Kemeriahan 10 Negara Ikuti Surabaya Cross Culture International 2018 Ajang Pertunjukkan Budaya Dunia Penuh Persahabatan

0 231

Surabaya Cross Culture International bertema Folk Art menjadi agenda rutin yang digelar Pemkot Surabaya yang kali ini diikuti 210 peserta dari 10 negara dan 3 kota di tanah air. SCCI 2018 digelar mulai 8 hingga 19 Juli tak hanya parade tari hingga tampilan seni tapi juga mengadakan workshop. Beragam tarian khas ditampilkan para peserta dari berbagai negara dan daerah di tanah air dalam acara pertukaran budaya tersebut.

Adapun negara yang menjadi peserta SCCI 2018 diantaranya; China, Korea Selatan, Polandia, Mexico,  Rumania, Rusia, Bulgaria, Jerman, Selandia Baru, dan Uzbekistan. Sedangkan dalam negeri tampilah kesenian dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kota Singkawang dan Kota Banjarmasin.

SCCI 2018 diselenggarakan ke 14 kalinya adalah ajang bertemunya hasil karya seni budaya banyak negara di dunia. Adanya Surabaya Cross Culture International menjadikan Surabaya sebagai etalase budaya dunia dari Asia dan Eropa, sehingga masyarakat dapat melihat dan menikmati sajian tari dari berbagai negara. Demikian pula sebaliknya, delegasi mancanegara dapat mengetahui kebudayaan di Indonesia.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan SCCI bertujuan menarik wisatawan datang ke kota pahlawan dan mengharapkan Surabaya menjadi salah satu tujuan kota wisata. Persiapan acara SCCI 2018 dilakukan Pemkot Surabaya secara matang dan jauh lebih baik, agar wisatawan luar negeri datang bertandang.

SCCI tidak hanya sekedar pertunjukkan pertukaran budaya namun juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi, diharapkan pula Surabaya sebagai daya tarik periwisata melalui pertunjukkan seni tingkat dunia. Salah satunya, peserta spesial dari Uzbekistan kebanyakan adalah anak-anak yang berhasil menjuarai seni budaya tingkat dunia.

Pada awal pembukaan 8 Juli lalu ditampilkan kolaborasi Tari Remo dan Tari Yosakoi Jepang dengan peserta 1.260 orang yang digelar di halaman Balai Kota. Kemudian 15 Juli digelar parade, dimana para penari menunjukkan kebolehannya kepada masyarakat Surabaya di jalan Tunjungan. Semua delegasi tak hanya ditampilkan di panggung Balai Kota tapi juga di sejumlah mall.

Sedangkan workshop SCCI diselenggarakan di Gedung Siola milik pemerintah, menghadirkan narasumber para pelaku seni dari luar kota dengan tujuan menjadi ajang sharing dan transfer ilmu budaya bagi pelaku seni dan masyarakat pecinta seni.

Pada malam Welcome Dinner Cross Culture di halaman Balai Kota, Tri Rismaharini menyuguhkan aneka makanan khas Surabaya seperti rawon, bakso hitam, soto, sate, dan kilil lontong. Risma berharap tamu delegasi dapat menikmati sajian makanan tradisional yang memiliki rasa berbeda sekaligus mempopulerkannya.

“Kami berharap para tamu delegasi bisa kerasan dan betah di Surabaya serta menjadikannya sebagai rumah kedua,” tutur Risma yang mengakui peserta SCCI semakin banyak menunjukkan Surabaya aman dan tahun depan akan lebih banyak lagi yang hadir. Risma lantas mengajak anak-anak peserta dari dalam negeri maupun luar negeri menyanyi bersama lagu Twinkle Little Star. Termasuk Ibam seorang anak penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan menyanyi. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.