Bila dibakar akan menimbulkan polusi karena mengandung zat dioksi. Pemerintah memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar pada 2 Februari 2016, BPS mencatat impor plastik menurun 1,9% atau 11,03juta USD dari sisi volume turun 15.610 ton menjadi 340.552 ton.

Wawan mengajak masyarakat diet plastik yakni dengan mengganti tempat minum air kemasan yang dibuang dengan membawa minum botol isi ulang, mengganti tas plastik dengan tas ramah lingkungan, membawa tempat makan yang bisa dipakai berulangkali, mengganti popok bayi sekali pakai dengan yang dapat dipakai berulangkali dan stop penggunaan Styrofoam.
Plastik merupakan molekul polister yang sulit diurai tanah secara alami. Cara mengolah plastik dengan mendaur ulang salah satunya dengan ecobrick yakni bata ramah lingkungan. Cara membuat ecobrick sangat mudah, jelas Wawan. Yakni dengan memasukkan plastik kering ke dalam botol plastik bersih. Setelah botol-botol plastik terisi plastik bekas bungkus mie instan, kopi sachets, dan kantong plastik maka cukup direkatkan dengan lem. Satu botol plastik 600 ml dapat diisi dengan 250 gr plastik kering setara dengan 2500 bungkus makanan kemasan plastik.
Ecobrick disebut pula seni mengolah sampah berkelas. Dengan kerajinan ecobrick mampu mengurangi sampah plastik, imbuh Wawan. Ecobrick digagas pertamakali oleh Russell Maier asal Kanada, kerena jumlah sampah plastik yang terus meningkat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Sampah plastik yang mengapung di lautan pun ditemukan membentuk sebuah pulau baru, demikian pula ikan di Pasifik Utara menelan 12 ribu hingga 24 ribu ton sampah plastik per tahun. “Diet plastik dan membuat ecobrick yang multi fungsi menjadi meja kursi membantu mengurangi sampah plastik,” tutur Wawan. (April Lie)










